INIPASTI.COM, MAKASSAR – Dari sudut pandang struktur politik, kesediaan Nurdin Halid menjadi Cagub Sulsel memutar balik logika politik kita. Selama ini Nurdin Halid aktif berpolitik di tingkat nasional, tiba-tiba sekarang bersedia mencalonkan diri sebagai Gubernur Sulsel. Sejak didera kasus hukum beberapa tahun silam, Habitus politik Nurdin Halid tidak lagi di Sulsel. Dia lebih cocok menjadi pemain politik pada aras makro dan pada ruang politik sempit, seperti yang dilakoninya selama ini.
Semula publik mencium hubungan baiknya Nurdin Halid dengan Ikhsan Yasin Limpo yang sejak awal mempersiapkan dirinya menjadi Cagub Sulsel. Tiba-tiba Nurdin Halid, bersedia menjadi PLT Golkar Sulsel, dan perlahan-lahan menguasai Golkar, dan “melupakan” Ikhsan Yasin Limpo, yang semula sudah memasang kuda-kuda untuk mengambil alih Golkar, untuk dijadikan sebagai perahu politiknya pada Pilgub 2018.
Apakah Nurdin bersedia menjadi Cagub hanya untuk menghalangi klan Yasin Limpo yang sudah mengendalikan Sulsel 10 tahun terakhir? Atau Nurdin melihat peluang untuk memenangkan pertarungan itu? Kalau Nurdin menjadi Cagub melalui Golkar, Ikhsan harus bekerja keras mencari kendaraan politik lainnya, atau Ikhsan Yasin Limpo bisa maju dengan dukungan publik, jalur independen. Hal yang sama akan dilakukan oleh Agus Arifin Nu’mang dan Nurdin Abdullah.
Pertarungan akan sangat ketat apabila Nurdin Halid menambah perahu politiknya selain Golkar. Artinya, calon hanya ada tiga atau empat pasang. Kalau calonnya tiga pasang, Nurdin dan Ikhsan akan head to head, sementara Agus Arifin Nu’mang dan Nurdin Abdullah akan berusaha menangkap tumpahan dari pertaruangan antara NH dan IYL. Psikologi politiknya, jika kekuataan NH dan IYL berimbang, maka bisa-bisa Agus Arifin Nu’mang menjadi kuda hitam.
Pemilih Sulsel termasuk jenis pemilih yang moderat, sangat toleran, dan memiliki daya ingat yang tinggi. Kalau seseorang pernah melakukan kesalahan pada masa lalunya, itu akan senantiasa diingat, dan akan menjadi rujukan bagi mereka dalam menentukan pilihannya.
Nurdin Halid punya masa lalu yang kurang seksi secara politik, karena pernah tersangkut masalah hukum. Sedangkan IYL mau-tidak mau publik akan selalu dihubungkan dengan klan Yasin Limpo. Lagi-lagi pada posisi ini Agus Arifin Nu’mang dan Nurdin Abdullah bisa menjadi kekuatan politik baru, dan dipandang bersih dan netral oleh publik.
Kedewasaan politik Indonesia sangat dibutuhkan agar pembangunan ekonomi tidak terganggu oleh perhelatan politik. Kita membutuhkan kematangan emosi elit-elit politik, agar politik Indonesia tidak dipandang sebagai cerita bersambung yang tidak pernah bergerak maju.










