NH dan ‘Musuh’ Abadinya pada Pilgub Sulsel

Top Ad

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Nurdin Halid (NH) untuk kedua kalinya mencoba keberuntungan menjadi Gubernur Sulsel. Pada tahun 2002, NH menantang Amin Syam yang berpasangan dengan Syahrul Yasin Limpo. NH, bukanlah orang baru di panggung kontestasi Pilgub Sulsel. Mantan Ketua PSSI itu punya pengalaman pada tahun 2002 silam, era Pilkada Tidak Langsung (pemilihan DPRD). Kala itu, ada tiga pasang yang bertarung memperebutkan suara legislator. NH yang berduet Iskandar Manji melawan pasangan Amin Syam-Syahrul Yasin Limpo (SYL) dan Aksa Mahmud-Malik Hambali. Hasilnya, NH kalah telak. Amin Syam-Syahrul Yasin Limpo memenangi pertarungan itu dengan meraih 39 suara. NH-Iskandar dan Aksa Mahmud-Malik Hambali masing-masing cuma mendulang 18 suara.

Kini NH kembali mengukur kemampuan politiknya untuk mencalonkan diri menjadi Gubernur Sulsel. Kalau dulu NH berpasangan dengan sesama politisi, kini ia berpasangan dengan seorang “dai” putra Kahar Muzakkar, Abd. Azis. Azis sendiri sudah tiga kali memasuki gelanggang kontestasi pada level gubernur. Pada 2007, ia mencalonkan diri sebagai Gubernur berpasangan dengan Mubil Handaling. Ia meraih suara paling kecil dari lawan politiknya: Syahrul Yasin Limpo yang berpasangan dengan Agus Arifin Nu’mang, dan Amin Syam yang berpaket dengan Mansur Ramly. Sedangkan pada 2013, Azis maju sebagai calon wakil gubernur berpasangan dengan Ilham Arif Sirajuddin. Sekarang (2018) Azis maju kembali sebagai calon Wakil Gubernur Sulsel berpasangan NH.

Baca Juga:  Usungan PDIP Condong ke Koalisi Golkar-NasDem di Pilkada Pinrang

NH dan Azis sama-sama punya pengalaman kalah dalam kontestasi Pilgub Sulsel. Pada 2002, NH berhadapan dengan keluarga SYL dan kalah telak. Azis juga sebanyak dua kali bertarung melawan klan SYL dan semuanya kalah.

Baca Juga:  RMS: Pemerintahan Tak Boleh Terpengaruh Hasil Pilkada

Kini NH dan Azis ingin membuktikan kekalahannya yang berturut-turut bukanlah alasan untuk tidak bermimpi menjadi Gubernur Sulsel. Namun, pertarungan kali inipun tetap berhadapan dengan klan Yasin Limpo. Apakah kali ini NH-Azis bisa membalas kekalahan-kekalahannya selama ini? Atau NH-Azis tetap menjadi orang kalah, dan klan Yasin Limpo yang akan memenangkan pertarungan kali ini. Atau kedua-duanya kalah? Kontestasi pilgub Sulsel saat ini seakan-akan menempatkan permusuhan politik yang abadi antara NH dan klan Yasin Limpo. Keduanya tentu tidak akan rela untuk kalah. Meskipun pasangan NH-Aziz sama-sama pernah merasakan pahitnya kekalahan.

Adanya “musuh” bebuyatan politik ini akan melahirkan atmosfir politik yang panas dan penuh kompetisi. Semoga tidak memantik amarah politik yang mengarah pada anarkismi politik, yang dapat merusak nilai-nilai demokrasi. (*Ipc)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.