Oleh : Ahmad Usman
Dosen Universitas Mbojo Bima
Inipasti.com, Kehidupan di dunia ini mungkin akan berakhir dengan rengekan. Ketimbang jeritan. Dunia ini mungkin akan terjerumus kedalam masa depan yang suram. Diledakan oleh konflik. Menderita ketidakadilan, yang dengan nekad mencoba mencari. Bentuk kehidupan yang lebih berarti (Eliot, 1982).
Apa makna ungkapan Eliot? Saat ini kita memerlukan pemahaman tentang perubahan sosial. Pandangan para pemikir masa lalu bermanfaat dan dapat dijadikan landasan, baik untuk memahami dunia sekarang maupun untuk menyusun perspektif baru masa yang akan datang. Namun demikian, beberapa tulisan masa lalu cenderung mengaburkan arti perubahan sosial itu sendiri, dan dilandasi asumsi-asumsi yang terbukti keliru. Teori-teori masa lalu dibangun berdasarkan asumsi-asumsi di atas mitos tentang perubahan. Mitos-mitos ini merintangi dan menghalangi kita dalam menyusun perspektif baru tentang perubahan sosial (Setiawan, 2008).
Perubahan sosial tidak terjadi sebagaimana zat kimia yang ketika 1 mol unsur Na (misal) yang bermuatan positif direaksikan dengan 1 mol unsur Cl yang bermuatan negatif akan selalu menghasilkan senyawa NaCl yang bersifat netral. Perubahan sosial juga tidak bisa disamakan dengan rumus hitung-hitungan mutlak seperti yang kita pelajari bersama dalam pelajaran matematika, di mana saat bilangan 11 ditambahkan dengan bilangan 0 hasilnya akan tetap 11. Perubahan sosial melibatkan unsur-unsur yang lebih kompleks, yang melibatkan masyarakat dengan sejumlah pemikiran (termasuk adat, kebiasaan, dan mitos-mitos) dan perasaan yang melingkupinya, serta ragam aturan yang dianggap sakral oleh mereka. Itulah perubahan sosial. Bukan sekadar perubahan dalam skala individu, namun dalam skala masyarakat beserta tatanannya (Aloj Srjna dalam Subair, 2020).
Dalam sebuah siklus kehidupan sosial, seringkali ditemukan berbagai gejolak kehidupan masyarakat yang biasanya memicu berbagai tindakan dari masyarakat, bahkan bisa menimbulkan sebuah tindakan anarkis akut. Hal tersebut disebabkan karena adanya sebuah kesalahan berpikir masyarakat yang masih memegang teguh mitos dalam menjalani kehidupan sosial. Mitos dan keyakinan yang telah mentradisi di sejumlah wilayah, akan menghambat perubahan, baik perubahan individu maupun masyarakat.
Perubahan merupakan ekspresi yang berkaitan dengan struktur, seperti nilai, norma, dan fenomena kultural. Yang dalam artian luas perubahan juga dapat diartikan sebagai modifikasi atau variasi tiap-tiap aspek proses sosial, pola sosial, dan bentuk-bentuk sosial (Moore dalam Ardani, 2023).
Ragam Mitos Perubahan Sosial
Mitos bukannya tidak logis sebagaimana dalam konsepsi modernis. Sebagai hasil konstruksi akal budi, mitos perlu didekati atau dibaca (dimaknai) dengan cara tertentu. Bagi akal budi kritis, mitos memang bertentangan dengan tujuannya membangun cara berpikir akademis (Awuy, 2000). Mitos memiliki arti penting, dia bukanlah sekadar legenda mengenai asal-usul terjadinya segala sesuatu dan cerita tentang kesaktian para dewa-dewi atau para leluhur. Mitos membentuk cara berada manusia.
Beberapa ahli mempunyai pandangan yang berbeda dalam melihat atau mengkaji masalah perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Perbedaan tersebut melahirkan beberapa model cara pandang dalam menganalisis perubahan. Kaitan dengan perubahan sosial, ada beberapa mitos perubahan sosial yakni mitos deviant (penyimpangan), mitos tentang trauma, mitos perubahan satu arah dan pandangan utopia, dan menimbulkan krisis (Usman dan Kadir, 2020).
