Penjara = Tempat “Pertobatan” Atau Justru “Sekolah Kejahatan”?

Oleh: Ahmad Usman*

SEBAGAI kelaziman saban tahun, di Bulan Suci Ramadhan, para narapidana mendapat hadiah remisi dan bahkan ada yang dibebaskan. Di Bulan Ramadhan tahun ini, kelaziman itupun berlaku. Harapan kita, para “alumni” Lembaga Pemasyarakatan (LP) ini, akan menjadi manusia yang baik, karena telah menjalani “pertobatan” panjang. Tapi nyata (das sein)-nya, tidak sedikit “alumni” LP menjadi resedivist/bromocora.

Inline Ad

Akhir-akhir ini, aksi kriminalitas terus terjadi dengan modus yang sangat variatif. Pihak keamanan pun dibuatnya tidak sabar, sehingga timah penahpun harus muncrat dari sarangnya—senjata, sebagai “shock therapy”-nya. Pemenjaraan penjahat, tidak otomatis membuat jera para pelanggar hukum. Kenapa dan ada apa dengan penjara !

Dalam gubahan ini, penulis sengaja mengulas tentang bui—lembaga pemasyarakatan. LP sering dituduh sebagai “school of crime” atau sekolah kejahatan. Kalangan kriminologi menyebutnya sebagai “miniatur kehidupan kriminal.”

Adanya tuduhan seperti itu, lantaran tidak sedikit “alumni” LP atau mantan narapidana sering kembali menjadi penjahat kambuhan atau resedivist/bromocora. Kembalinya penjahat menjadi resedivist, bukan tidak terargumentasi. Misalnya, menurut Teori Transmisi Kebudayaan, sebagaimana dikutip Mukrima (1991) bahwa “Dalam lingkungan sosial yang padat dengan kondisi kriminologi, bukan mustahil terjadi pewarisan nilai-nilai yang mendorong dilakukannya pelanggaran hukum.” Demikian halnya berdasarkan Teori Differential Association-nya Erwin H. Sutherland dan D. Cressey (Soekanto, 1997), bahwa “seseorang berperilaku jahat dengan cara yang sama dengan perilaku yang tidak jahat. Artinya, perilaku jahat dipelajari dalam interaksi dengan orang-orang lain, dan orang tersebut mendapatkan perilaku jahat sebagai hasil interaksi yang dilakukan dengan orang-orang yang berperilaku dengan kecenderungan melawan norma-norma hukum yang ada.”

Baca Juga:  Dosen dan Budaya Lokal  

LP yang didiami oleh orang-orang terpidana sangat mendukung Teori Differential Association ini, dan hal itulah yang sering dilakukan para narapidana di LP. Realitas ini, sesuai pula dengan apa yang dikemukakan Irwin (Petrus Irwan P. dan P. Simorangkir, 1995), bahwa budaya umum di Lembaga Pemasyarakatan terdiri dari tiga sub-kultur. Yaitu pertama, sub-penjahat, yaitu apabila narapidana mengikuti kehidupan yang ada di penjara. Kedua, sub-kultur pencuri, yaitu apabila narapidana menghayati kultur jahat dari luar. Dan ketiga, sub-kultur yang benar, yaitu apabila narapidana mengikuti norma yang benar.

Ketiga sub-kultur tersebut, sedikit banyak akan memengaruhi para narapidana. Seorang narapidana akan semakin menjadi-jadi, bahkan malah “profesional”, bila ia berada dan dipengaruhi oleh kultur penjahat dan mereka inilah yang dikhawatirkan kambuh dan menjadi resedivist/bromocora.

Beberapa tahun terakhir ini sering terjadi kerusuhan di LP, baik antar narapidana maupun antar narapidana dengan petugas LP. Bahkan bukan sekadar kerusuhan, akan tetapi telah terjadi pengrusakan dan pembakaran LP. Misi lain dari aksi kerusuhan, pengrusakan, pembobolan, dan pembakaran tersebut, yakni ingin melarikan diri dari LP atau dengan kata lain para narapidana tidak tahan hidup terbelenggu di balik teruji besi LP dan bermaksud sesegera mungkin hidup bebas di luar LP.

Baca Juga:  Memilih Guru Ibarat Kontes Ratu Kecantikan

Mengapa LP masih menjadi sekolah kejahatan ? Pertama, ketertutupan LP dengan segala macam misterinya terhadap dunia luar. Kedua, keberadaan LP dengan segala macam praktek kejahatan di dalamnya mengakibatkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadapnya, dan dampaknya adalah tidak dipercayainya bekas narapidana setelah berada di masyarakat. Hal ini senada dengan apa yang pernah dikemukakan Thomas Sunaryo (1991), penjara yang tampaknya tentram dari luar, sebenarnya, menyelubungi tragedi-trgadei kemanusian di dalamnya dalam dimensi-dimensi yang lebih mencekam dari apa yang tampak bagi dunia luar sebagai insiden-insiden yang meresahkan seperti pelarian dan lain-lain. Baik pelarian itu berupa pelarian fisik maupun pelarian mental (psichological with drawal) dan berupa wujud tingkah laku di mana para terpidana mengkhyalkan kehidupan di alam bebas di luar penjara.

Memang, pidana penjara yang dilaksanakan berdasarkan pandangan yang bersifat pemidanaan semata-mata, akan lebih banyak menghasilkan penjahat daripada mencegahnya, demikian The American Correctional Assoiation (1959). Dinyatakan selanjutnya, bahwa pidana penjara yang bersifat pemidanaan (punitive imprisonment) saat ini tidaklah merupakan alat pencegah yang efektif kebanyakan penghuni penjara.

Mestinya, suatu pidana dapat disebut sebagai alat pencegah yang ekonomis! Kapan? Pidana dapat berfungsi sebagai pencegah yang ekonomis, jika dipenuhi syarat-syarat: pidana itu sungguh-sungguh mencegah; pidana itu tidak menyebabkan timbulnya keadaan yang lebih berbahaya/merugikan daripada yang akan terjadi apabila pidana itu tidak dikenakan; dan tidak ada pidana lain yang dapat mencegah secara efektif dengan bahaya/kerugian yang lebih kecil (Barda, 1986).

Baca Juga:  Radikalisme, Fakta atau Ilusi?

* Penulis adalah Magister Sosiologi Unhas Makassar, Dosen STISIP Mbojo Bima NTB dan beberapa kali menerima penghargaan sebagai kolumnis, baik lokal, regional, maupun nasional

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.