Nasehat Pernikahan Ayah untuk Putrinya yang Baru Lulus SMA

Hadits Nabi tentang Menikah.
Top Ad

INIPASTI.COM, SURABAYA – Berdiskusi dengan orangtua, Samsul Bahri Darwis yang baru saja menikahkan anaknya bernama Rafika Baiti Rahcma Darwis. Menikahkan anaknya di KUA Kecamatan Pabean Cantikan Surabaya. Kenapa dia segera menikahkan anaknya yang pertama dan masih muda, baru lulus SMA?

Samsul Bahri Darwis, sempat menasehati putrinya bahwa yang melamarnya adalah seorang laki-laki yang aqidahnya benar dan berakhlak baik. Bahkan menjaga Shalat 5 waktunya, terutama berjamaah di masjid. Meskipun dalam mencari nafkah, hanya seorang pegawai yang lulusan SMA, sebagai marketing.

“Tidak masalahkan,” kata Samsul Bahri Darwis.

Acara pernikahan yang sederhana tapi bermakna dan Samsul Bahri Darwis menyampaikan bahwa tujuan menikah hanya untuk menjaga ketaatan kepada Allah SWT dengan menjalankan syariat Islam yang benar.

Samsul Bahri Darwis menceritakan, putrinya mendapatkan seorang laki-laki yang sholeh dan di mana dalam akad nikahnya memberikan buku Sirah Nabawi sebagai mahar agar kelak dibaca bersama dan bisa mencontoh bagaimana perjalanan Rasulullah SAW dalam menapaki kehidupan dari muda hingga menikah dan diwafatkan.

Samsul Bahri Darwis menyampaikan beberapa nasihat kepada kedua mempelai, terutama putrinya sebagai berikut:

1. Agar selalu bersabar dan taat kepada suami selama menjalankan syariat Allah yang benar,

2. Agar selalu menutupi segala kekurangan suami. Baik kekurangan dalam hal dunia, maupun akhlaknya, dan saling mengingatkan dalam kebaikan agar selamat dunia akhirat,

3. Agar selalu bekerjasama dengan baik dan menjaga akhlak baik dengan suami dan keluarga suami,

4. Agar selalu mendoakan kebaikan kepada suami, supaya mendapatkan rezeki yang halal dan thoyib,

5. Agar selalu berkata baik dan berlemah lembut kepada suami. Apabila suami tidak ridho dengan sesuatu yang dilakukannya atau perkataannya, sebaiknya jangan dilakukan dan sebaiknya mengalah,

6. Jangan lupa selalu menjaga shalat dan membaca Alquran serta memahaminya dan menjalankan syariatnya.

Baca Juga:  6 Amalan Utama di Awal Dzulhijah

Masih kata Samsul Bahri Darwis bahwa menikah di waktu muda seperti halnya yang dia lakukan dahulu, menjalani pengalaman, baik dengan ujian kenikmatan maupun ujian musibah. Maka sebaiknya banyak-banyak berdiskusi kepada orangtua atau kepada kerabat atau sahabat.

“Sebab dalam menapaki kehidupan berumahtangga usahakan menjaga diri dari maksiat dan selalu mendekatkan diri kepada amal saleh yang dianjurkan oleh Allah ta’ala dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,” pungkas Samsul Bahri Darwis sambil bersiap-siap pengambilan foto.

Berbincang dengan Nur Abdullah dari Kedung Sroko Surabaya mengenai, apa nasehat seorang ayah terhadap putrinya yang akan menikah? Nur Abdullah menyampaikan beberapa hal seputar nasehat yang akan menjalani pernikahan:

Pertama, setiap muslim yang paham dengan ilmu syar’i dan ilmu fiqih dalam bab pernikahan, tentunya menginginkan pernikahan putrinya bertujuan agar taat kepada Allah SWT dan berharap surga-Nya. Sehingga dalam syarat-syarat pernikahan yang utama bagi seorang laki-laki adalah memiliki aqidah yang lurus, yaitu sesuai dengan syariat Islam.

Kedua, memiliki akhlak yang mulia, berlemah lembut kepada orangtuanya, terutama kepada ibunya, serta selanjutnya berkawan atau bersahabat dengan teman-temannya yang sholeh yang selalu mengingatkan dalam kebaikan dan mengajak shalat berjamaah di masjid.