Pertama, mitos deviant (penyimpangan)
Mitos deviant (penyimpangan) berawal dari pandangan bahwa masyarakat itu stabil, statis, dan tidak berubah-ubah. Kalaupun terjadi perubahan, maka perubahan itu adalah penyimpangan dari sesuatu yang stabil. Mitos ini berkembang dari teori ilmu sosial yang disebut structural functionalism (fungsionalisme struktural). Menurut teori ini, kalau mau melihat perubahan sosial, kita harus mau melihat struktur dan fungsi masyarakat. Jadi kalau ada dinamika sosial, maka harus ada statistika sosial. Analisis fungsional bisa dilakukan, misalnya dalam memandang persoalan kemiskinan. Kemiskinan meskipun ia tidak diinginkan, namun secara fungsional tetap diperlukan. Orang miskin diperlukan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan berbahaya yang tak mungkin dilakukan orang kaya, orang miskin memberikan pekerjaan kepada Lembaga Swadaya Masyarakat yang meneliti prospek kemiskinan di suatu negara, dan lain-lain. Jika analisis fungsional ini terus-menerus dilakukan dan dijadikan rujukan, kita bisa menjadi pro status quo. Kita melihat perubahan tidak lagi sesuatu yang diharapkan. Misalnya pelacuran, akan dianggap memiliki fungsi untuk mencegah suami-suami yang akan berpoligami.
Pandangan lain bahwa perubahan kadang dianggap sebagai perkosaan terhadap keadaan normal. Mitos ini muncul karena orang tidak memahami tentang perubahan sebagai “hal yang selalu melekat di dalam sesuatu, termasuk dalam kehidupan sosial”. Pemahaman mendalam mengenai struktur tidak menjamin pemahaman mengenai perubahan.
Sejumlah besar pemikiran sosiologis membayangkan perubahan sosial dalam arti sebagai perkosaan terhadap keadaan normal. Artinya keadaan normal peristiwa dalam masyarakat adalah terus-menerus, institusi atau nilai-nilai atau pola-pola kebudayaan dibayangkan stabil sepanjang waktu. Sebagai contoh Auguste Comte meskipun mengakui peranan manusia dalam kemajuan sosial, ia menurunkan peranan tersebut kepada salah satu alat perombak intelektual. Utopia yang menurut Comte adalah salah satu bentuk masyarakat ilmiah, akan muncul jika orang berpikir ilmiah. Peranan sosiolog adalah menggiring masyarakat untuk berpikir ilmiah.
Pemahaman mengenai perubahan adalah prasyarat untuk memahami struktur analisis aspek struktural dari sistem (masyarakat) menunjukan bahwa keseimbangan (equiliberlium) sistem hanya dapat dipertahankan melalui perubahan tertentu di dalam sistem tersebut.
Contoh: masyarakat China dalam pandangan Hegelian, telah melampaui tingkat kemandegan struktur sosial, tak dapat dipertahankan lagi. Jelas bahwa sejarah China mengalami pergolakan atau penyimpangan, perubahan tiba-tiba dan perubahan bertahap, misalnya di zaman revolusi, China sangat berubah bersama dengan masyarakat. Contoh lainnya: Auguste Comte mengakui peranan manusia dalam kemajuan sosial, ia menurunkan peranan tersebut kepada salah satu perombak intelektual.
Mitos penyimpangan tentang perubahan sosial dihubungkan dengan keberadaan perspektif struktural fungsional. Secara singkat perspektif struktural fungsional ini mempunyai pandangan bahwa masyarakat sebagai suatu sistem sosial memiliki tatanan sosial yang relatif stabil dan terintegrasi. Kondisi masyarakat yang relatif teratur, stabil, dan terintegrasi secara terus-menerus merupakan (dianggap) sebagai suatu kondisi normal, sedangkan perubahan merupakan peristiwa yang dapat digolongkan ke dalam penyimpangan sosial. Akibatnya, perspektif ini mengabaikan arti penting perubahan dan lebih menekankan pada analisis struktur daripada proses (Ruswanto, 2009).
