Menko Muhadjir: Jangan Mimpi Indonesia Bebas dari Bencana

INIPASTI.COM – Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan Indonesia berada di wilayah cincin api atau ring of fire. Kata Muhadjir, hal itulah yang membuat Indonesia tidak bisa terbebas dari bencana.

“Rakornas BMKG 2021 dengan tema antisipasi dan kesiapsiagaan menghadapi La Nina dan hidrometeorologi ini saya kira temanya sangat tepat dan memang kontekstual dengan persoalan yang sekarang kita hadapi bersama.

Inline Ad

Dilansir dilaman Detiknews, kondisi Indonesia berada di cincin api atau ring of fire, maka bencana di Indonesia adalah keniscayaan.

Jadi jangan bermimpi suatu saat Indonesia bebas bencana selama kita masih berada di wilayah yang sekarang bernama wilayah Nusantara ini,” kata Muhadjir dalam dalam Rakornas Antisipasi La Nina yang disiarkan di kanal YouTube BMKG, Jumat 29 Oktober 2021.

Muhadjir menerangkan takdir Tuhan telah menggariskan Indonesia untuk hidup berdampingan dengan bencana. Kata Muhadjir, hal itu harus tetap disyukuri dan disikapi positif untuk lebih waspada terhadap bahaya yang mengintai bangsa Indonesia.

“Maka kita memang sudah menjadi takdir Allah SWT dari Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa kita memang ditakdirkan jadi bangsa yang hidup di antara bencana dan ini harus kita syukuri, harus kita sikapi secara positif, agar kita selalu waspada justru akan semakin mencerdaskan kita, membikin kita selalu waspada dalam berbagai macam kemungkinan bahaya yang mengintai bangsa Indonesia ini,” ungkap Muhadjir.

Dari catatan, Muhadjir menjelaskan sudah ada 2.148 kejadian bencana yang terjadi dari awal tahun sampai 26 Oktober 2021. Dari bencana yang terjadi itu, 98 persen merupakan bencana hidrometeorologi.

“Sepanjang 2020 itu, sudah tercatat jumlah kejadian bencana sebanyak 4.650 kejadian dan di tahun 2021 sampai 26 Oktober 2021 telah terjadi 2.148 kejadian bencana di mana 98 persen adalah merupakan bencana hidrometeorologi,” tuturnya.

Muhadjir mengingatkan semua pihak tidak fokus pada saat darurat atau pascabencana saja. Lanjut Muhadjir, seluruh pihak juga harus mendorong masyarakat selalu siaga mengantisipasi bencana.

“Penanggulangan bencana hidrometeorologi harus jadi fokus bersama tidak hanya saat darurat atau pasca bencana namun juga pada tahap prabencana atau kesiapsiaagan. Khusus tahap prabencana upaya antisipasi dan kesiapsiagaan harus terus kita dorong,” tuturnya.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan prakiraan curah hujan akibat fenomena La Nina. BMKG menyebut fenomena La Nina pada level moderat sering dimulai pada musim hujan sampai Februari 2022.

“Demikian juga pusat layanan iklim dunia lainnya, seperti di Amerika oleh NOAA, di Australia oleh BoM, dan di Jepang oleh Japan Meteorological Agency, memperkirakan bahwa La Nina ini setidaknya akan terjadi hingga level moderat hingga Februari 2022,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam Rakornas Antisipasi La Nina yang disiarkan di kanal YouTube BMKG.

Dwikorita mengatakan, dari data BMKG, fenomena La Nina ini menyebabkan terjadinya peningkatan curah hujan bulanan di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur pada November mendatang. Akumulasi curah hujan bulanan dapat meningkat 70 persen (syak/detiknews)

Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.