INIPASTI.COM, Oleh: M. Chairul Arifin,
(Purnabhakti Kementerian Pertanian RI)
Pertengahan bulan ini tepatnya 15 Nopember 2022, penduduk dunia telah menembus angka 8 miliar jiwa. Pencapaian angka ini disatu sisi merupakan tonggak yang harus dirayakan tetapi disisi lain mengandung makna sekaligus tantangan.dan tanggung jawab yang bakal dipikul oleh semua pihak untuk meningkatkan kualitas hidup penduduknya. Sesuai apa yang dikatakan oleh Antonio Gutterees Sekertaris Jenderal PBB bahwa tonggak sejarah ini merupakan kesempatan merayakan keragaman dan kemajuan sambil mempertimbangkan tanggung jawab bersama umat manusia untuk planet ini.
Dari catatan demografi dunia pertambahan penduduk 1 miliar membutuhkan waktu 10 tahun sejak 2012. Kenaikan ini sedikit lebih cepat dengan pertambahan penduduk 1 miliar sebelumnya, saat penduduk bumi 6 milliar di tahun 1999. Selanjutnya pertumbuhannya melandai , mencapai 9 miliar ditahun 2037.
Pertambahan penduduk 8 milliar jiwa berarti penduduk dunia bertambah hampir 3 orang per detik, 228.000 jiwa per menit, dan 83 juta per tahunnya. Saat Indonesia Emas tahun 2045 kelak jumlah penduduk bumi bisa mencapai 10 milliar jiwa. Proyeksi kependudukan Indonesia menurut Bappenas. kelak di tahun 2045 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan berjumlah 319.juta jiwa, artinya peningkatan 100 juta penduduknya terjadi dalam siklus 22 tahunan sejak tahun 2000. Jumlah penduduk yang cukup besar ini, menempatkan posisi Indonesia rangking ke 4 dunia dalam hal jumlahnya sesudah Cina, India, dan Amerika. Jumlah penduduk yang besar menyebabkan tekanan pada bumi sebagai ekosistem kehidupannya.
Dalam struktur kependudukan perlu diwaspadai kenaikan kebutuhan pangan, papan, sandang dan kenaikan yang significan penduduk usia lanjut (diatas 60 tahun) yang harus diantisipasi untuk keberlangsungan hidup umat manusia kelak.
Tujuan penulisan ini selain mengingatkan tentang jumlah penduduk bumi yang ke 8 miliar jiwa, juga ingin menguak tabir tentang dampak dari pencapaian jumlah penduduk yang besar terkait kebutuhan pangan, dan penyakit dengan secara khusus dampaknys terhadap lansia atau warga senior Indonesia.
Dampak dan Tantangan
Terhadap kebutuhan pangan
Pertambahan penduduk jelas akan menambah pangan bagi penduduk. Kebutuhan kalori, protein nabati dan hewani sebenarnya tersedia cukup dan mudah diakses penduduk suatu negara. Dengan semakin baiknya kualitas hidup maka terjadi penurunan prevalensi stunting, wasting dan under weight secara signifikan. Tapi peluang untuk terjadinya gizi lebih atau salah gizi akan semakin tinggi prevalensi nya. Kasus obesitas saat ini di Indonesia menunjukkan 1 dari 5 orang Indonesia mengalami obesitas. Terus naik prevalensia sehingga terakhir 1 dari 3 orang dewasa mengalami obesitas
Indonesia akan menghadapi masalah pangan. Walakin dari aspek ketersediaan tercukupi, tetapi impor pangan masih cukup memprihatinkan untuk banyak komoditi pangan yaitu komoditas gula, kedelai, bawang putih, garam. dan gandum, daging sapi dan susu. Selain itu pemerintah dituding merambah luasan hutan untuk penanaman komoditas lahan usaha tani untuk pertanian dalam rangka ketahanan pangan dengan model kawasan food estate yang dapat menambah pemanasan global dan perubahan iklim karena merubah bentang alam.
Timbulnya wabah penyakit menular pada hewan dan manusia
Pertambahan penduduk menimbulkan konsekwensi kebutuhan lahan untuk pemukiman, berbagai iinfrastruktur pertanian dan industri. Kebutuhan lahan menimbulkan konversi dan degradasi lahan. Seperti saat ini 70% lahan sudah rusak. Kejadian konversi yang sudah mencapai lebih dari 100 ribu ha lahan pertanian pertahun yang beralih fungsi sehingga menyebabkan terancamnya ketersediaan pangan penduduk.
Disisi lainnya,kejadian perambahan hutan menimbulkan hilangnya keragaman dan rusaknya ekosistem alam. . Menurut data dari Departemen Ekonomi dan Sosial PBB mencatat bahwa prilaku manusia dalam memenuhi kebutuhannya seringkali tidak berkelanjutan sehingga memicu pelbagai degradasi lingkungan termasuk perubahan iklim, pemanasan global, deforestrasi dan hilangnya keanekaragaman hayati. Antara tahun 1970 dan 2020 , saat populasi manusia naik dua kali lipat , populasi satwa liar anjlok sekitar 60% . Sejak 1990 diperkirakan 420 juta ha hutan hilang akibat konversi lahan dan luas hutan primer dunia berkurang lebih 80 juta ha.
