[OPINI] Covid-19, Kemanusian dan Pemerintah

Prayugo Saputra, Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Di Universitas Muhammadiyah Malang

INIPASTI.COM, OPINI – Wabah covid-19 atau sering disebut dengan virus corona, yang saat ini jumlah kasus positif di Indonesia terus bertambah totalnya pada sabtu, 21 maret 2020 menjadi 450 orang. Penulis disini tidak bercerita tentang bagaimana penyebaran virus itu terjadi, akan tetapi lebih hendak menyampaikan arti kemanusiaan, yang tercantum didalam sila kedua Pancasila yaitu “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Karena menurut penulis disaat ada wabah yang merupakan masalah besar masih ada manusia yang bersifat minim adab, egosentris dan tidak memikirkan manusia lainnya.

Bermula dari informasi ditingkatkannya status darurat corona oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB, menetapkan Covid-19 sebagai bencana nasional non-alam. Dari situ pula muncul permasalahan baru yang menyangkut terkait dengan kebutuhan pokok. Bermula dari harga yang tinggi sampai dengan barangnya langka.

Inline Ad

Permasalahan

Dalam kasus corona yang pasiennya semakin meningkat, ada pula peningkatan yang selaras dan merupakan permasalahan baru. Yaitu: mulai dari panic bullying, harga kebutuhan yang meroket, kelangkaan barang yang sangat dibutuhkan (masker, hand sanitizer), dan yang paling parah adalah ketidak merataan bahan pokok makanan. Hal ini yang menjadi landasan mengapa penulis ingin menyampaikan arti kemanusiaan. Penyebab dari semua permasalahan adalah sifat egosentris manusia itu sendiri.

Baca Juga:  5 Hal Berpenghasilan yang Dapat Anda Pelajari di Rumah di Tengah Pandemi Covid19

Sifat serakah manusia, merupakan objek utama dalam melihat kenapa bisa terjadi permasalahan ditengah masalah, susahnya didapatkan kebutuhan bahan pokok, yang dikarenakan ada dari golongan masyarakat yang mampu memborong stock bahan pokok, dengan jumlah yang banyak. Sehingga masyarakat yang cuma mampu membeli kebutuhan yang kiranya hanya dapat bertahan 2-5 hari saat ini sulit mendapatkan kebutuh pokok tersebut. Boro-boro nyetok bahan pokok yang bisa bertahan sampai dengan waktu 2 bulan kedepan. Hal ini tentu akan mempersulit bagaimana efektifnya mengisolasi diri, ditambah lagi BNPB menetapkan status keadaan darurat wabah virus corona sampai dengan 29 mei 2020.

Tentu jika melihat peristiwa seperti ini nilai-nilai kemanusian mulai luntur, kemanusian yang adil dan beradab yang tercantum dalam Pancasila saat ini menggantung, mengapa demikian? Karena adil dan beradab akan hilang ketika berhadapan dengan keserakahan.

Dalam kasus pembagian golongan

Penulis membagi 2 golongan masyarakat, yaitu masyarakat yang dapat work from home (bekerja dari rumah) dan work in the field (bekerja di lapangan). Umumnya golongan masyarakat yang dapat bekerja di rumah adalah masyarakat dengan ekonomi menengah atas, seminim-minimnya dapat bekerja dengan menggunakan alat elektronik, ya seperti pekerja-pekerja kantoran pada umumnya. Untuk golongan yang berkerja di lapangan, mayoritas dengan ekonomi yang relatif rendah yang menggantungkan hidup kepada pendapatan harian, layaknya pedagang keliling, ojek dan lain-lain yang sifatnya mendapatkan penghasilan dari besarnya pekerjaan yang dilakukan.

Baca Juga:  Coronavirus Ternyata Dapat Bertahan Lama pada Suhu 60° C, Menurut penelitian

Dari pembagian golongan masyarakat inilah, diharapkan pembaca dapat menilai masyarakat mana yang akan dapat imbas besar dari pengisolasian diri, tentu jawabannya adalah masyarakat dengan ekonomi rendah, yang dengan isolasi diri tentu menghambat penghasilan untuk membeli kebutuhan, terlebih jika sudah langka dan diborong.

Peran khusus untuk kita semua, baik sebagai kaum yang dengan ekonomi tinggi, menengah dan rendah sekalipun, pada kasus ini harusnya dapat menjadi sama rata sama rasa. Jelas terlihat berat, tetapi ketika didalam diri kita masih menyimpan sifat serakah, maka nilai kemanusiaan itu sendiri akan punah, dan yang akan mendapatkan imbasnya orang banyak.

Selain sifat manusia, tidak kalah penting adalah peran Pemerintah, selaku pembuat kebijakan dan regulasi, yang dalam hal ini pemerintah menginginkan terciptanya kondisi masyarakat yang dapat mengisolasi diri sementara. Kiranya pemerintah mampu dalam memberikan berberapa jaminan yaitu mulai dari kesediaan kebutuhan pokok, layanan kesehatan yang sesuai dan memadai. Sehingga walau dalam keadaan yang disebut lock down atau isolasi diri kebutuhan masyarakat dapat tercukupi.

Baca Juga:  Pilkada Di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh: Prayugo Saputra,
Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan
Di Universitas Muhammadiyah Malang

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.