Menurut pandangan struktural fungsional, untuk memahami perubahan sosial terlebih dahulu diperlukan pemahaman terhadap masyarakat dalam kondisi statis (analisis struktur). Fenomena perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat biasanya dianalisis dalam batas-batas struktural yang lebih sempit (Lauer, 2003).
Lauer (2003) dalam bukunya yang berjudul Perspectives on Social Change (Perspektif tentang Perubahan Sosial) menjelaskan, seperti berikut. “Pemahaman mendalam mengenai struktur tidak menjamin pemahaman mengenai perubahan. Ini dapat dijelaskan dari cara memperlakukan perubahan, yang ditempatkan di pinggiran sosiologi selama decade dominasi perspektif struktural fungsional. Selama dekade ini pula, analisis struktural semakin diperhalus ketimbang berubah ke studi tentang perubahan. Analisis struktural hanya mengaburkan, tidak menjelaskan inti permasalahan perubahan dalam sistem sosial dan mengecilkan perhatian terhadap perubahan.”
Dalam pandangan struktural fungsional, masyarakat sebagai sistem sosial memiliki kemampuan fleksibel terhadap berbagai kondisi karena pada dasarnya masyarakat mempunyai kemampuan untuk mempertahankan diri dan mengadaptasikan dirinya dengan sesuatu yang baru yang berasal dari dalam ataupun yang datang dari luar. Mekanisme yang dimiliki suatu system sosial cenderung menunjukkan kemampuannya dalam menjadikan dirinya tetap dalam kondisi yang seimbang (equilibrium). Perubahan yang terlalu cepat dan drastis (revolusioner) memang dapat merusak tatanan sosial yang telah dimiliki oleh masyarakat (Ruswanto, 2009).
Kedua, mitos tentang trauma
Selain mitos deviant (penyimpangan), terdapat pandangan lain bahwa pemikiran yang menyatakan perubahan adalah abnormal. Perubahan dipandang sebagai siksaan, krisis, dan agen asing yang tak terkendali.
Perubahan mau tidak mau menimbulkan reaksi. Bisa berbentuk krisis emosional dan stress mental. Perubahan juga berpotensi menimbulkan disintegrasi pada awalnya. Bisa berbentuk disintegrasi sosial dan disintegrasi individual. Misalnya: ada teori yang dinamakan cultural lag (kesenjangan kebudayaan). Perubahan yang terjadi di suatu tempat belum tentu terjadi di tempat lain pada waktu yang bersamaaan. Dan apabila kedua ini bersatu, berpotensi menimbulkan “kegamangan”. Contoh: sebuah perusahaan yang telah dilengkapi peralatan komputer canggih, namun karyawan-karyawannyanya tidak mau atau belum belajar mengoperasikannya. Walhasil, komputer hanya menjadi pajangan untuk memperlihatkan “kelas” dari perusahaan tersebut.
Mitos tentang trauma yang menyatakan bahwa perubahan adalah abnormal yang dihubungkan dengan pemikiran yang menyatakan, perubahan bersifat traumatis (Lauer, 2003). Pada mitos ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat merupakan sesuatu yang abnormal. Pemikiran tersebut berorientasi bahwa perubahan sebagai siksaanyang terjadi akibat krisis dan terjadinya campur tangan yang tidak bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat. Pandangan tersebut mengambarkan bahwa ada beberapa penyebab terjadi penghambat perubahan dan pembangunan dalam masyarakat yaitu nilai-nilai budaya, stratifikasi, sikap, ketimpangan sosial dan pengalaman dari masyarakat tersebut.
Spincer (Irfan, 2019) memberikan pandangan mengapa orang trauma dalam menghadapi perubahan? Penyebabnya adalah: (a) perubahan itu dibayangkan dapat mengancam keamanan dasar; (b) perubahan itu tidak dipahami masyarakat; dan (c) perubahan itu terlalu dipaksakan.
