Menjadi Manusia Fitri Pasca Ramadhan

Oleh: Dr. H. Ade Mujhiyat (Pengurus Pusat IKADI)

INIPASTI.COM, Ramadhan tahun 1442 H telah berlalu dari kita. Menyisakan banyak kenangan dan amalan-amalan kebaikan yang telah kita tunaikan. Kini, kita berada di bulan Syawwal. Bulan yang penuh dengan kebahagiaan rohani, kelezatan samawi dan kenikmatan spiritual, usai merayakan Iedul Fitri. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 185: “… dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Dengan usainya Ramadhan, bukan berarti putus hubungan kita dengan Allah Ta’ala dan berakhir beribadah kepada-Nya. Tapi justru bagaimana kita berupaya melestarikan dan meningkatkan amal-amal shaleh setelah Ramadhan, melanjutkan dan meningkatkan nilai taqwa setelah Ramadhan, sebagai capaian tujuan utama puasa, yaitu: La’allakum Tattaqun (agar menjadi orang-orang bertakwa kepada Allah SWT).

Inline Ad

Pada bulan ini kita kembali kepada kebersihan fitrah, setelah disucikan dengan beragam amal ibadah Ramadhan. Sehingga, keluar dari madrasatun ramadhaniyyah (sekolah ramadhan) dengan kesucian jiwa, kebeningan pikiran, kekhusyu’an ibadah, dan semangat ihsan yang dapat menjadikan kita sebagai insan-insan cerdas yang merasakan muraqabatullah (kedekatan dengan Allah SWT).

Baca Juga:  Reaktualisasi Nilai-Nilai Anti Korupsi melalui Upaya Preventif

Sesungguhnya, Ramadhan disyariatkan hanya untuk mentraining jiwa, hati dan perilaku serta merevitalisasinya melalui ‘ibadah, tha’ah, taqarrub yang dapat memupuk solidaritas sosial individu-individu Muslim. Tidak akan merasakan hasil Ramadhan dan manisnya hari ini, selain mereka yang menjalankan pesan-pesan Ramadhan dengan baik, sebagai sikap aslama hanifa, indikasi ketundukan dan kepatuhannya kepada Allah Rabb semesta alam.

Itulah hakekat Iedul Fitri, kembali kepada fitrah, sikap lurus tidak menyimpang, yang merupakan sikap dasar manusia. Hidup sesuai fitrah, sebelum ada intervensi eksternal dirinya yang mengganggu stabilitas kepribadiaannya yang fitri:

“Setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), kedua orangtua nyalah yang menjadikannya Nasrani, Yahudi atau Majusi” (HR. Bukhori dan Muslim).

Sebagaimana juga seluruh alam semesta yang lurus lagi tidak menyimpang dari aturan-aturan Ilahiah, firman-Nya:

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan Hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. AliImran: 83)

Baca Juga:  OPINI: Tegal Tingkatkan Ekspor Bunga Puspa Bangsa

Iedul Fitri yang telah kita rayakan adalah hari kembali ke Fitrah, kembali kepada al-Haq (kebenaran), kembali kepada Islam dengan seluruh ajarannya secara utuh dan menyeluruh. Sebagaimana Firman ALLAH SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”  (QS. Al-Baqarah :208).

Manusia fitri inilah yang dikehendaki Allah SWT wujudnya sebagai hasil dari ‘Madrasah Ramadhan’ (Sekolah Ramadhan), yaitu manusia berkualitas multi aspek kehidupan, sumber daya manusia bernilai ganda, cerdas nan indah; manusia yang disinyalir Allah SWT dalam sebuah kalimat “La’allakum Tattaqun”. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk terus konsisten beribadah kepada Allah SWT pada bulan-bulan berikutnya pasca Ramadhan. Sehingga jiwa-jiwa fitri yang bertakwa selalu hadir dalam aktivitas kehidupan kita. Aamiin…

Baca Juga:  Aksi 4 November 2016 (Gambaran Kekecewaan Sosial)

 

Oleh: Dr. H. Ade Mujhiyat
(Pengurus Pusat IKADI)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.