INIPASTI.Com, MAKASSAR – Ketua Asosiasi Bawang Merah, Drs H Djayadi Silamma, MM, mengeluhkan tingginya harga bibit bawang merah yang saat ini mencapai Rp54 ribu per kilogram. Bibit ini didatangkan dari Bima, Nganjuk dan daerah lainnya.
Akibat melambungnya harga bibit bawang merah tersebut membuat sekitar 10 ribuan petani bawang di Enrekang belum menanam bawang sampai sekarang ini. Padahal menurut Djayadi Silamma semestinya akhir Agustus petani sudah serentak menanam bawang.
“Karena bibit bawang mahal maka banyak lahan saat ini belum ditanami masih kosong. Khusus untuk di Kecamatan Anggeraja luas lahan bawang merah mencapai 5426 ha dan rata-rata per hektar dikelola oleh dua orang petani bawang, artinya ada sekitar 10852 petani bawang di Anggeraja,”ujar Djayadi.
Djayadi yang juga adalah salah seorang pejabat di Kabupaten Enrekang ini, saat kunjungan peserta rapat kerja wilayah Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah Sulsel, kelokasi perkebunan bawang di Kecamatan Anggeraja mengatakan, bertani bawang seperti halnya bermain judi. Seperti jika saat panen harga melonjak petani menikmatinya.
Dikatakan, pernah harga bawang di Enrekang mencapai Rp 65 ribu banyak yang membeli mobil. Tetapi terkadang pula saat panen harga turun, petani rugi dan bahkan sampai tidak dapat modal kerja.
Dia juga mengatakan, biaya tertinggi diarasakan petani adalah investasi awal, pengadaan sarana produksi, kemudian harga pupuk. Sekaran ini ada pupuk inpor dari luar harganya per sak sampai Rp700 ribu.
“Petani banyak yang beli karena produksi berlipat. Hanya saja dalam jangka panjang merusak tanah dan ini sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup petani mendatang,”kuncinya.