Perubahan bukanlah rintangan yang tak terelakan, kadang-kadang diwaktu lain orang membuat perubahan. Perubahan berkaitan dengan ketegangan yang dialami oleh individu atau masyarakat. Perubahan yang cepat dapat menimbulkan ketegangan yang luar biasa, Kenneth Kenison seorang ahli psikologi berpendapat inovasi yang tidak henti-hentinya menandai kehidupan orang Amerika merupakan bagian dari sumber ketegangan terdalam di dalam kehidupan bangsa Amerika. Alvin Toffler telah menciptakan ungkapan goncangan masa depan (future shock). Riset yang dilakukan Vinohur dan Selzer menemukan bahwa terdapat korelasi antara tingkat perubahan yang dibayangkan dengan tingkat kegelisahan yang dialami, semakin besar tingkat perubahan yang dibayangkan semakin tinggi tingkat kegelisahan yang dialami oleh individu atau masyarakat itu sendiri.
Studi lain disimpulkan oleh Strabuch, bahwa anggota organisasi akan menjadi tidak bahagia jika berada dalam lingkungan yang terlalu stabil maupun dalam lingkungan yang terlalu berubah-ubah. Contoh: kecanggihan tekhnologi, perubahan ini biasa mengakibatkan siksaan dan akan menjadi hal traumatis ketika kecanggihan tekhnologi ini dirasakan oleh masyarakat tradisional/kuno yang belum tahu sama sekali tentang tekhnologi dan akan berdampak masyarakat tersebut tidak ingin memakainya lagi. Contoh lainnya: pembuatan senjata nuklir dan sejenisnya, hal ini biasa mengakibatkan mengancam keamanan mendasar yang tidak diinginkan perubahan tersebut akan menjadi trauma di kalangan masyarakat bila terjadi peperangan dan pasti akan menimbulkan ketegangan.
Ketiga, mitos perubahan satu arah dan pandangan utopia
Perubahan kadang dipahami menurut urutan yang tak terelakan, yang menjurus kearah tujuan yang seragam, dengan menempuh cara yang seragam pula. Contoh: masyarakat industri moderen, pemahaman ini akhirnya menjadi mitos karena memunculkan determinasi tekhnologi dan logika industrialism. Contoh lainnya: modernisasi, dikarenakan modernisasi menghadapkan masyarakat pada masalah mendasar tertentu, tetapi jawaban yang diberikan atas masalah itu mungkin sangat berbeda. Keanekaragaman jawaban masyarakat atas modernisasi dimungkinkan karena setiap negara memiliki corak nasionalisme masing-masing modernisasi dapat berlangsung terus-menerus terlepas dari industrialisasi setiap masyarakat menunjukan kesatuan yang homogen, dengan aspek historisitas masing-masing.
Auguste Comte (Irfan, 2019) dalam teori evolusi sosialnya menyatakan bahwa semua masyarakat menuju pada tujuan yang seragam dan menempuh jalan yang seragam pula untuk mencapai tujuan tersebut. Teori ini melukiskan urutan perkembangan masyarakat pada urutan yang tak terelakan, yang menjurus ke arah tujuan yang telah ditakdirkan sebelumnya.
Teori ini beranggapan masyarakat yang menerima teknologi Barat, tak terelakan akan meniru pula masyarakat Barat yang mengirim teknologi itu.
Dalam pandangan utopia berasumsi bahwa masyarakat industri modern mencerminkan wujud tertingginya dalam prestasi manusia. Karena itu, penyelesaian masalah dunia adalah terletak pada usaha membantu negara-negara berkembang memodernisasikan dirinya secepat dan sebaik mungkin sehingga serupa dengan Barat, dengan demikian negara-negara berkembang akan segera menikmati perdamaian dan kesejahteraan.
Pandangan ini banyak ditentang oleh sejumlah bukti penting, diantaranya: Antitesis antara tradisional dengan modern adalah keliru.
Dalam studinya di Cantel, Guetemala, Nash menemukan sejumlah besar kehidupan tradisional berlanjut bahkan tumbuh subur pada tingkat lebih tinggi di dalam proses industrialisasi.
Peranan struktur kekeluargaan terhadap urbanisasi dan modernisasi memberikan contoh yang baik tentang bagaimana tradisi Jepang telah membantu perubahan. Urbanisasi di Jepang berlangsung menurut cara yang lebih teratur dibanding dengan yang terjadi di Eropa maupun Amerika, dan sedikit banyak ditentukan atau dikendalikan oleh organisasi keluarga.