Perambahan hutan dan ekosistemnya menyebabkan berbagai satwa liar semakin dekat dengan manusia. Kedekatan ini dapat menimbulkan berbagai penyakit baru dan eksotik pada manusia. Sirkulasi virus, bakteri dan berbagai parasit yang tadinya berputar di sekitar hutan telah melompat pada inang manusia. Saat ini hampir 70% wabah penyakit menular pada manusia disebabkan karena hewan. Hewan dimanfaatkan oleh manusia untuk konsumsi, hewan hobi yang dipelihara di pemukiman. Wabah penyakit Ebola, Zikka, flu burung , $ARS, CovidCovid, cacar monyet, leptosprosis dan wabah lainnya adalah contoh dari perambahan hutan yang tak terkendali. .
Berubahnya warga Senior
Fenomena yang menarik disamping struktur demografi yang ditandai oleh bonus demografi, artinya penduduk usia produktkf lebih banyak dari usia non produktif di tandai pula dengan peningkatan warga senior atau usia lanjut ( lebih dari 60 tahun). Saat ini warga senior tersebut porsinya 10,4% dari jumlah penduduk keseluruhan. Proporsi ini sudah melebihi standar yang ditetapkan oleh Badan Kependudukan Dunia yaitu 10%. Sehingga Indonesia sudah memasuki era ageing populatiin
Pada tahun 2000 warga senior proporsinya baru 7,4%. Sepuluh tahun kemudian yaitu tahun 2010 naik menjadi 9,8%. Kemudian di proyeksikan bahwa warga senior ini porsinya menjadi 14,6% tahun 2030, naik lagi menjadi 16,6% di tahun 2035. Pada tahun 2040 porsinya diperkirakan sudah mencapai 18,3% dan pada waktu Tahun Emas 2045 kelak porsinya mencapai mendekati 20% atau tepatnya 19.9%. Berarti seperlima dari jumlah penduduk Indonesia akan dihuni dan diisi oleh warga senior atau lansia.
Bagaimana nasib para senior saat ini. Menarik untuk dicermati hasil Survei dari Life Insurance Market Association ( LIMRA, 2020) yaitu dari 100 orang senior yang disurvei dan digambarkan hasilnya dalam bentuk segiga sama sisi. Ternyata bagian alas atau dasar segitiga diisi oleh 49% senior yang hidupnya tergantung dari anak/orang lain. Di atasnya diisi oleh 29% yang meninggal dunia, kemudian 12% warga senior yang mengalami kegagalan dan kebangkrutan dalam berusaha, 5 % mereka yang terpaksa harus bekerja mencari nafkah. 4% dikategorikan mampu dan masih mandiri serta hanya 1% saja yang tetap kaya. Data ini menggambarkan paling tidak nasib warga senior dimasa yang akan datang kelak.
Hampir semua warga senior itu memiliki penyakit degenaratif yaitu stroke, penyakit jantung dan “ibu” dari segala macam penyakit diabetes mellitus. 22,48% sakit tahun 2021 menurut BPS 1 dari 5 orang mengalami sakit dalam sebulannya. Pelayanan kesehatan dan tingkat pendidikan yang semakin membaik mengakibatkan Usia Harapan Hidup meningkat. Saat ini sudah mencapai 73 tahun. Semakin tingginya harapan hidup ditopang pula dengan menurunnya tingkat fertilitas dan kelahiran. Apakah warga senior ini merupakan beban atau potensi? Kalau warga senior ini tetap produktic maka dia menjadi potensi yang dapat didaya gunakan.
Alternatif Solusi
Secara umum pendekatan pembangunan harus sudah mengalami perubahan orientasi. Manusia seharusnya menjadi bagian dari solusi bukan menjadi masalah. Jumlah penduduk yang besar tidak sekedar deretan angka kalau dibiarksn begitu saja. Mereka butuh akses kesehatan, pangan dan pendidikan yang berkualitas
Oleh karena itu perencanaan harus sudah berganti menjadikan manusia sebagai subyek. Dengan perkataan lain pembangunan yang berpusat pada manusia (hujan centered development) yang utama. Tidak sekedar peningkatan produksi komoditas. Karena pada hakekatnya pembangunan itu bertujuan untuk kesejahteraan seluruh penduduk secara imparsial tidak eksklusif.
8 milliar jiwa penduduk bumi akan mengisi bumi kita yang semakin tua. Karenanya harus disikapi secara lebih cermat dan bijaksana dampak dan tantangannya.
Depok ,Nopember 2022
M.Chairul Arifin