Apabila telah datang seorang laki-laki yang memiliki kriteria tersebut, maka seharusnya setiap orangtua tidak boleh menunda-nunda pernikahan putrinya, bahkan segera memberikan izin dan menikahkannya dengan saling berdiskusi antar keluarga, baik pihak laki-laki dan pihak wanita.

Sebaliknya, apabila yang mendatangi adalah seorang laki-laki yang mungkin kaya atau memiliki wajah yang tampan, akan tetapi tidak memiliki aqidah yang lurus sesuai syariat Islam. Bahkan mungkin akhlaknya masih cenderung melakukan sebagian maksiat dan berkawan atau bersahabat dengan teman yang akhlaknya kurang baik, tidak menjaga shalat lima waktu, bahkan meninggalkan shalat, dalam pepatah Arab,

Baca Juga:  Konsolidasi LDII se-Sulsel Bahas Pembentukan Manusia Berkarakter

“Ceritakan kepadaku siapa temanmu, nanti aku ceritakan kepadamu siapa sesungguhnya dirimu”.

Di dalam Islam, untuk mengetahui akhlak dan bagaimana seorang laki-laki yang memiliki aqidah yang benar, yaitu dengan melihat siapakah yang bersahabat dengan laki-laki tersebut dan di mana laki-laki tersebut beraktivitas. Contohnya, di tempat maksiat atau tempat-tempat yang tidak ada manfaatnya.

“Maka sebaiknya segera menolaknya dengan baik dan santun, karena tujuan menikah adalah untuk ketakwaan dan menaati Allah SWT agar selamat dunia dan akhirat,” ujar Nur Abdullah, dari Kedung Sroko Surabaya, yang sederhana dan memiliki suara yang merdu.

Agar kelak kita bertemu dengan keluarga kita, bahkan keturunan kita yang sholeh maupun sholehah, seperti dalam firman Allah SWT, “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya,” (QS At-Thur ayat 21).

Sedangkan nasehat-nasehat bagi seorang wanita sholehah, Nur Abdullah menyampaikan, yang pertama adalah memahami dan belajar ilmu syar’i menjaga pandangan, dan memahami Alquran.

Kedua, apabila sudah siap menikah, segera menyampaikan kepada orangtua ataupun ustad yang paham dengan ilmu syar’i untuk mencarikan jodoh bagi dirinya, agar terhindar dari fitnah dan kelak terselamatkan dari kerusakan, baik di dunia dan akhirat.

Ketiga, apabila kelak menikah harus memiliki motivasi karena keimanan dan karena beribadah kepada Allah SWT, serta melakukan sunnah Rasulullah SAW dalam sabdanya mengatakan;

“Siapa yang menikah berarti telah melindungi setengah agamanya, karena itu bertakwalah kepada Allah untuk setengah agamanya yang kedua. Ini merupakan isyarat tentang keutamaan nikah, yaitu dalam rangka melindungi diri dari penyimpangan agar terhindar dari kerusakan, karena yang merusak agama manusia umumnya adalah kemaluannya dan perutnya. Dengan menikah, maka salah satu telah terpenuhi. (Ihya Ulumuddin, 2/22).

Baca Juga:  Ketua MUI Luwu Raya Safari Ilmiah di Ponpes Wali Barokah LDII Kediri

Sementara itu, Galuh salah satu aktivis organisasi ‘Main ke Masjid’ di bawah naungan sebuah Yayasan Better Youth yang peduli pada kegiatan kepemudaan yang hijrah. Kegiatannya meliputi, kajian hijrah (materi pengajian yang dikemas secara kekinian sesuai dengan jiwa anak muda), Campaign Project (no alkohol, no free sex, dan lain-lain), pelatihan hingga penyelenggaraan event.

Galuh yang telah menjalani pernikahan selama setahun atau boleh dikatakan sebagai pengantin baru, menjelaskan perasaannya sebelum dan sesudah menikah. Kata Galuh, sebelum menikah masih berjiwa bebas, berkegiatan kesana kemari, masih menuruti kata hati, tidak ada tanggungan biarpun pulang sampai larut malam maupun pagi.

“Namun ketika sudah memiliki pasangan, memiliki ketenangan hati, tidak galau, lebih teratur mengatur waktu, dan merasakan memegang tanggung jawab, karena telah mempersunting anak orang,” jelas Galuh, suami dari Rossi Annisa yang kini tinggal di Kabupaten Gresik Jawa Timur.

(Sumber: Majalah Wisatahati Edisi September 2019).

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.