Karena itu, tak ada konflik yang melekat antara aspek tradisional dan aspek modern. Jadi tak ada alasan untuk menyatakan bahwa semakin modern suatu bangsa semakin perlu melepaskan tradisinya.
Beberapa faktor yang sering dihubungkan dengan pengalaman di Barat, mungkin berkorelasi negatif dengan apa yang terjadi di negara-negara berkembang. Pada tingkat perkembangan tertentu faktor-faktor seperti kemampuan baca tulis, pertumbuhan media massa, pendidikan formal, dan urbanisasi mungkin berkorelasi negatif dengan pertumbuhan terus-menerus. Pemerintah negara berkembang mengalami situasi yang rumit berhadapan dengan keinginan melaksanakan pembangunan pendidikan berskala luas, yang secara politis penting tetapi disisi lain secara ekonomi tak mungkin dilaksanakan karena akan mengganggu akumulasi kapital yang diperlukan guna membangun ekonomi.
Mitos perubahan satu arah erat kaitannya dengan pandangan kaum evolutionist. Teori evolusi sosial menyatakan bahwa semua masyarakat bergerak menuju suatu tujuan yang seragam dan menempuh jalan yang seragam pula dalam mencapai tujuannya tersebut. Seorang ahli sosiologi, August Comte, misalnya melukiskan evolusi sosial menurut urutan yang tak terelakkan yang menjurus ke arah tujuan yang telah ditentukan (sebagai takdir) sebelumnya. Masyarakat tradisional pada akhirnya akan sampai pada masyarakat yang dicita-citakan, yaitu masyarakat industri modern, seperti yang telah dicapai masyarakat Barat. Hal ini berarti bahwa setiap masyarakat akan mengalami perubahan melalui proses yang sama (mitos satu arah) menuju masyarakat industri modern. Pandangan demikian, terus dikembangkan oleh para pengikut aliran evolutionism, kemudian dikenal dengan para penganut teori determinisme teknologi walaupun pada perkembangan terakhir juga menunjukkan adanya perbedaan derajat determinisme teknologi di kalangan para teori tersebut. Pada dasarnya teori determinisme teknologi ini tidakberanggapan bahwa setiap masyarakat industri (Barat) akan menjadi tiruan bagi masyarakat industri lainnya, tetapi industrialisasi memang dipandang sebagai suatu proses kuat yang memengaruhi sejumlah besar standarisasi dalam melihat kemajuan masyarakat masa kini. Hal ini bisa dipahami karena bagaimanapun suatu masyarakat penerima teknologi Barat dengan tanpa terelakkan akan meniru, mengadopsi dan menerima pola hidup masyarakat Barat yang mengirimkan
teknologi tersebut. Misalnya, perubahan sehubungan dengan penggunaan waktu, tuntutan pendidikan, spesialisasi keahlian, kesempatan kerja, manajemen industrial, dan perubahan pola interaksi sosial serta bentuk keluarga.
Pandangan seperti di atas, yaitu ide yang menyatakan bahwa setiap masyarakat pada akhirnya akan menjadi serupa atau seragam, mudah tergelincir ke dalam mitos pemikiran utopia yang mengasumsikan bahwa masyarakat industri modern mencerminkan wujud tertinggi prestasi manusia (Lauer, 2003). Akibatnya, pemikiran seperti ini beranggapan bahwa tidak ada jalan lain bagi negara-negara sedang berkembang (dunia ketiga) untuk segera melakukan modernisasi (teknologi-industri) agar dapat meningkatkan kesejahteraan. Semakin cepat negara dunia ketiga memodernisasikan diri maka semakin cepat pula tercapainya kesejahteraan dan kedamaian manusia di muka bumi ini.
Keempat, mitos menimbulkan krisis
Perubahan sosial juga berpotensi menimbulkan krisis. Orang yang tidak siap dengan perubahan cenderung bersikap antipati terhadap perubahan. Orang menolak perubahan biasanya disebabkan karena basic security-nya terancam. Jadi, ia merasa lebih nyaman dengan keadaan yang lama. Sikap antipati ini membuat orang menciptakan defensive mechanism.
