Musuh Itu Bernama Sekulerisme Bukan Agama

INIPASTI.COM, OPINI- Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi tengah menjadi sorotan publik terkait pernyataannya soal agama adalah musuh terbesar Pancasila.

Yudian pun mengklarifikasi soal pernyataannya tersebut. Menurut Yudian penjelasannya yang dimaksud adalah bukan agama secara keseluruhan, tapi mereka yang mempertentangkan agama dengan Pancasila. Karena, menurutnya dari segi sumber dan tujuannya Pancasila itu religius atau agamis (voa-islam.com, 14/02/2020).

Inline Ad

Menurut Pakar Sosiologi Hukum dan Filsafat Pancasila, Prof Suteki, apa yang dinyatakan Yudian telah menyimpang dari hukum. Bahkan Suteki menilai Yudian jelas-jelas telah melanggar Pasal 156 tentang Penodaan Agama.

“Pernyataan bahwa musuh terbesar Pancasila itu agama dan kemudian konstitusi itu di atas kitab suci, saya katakan ini ada dugaan kuat telah terjadi perbuatan yang memenuhi unsur-unsur Pasal 156 atau Pasal 156 a KUHP tentang penodaan atau penodaan agama,” kata Suteki dalam acara ILC tvOne, bertema Agama Musuh Besar Pancasila pada Selasa malam, 18 Februari 2020.

Bahkan, bila kita mengembalikan statementnya pada pancasila, justru tidak selaras dengan pancasila yang pertama. Wajar bila akhirnya hujanan kritik membanjiri Yudian Wahyudi.

Pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (18/2), ia mendapat hujan kritik dari setidaknya 15 orang anggota dewan dari berbagai fraksi yang menyatakan kecewa dengan pernyataan ‘agama musuh Pancasila’ itu (Cnnindonesia.com, 18/02/2020).

Baca Juga:  Jejak Khilafah di Nusantara

Hari ini narasi-narasi islam begitu sering dilontarkan oleh penguasa yang memicu ketegangan di antara umat. Baru saja kemarin Indonesia dibuat hebot dengan kufur nikmat ala Presiden Jokowi. Kini, giliran Yudian Wahyudi yang melanjutkan kehebohan itu dengan narasinya, agama adalah musuh terbesar pancasila

Kerap kali agama dibenturkan dengan pancasila. Parahnya lagi, di rezim sekarang aktifitas dakwah yang dilakukan khatib harus diseleksi, disyaratkan bersertifikat dan memiliki komitmen kebangsaan. Sebagaimana yang diberitakan Mediaindonesia.com 14 Februari lalu. Hal tersebut pada akhirnya memberikan kesan seolah-olah muslim yang taat apalagi menyuarakan penerapan syariah kaafah tidak cinta Indonesia, intoleran dan pemecah belah umat.

Padahal agama islam sendiri jauh lebih dulu ada sebelum tercetus pancasila. Terlebih lagi islam adalah agama langit yang diturunkan oleh Sang Pencipta. Bukan agama buatan manusia. Maka sebenarnya tidak layak membenturkan islam dengan pencasila karena eksistensinya jauh berbeda. Apalagi sampai menjadikannya musuh pencasila, jelas ini nalar yang tumpul.

Faktanya korupsi, pencurian, pembunuhan, kezalliman, kemiskinan, pergaulan bebas dan tercerai berainya umat bukan disebabkan oleh islam. Justru islam yang menjadi spirit jihad para pahlawan tanah air untuk mengusir penjajah dari Nusantara. Islam begitu lantang menyuarakan persatuan bukan hanya di Indonesia, tapi seluruh dunia. Agama islam yang paling tegas mengharamkan korupsi, pencurian dan pembunuhan. Bahkan islam telah menyiapkan aturannya sedemikian rupa mulai dari pencegahan hingga sanksi yang tidak main-main.

Baca Juga:  Puasa dan Fitrah Antikorupsi

Sesungguhnya semua itu justru terjadi dalam sistem sekulerisme. Sekulerisme menjadikan institusi atau badan negara harus berdiri terpisah dari agama. Agama tidak berhak berperan dalam urusan negara. Sehingga hukum-hukum dibuat, ditakar, oleh manusia yang kental akan kepentingan pribadi maupun kelompok. Lucunya, manusia itu juga yang sering melanggar aturan yang dibuatnya. Paradigma yang bercokol di masyarakat itulah menjadikan umat tidak memahami hakikat hubungan dia kepada Allah. Akibatnya terjerumus pada cinta dunia seperti harta, tahta dan jabatan. Tidak paham halal haram. Makanya mudah kita temui di rezim sekuler koruptor, penghianat, pembunuh, pencuri dan orang-orang yang bebas menghina agama atas nama kebebasan bersuara.

Dari sini kita bisa memahami bahwa rezim sekuler telah terusik dengan keberadaan dakwah islam yang menyerukan islam sebagai solusi bangsa. Sekulerisme dengan wataknya yang memisahkan agama, bagaimanapun tidak akan pernah bisa menyatu dengan islam. Keduanya sangat kontras. Islam mengendaki penerapan aturan agama secara totalitas sedangkan sekulerisme memisahkan agama dari kehidupan.

Oleh karena itu, salah kaprah jika menjadikan agama sebagai musuh. Sebesar-besarnya musuh adalah sekulerisme, bukan islam. Islam agama yang diridhai Allah sedangkan tidak mungkin Allah meridhai sesuatu kecuali itu merupakan haq. Islam juga membawa rahmat bagi alam semesta alam bukan permusuhan sebagaimana Firman Allah, “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta” (QS. Al Anbiya: 107).

Baca Juga:  Anggota DPR RI Dialog Konsep Kebhinnekaan Dengan Pelajar di Maros

Maha Benar Allah dengan segala FirmanNya.

(Dewi Murni, Praktisi pendidikan, aktivis dakwah pena, Balikpapan)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.