Penulis: Zulkarnain Basir
MODAL sosial, menurut Damsar, dalah investasi sosial yang meliputi sumber daya sosial seperti jaringan, kepercayaan, nilai dan norma serta resiprositas dalam struktur hubungan sosial untuk mencapai tujuan individual atau kelompok secara efisien dan efektif dengan modal lainnya. Modal sosial atau social capital ini memiliki peranan terhadap kelangsungan industri, khususnya pada industri kreatif.
Nilai dan norma menjadi dasar terbentuknya modal sosial karena menjadi dasar dalam terbentuknya suatu hubungan timbal balik antar individu atau kelompok. Unsur selanjutnya yang memperkuat modal sosial adalah adanya kepercayaan yang dikelola dan dijaga bersama. Adanya kepercayaan ini memberikan gambaran bahwa pada nantinya terbentuk suatu jaringan yang memperlihatkan suatu link hubungan antar individu atau kelompok yang saling berinteraksi.
Hal tersebut belum nampak dikalangan pelaku industri kreatif di kota makassar, mereka cenderung masih bekerja sendiri-sendiri dan berinteraksi dengan para pelaku lainnya tanpa menjalin sutau kerjasama yang baik. Hal tersebut berpeluang untuk menciptakan asimetri informasi antar pelaku industri kreatif. Jika dikaitkan dengan dimensi modal sosial maka interaksi antar pelaku industri kreatif belum membentuk sebuah modal sosial. Meski demikian, pada dasarnya para pelaku industri kreatif memiliki sikap saling percaya (kepercayaan), jejaring, norma-norma dan hubungan timbal balik yang baik antar sesama pelaku/komunitas sektor tertentu saja. Modal sosial itu pulalah yang akan mereduksi asimetri informasi yang timbul dalam proses transaksi mereka.
Bagian lain yang juga penting dalam konteks ekonomi kelembagaan kaitannya dengan ekonomi kretif menyangkut asimetri informasi. Dalam bidang ekonomi, asimetri informasi terjadi jika salah satu pihak dari suatu transaksi memiliki informasi lebih banyak atau lebih baik dibandingkan pihak lainnya (sering juga disebut dengan istilah informasi asimetrik/informasi asimetris). Umumnya pihak penjual yang memiliki informasi lebih banyak tentang produk dibandingkan pembeli, meski kondisi sebaliknya bisa saja terjadi seperti yang dialami oleh para pelaku industri kreatif. Contoh situasi dimana para desainer, programer atau developer aplikasi dan game (dalam hal sebagai pihak penjual) meski mereka memiliki informasi lebih banyak terkait harga bahan baku produknya, namun karya-karya mereka belum dapat dihargai sebagaimana mestinya.
Dalam teori asimetri informasi juga lebih banyak megangkat tentang kepemilikan informasi oleh para manajer dibandingkan dengan para investor sebagai pemiliki modal, namun apakah kondisi itu juga terjadi dikalangan pelaku industri kreatif dengan para investor. Untuk menjawab hal tersebut maka dibutuhkan sebuah kajian untuk itu
Baca juga:
Prime Over Ekonomi Nasional
Ego Sektoral Vs Kolaborasi