Dapat dikatakan bahwa perubahan sosial juga mendatangkan masalah sosial baru. Perubahan sosial juga berpotensi menimbulkan krisis. Orang yang tidak siap dengan perubahan, yakni golongan orang yang sudah merasa nyaman dengan kondisinya saat ini cenderung bersikap antipati terhadap perubahan. Sikap antipati ini membuat orang menciptakan defensive mechanism. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa perubahan sosial juga mendatangkan masalah sosial baru.
Kelima, mitos ilusi semantik
Kim Rodner dalam artikelnya berjudul Logical Foundations of Social Change Theory yang diterbitkan oleh majalah Sociology and Social Research berpendapat bahwa anggapan tentang pemahaman perubahan sosial sesungguhnya dapat dipahami tanpa memerlukan analisis pada masyarakat yang statis (Ruswanto, 2009). Begitu pula bahwa pada setiap analisis statis di dalamnya mengandung arti analisis perubahan sehingga perbedaan teori perubahan sosial dan teori sosial statis hanya merupakan ilusi semantik belaka (Lauer, 2003). Menurut Rodner teori perubahan sosial tidak dapat dibedakan dari teori nonperubahan sosial berdasar pada variabel waktu.
Mitos ilustrasi semantik ini menyimpulkan bahwa semua teori mempunyai implikasi, baik mengenai perubahan sosial ataupun keadaan sosial statis karena semua teori pada dasarnya membahas materi yang sama (Ruswanto, 2009). Perbedaan satu-satunya adalah tingkat ketepatannya dengan masyarakat yang menjadi tempat teori itu dirumuskan. Kesimpulan ini menurut Lauer (2003) merupakan hal yang keliru. Penjelasan Lauer bahwa semua teori memang mengandung dinamika tertentu; semua teori menyatakan jenis perubahan tertentu; semua teori jelas mengakui bahwa kehidupan sosial bukanlah sesuatu yang tidak berdaya. Namun, tidak semua teori menjelaskan tentang perubahan, kecuali barangkali dalam arti yang negatif bahwa perubahan adalah sejenis penyimpangan atau kalau menurut pandangan fungsionalisme bahwa perubahan semata-mata merupakan perluasan dari sistem social tertentu. Di samping itu, terdapat teori yang beranggapan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang alamiah, sedangkan teori lain memandangnya sebagai sesuatu yang terjadi melalui semacam paksaan.
Kenapa Orang Percaya Mitos
Di era globalisasi dan modernisasi seperti sekarang ini masih banyak kita jumpai masyarakat yang mempercayai mitos. Sejatinya, mitos tidak dapat hilang begitu saja, apalagi bagi Indonesia yang kaya akan budaya. Suatu masyarakat atau khususnya seseorang tentunya bukan tanpa sebab mempercayai mitos. Mereka tidak begitu saja mempercayai sebuah mitos. Berikut adalah beberapa sebab orang mempercayai mitos (Indah Durojatun dalam Sukatman. 2011).
Pertama, mitos merupakan suatu tradisi atau kebudayaan yang turun-temurun. Mitos telah mendarah daging bagi masyarakat, apalagi bagi bangsa Indonesia yang kaya akan budaya. Dari nenek moyang hingga sekarang, mitos tidak dapat terlepas begitu saja, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berawal dari pengalaman-pangalaman nenek moyang yang terdahulu, mereka yang masih berkepercayaan animisme dinamisme selalu mengaitkan segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan mereka dengan leluhur mereka, hingga mereka mempunyai keturunan dan mengajarkan pengalamannya, hingga sekarang.
Kedua, mitos yang diceritakan secara turun temurun tersebut perlahan-lahan dipahami dan dimaknai, direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, dan memang banyak mitos yang benar. Kebenaran-kebenaran dari mitos tersebut membuat seseorang atau masyarakat percaya bahwa mitos benar adanya, dengan adanya kebenaran mitos tersebut, seseorang sering menghadapi dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan mitos-mitos yang Ia peroleh secara turun-temurun tersebut. Tidak semua mitos dapat dibantah dengan filsafat. Banyak mitos yang dapat dibuktikan kebenarannya dengan rasional atau logika, dapat dibuktikan dengan akal sehat, namun banyak pula mitos yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara rasional.
Ketiga, seseorang sering mendengar mitos dari orang-orang tuanya, ibunya, neneknya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini kita seolah-olah terpaksa mempercayai akan kebenaran mitos. Di hadapan mereka, kita mempercayai mitos dan merealisasikannya dalam suatu tindakan yang telah dikatakan oleh orang-orang tuanya karena menghargai, menghargai orang tua yang berbicara kepada kita. Namun, sebagai orang yang mengerti benar dan berpikir secara rasional, tentunya kita tidak mau menerima atau melakukan hal-hal yang tidak rasional atau irrasional seperti mitos tersebut. Menjelaskan kepada mereka hal yang sebenarnya bahwa mitos dapat dibantah dengan berpikir rasional adalah hal yang sulit, apalagi berbicara pada orang-orang yang lebih tua dari kita. Apalagi orang-orang tua yang telah membudayakan mitos tersebut, sangat sulit bagi kita untuk membantahnya. Namun tidak ada salahnya jika kita berbicara secara baik dan perlahan-lahan kepada orang yang lebih tua, tanpa men-judge mitos yang mereka katakana adalah suatu kesalahan.
Keempat, kurangnya ilmu pengetahuan membuat seseorang atau masyarakat percaya akan mitos. Hal ini sangat mudah dijumpai di daerah pedesaan atau daerah tradisonal yang masih sangat kental tradisinya maupun kebudayaannya. Daerah mereka yang terisolasi membuat mereka terkungkung dalam kebodohan dan keterbelakangan, sehingga mereka masih mempercayai kebenaran mitos yang telah mereka yakini dari nenek moyangnya terdahulu.
Kelima, keterbatasan penalaran manusia. Manusia memang mampu berpikir, namun pemikirannya perlu terus menerus dilatih. Pemikiran itu sendiri dapat benar dapat pula salah, Akhimya penalaran yang salah akan kalah oleh penalaran yang benar. Untuk itu diperlukan waktu guna meyakinkan kebenaran tersebut.
Keenam, keingintahuan manusia yang telah dipenuhi untuk sementara. Kebenaran memang harus dapat diterima oleh akal tetapi sebagian lagi dapat diterima secara intuisi, yakni penerimaan atas dasar kata hati tentang sesuatu yang benar. Kata hati yang irasional dalam kehidupan masyarakat awam sudah dapat diterima sebagai suatu kebenaran atau pseudo science.
Ketujuh, alat indera manusia yang terbatas. Akibat dan keterbatasan alat indera kita, maka mungkin timbul salah informasi, salah tafsir dan salah pemikiran. Dari adanya salah informasi tersebut, membuat orang menduga-duga bahkan berpikir secara irrasional. Latihan dapat meningkatkan ketepatan alat indera untuk mengurangi kesalahan pengamatan tersebut, namun tetap sangat terbatas.
Menghadapi Tantangan Mitos
Mitos secara populer sering juga disebut sebagai mitologi yang diartikan sebagai kajian tentang mitos atau dapat juga diartikan sebagai himpunan atau koleksi berbagai mitos.
Perubahan penuh dengan 1001 tantangan, dan kita perlu mengelola tantangan-tantangan yang timbul karena adanya perubahan tersebut. Untuk bisa mengatasi tantangan-tantangan perubahan, kita perlu mengerti mitos-mitos yang ada dalam pengertian kita dan dalam masyarakat kita.
Mitos-mitos tersebut menurut Raymond Lukas (Irfan, 2019), sebagai berikut.
Pertama, perubahan itu berbahaya. Ini adalah sebuah mitos yang mengatakan bahwa kalau ada perubahan, maka hal itu akan membahayakan orang-orang yang terkena perubahan itu, Orang-orang bisa kehilangan pekerjaan, penghasilan atau kerugian fisik dan materil karena adanya perubahan tersebut. Oleh sebab itu kalau ada tanda-tanda akan terjadi suatu perubahan, maka banyak orang menghindarinya karena takut kehilangan atau mengalami akan kerugian sesuatu. Mereka tidak mau berpikir atau melihat bahwa di balik setiap perubahan itu akan ada juga banyak kesempatan dan peluang baru yang lebih baik dan menguntungkan.
Kedua, keadaan akan tetap seperti sekarang. Banyak orang berasumsi bahwa keadaan akan tetap konstan dan tidak berubah. Semuanya akan tenang seperti biasanya. Tidak demikian. Keadaan akan secara konstan berubah. Perubahan itu adalah hal yang paling konstan dalam sebuah lehidupan. Waktu penulis menulis artikel ini The King of Pop Michael Jackson dan bintang ”Charlie’s Angels” terkenal, Farah Fawcett baru saja meninggal dunia. Banyak orang kehilangan figur Michael Jackson, bintang pop pujaan mereka. Dan itu akan mengubah industri musik pop dunia. Jadi perubahan itu pasti akan terjadi.
Ketiga, kalau belum rusak untuk apa diperbaiki? Merupakan mitos yang sudah tua sekali di mana dikaatakan bahwa perubahan tidak perlu dilakukan kalau sesuatu belum mengalami kerusakan atau sesuatu hanya perlu diubah kalau sudah rusak keadaannya. Hal ini sebenarnya tidak relevan lagi untuk masa kini. Sebelum terlambat, perubahan itu harus sudah dilakukan sekarang sehingga perkembangan bisa terus terjaga dan tidak menghambat bisnis kita.
Keempat, solusi yang lalu bisa dipakai lagi untuk memecahkan masalah yang timbul sekarang. Hal ini kurang tepat, terutama hal-hal menyangkut teknologi. Kemungkinan besar teknologi yang lalu, tidak bisa dipakai untuk memecahkan kebutuhan teknologi masa kini. Kita melihat bahwa teknologi berkembang dengan sangat-sangat cepat bahkan luar biasa cepatnya di masa-masa ini.
Kelima, perubahan yang positif akan terjadi dengan sendirinya, tanpa usaha apa pun. Hal tersebut merupakan mitos yang kontra-produktif. Kita tahu bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang baik diperlukan usaha yang tidak berkeputusan. Jadi, kita tidak bisa bersikap ’take it for granted’.
Bahkan ada yang menyikapi dan mengkalim bahwa perubahan itu hanyalah mitos. Perubahan yang dialami manusia bukanlah suatu penyimpangan, karena pandangan tersebut adalah suatu mitos yang perlu dihilangkan dari pandangan mengenai perubahan (Lauer, 2003). Mitos yaitu sesuatu yang tidak benar, tetapi dipercayai oleh banyak orang termasuk oleh para ilmuwan.
Mitos memberikan dampak yang berbeda-beda pada proses perubahan pada masyarakat. Ada mitos yang begitu kental hingga menghambat proses terjadinya perubahan sosial dan ada pula mitos yang kental beredar, tapi masyarakat ada keinginan untuk menyesuaikan diri dengan modernisasi tanpa meninggalkan budaya aslinya.
Mitos menceritakan mengenai kepercayaan terhadap kekuatan yang lebih besar dari manusia, dari mana manusia berasal, dan bagaimana interaksi yang seharusnya dilakukan oleh manusia dengan kekuatan yang lebih besar ini. Walaupun terkesan fiksi, tidak dapat dipungkiri bahwa mitos menceritakan kebenaran mengenai manusia.
Mitos juga bersifat ambigu dan mempunyai banyak arti. Tidak ada mitos yang permanen, melainkan hampir semua mitos bersifat fleksibel, cerita di dalam mitos kebanyakan beradaptasi dengan pengetahuan baru dan perubahan dalam lingkungan manusia. Jika cerita dalam mitos tidak beradaptasi, arti yang dibawa akan mengalami pergeseran sesuai dengan kemajuan pemikiran para pengikutnya (Ryan, 2010).
Semoga !!!










