Oleh: Imam Mujahidin Fahmid*
Teori hegemooni adalah teori yang menekankan bagaimana penerimaan kelompok yang didominasi terhadap kehadiran kelompok dominan, berlangsung dan terjadi dalam suatu proses yang damai, tanpa tindakan kekerasan. Media dapat menjadi panggung yang paling eksotis untuk mengukuhkan posisi kelompok tertentu dan merendahkan kelompok lain.
Di dalam proses hegemoni itu, didahului oleh proses wacana, yakni proses yang menggambarkan situasi masyarakat tertentu yang berwajah; baik atau buruk di media massa, yang berlangsung dalam suatu proses yang kompleks. Proses wacana yang memarjinalisasi itu seakan-akan berlangsung secara wajar, apa adanya, dan dihayati bersama. Khalayak tidak merasa dipreteli kesaddarannya atau dimanipulasi oleh media. Bagaimana proses ini berlangsung? Konsep hegemoni dapat menolong kita untuk menjelaskannya.
Titik penting dari teori hegemoni ada pada bentuk ekspresi, cara penerapan, mekanisme yang dijalankan untuk mempertahankan dan mengembangkan diri ditengah-tengah para calon korbannya,hingga upaya itu benar-benar berhasil mempengaruhi dan membentuk alam pikiran mereka. Melalui konsep hegemoni, ideology kelompok dominan dapat didiseminasi, disebarkan, nilai dan kepercayaan dapat dipertukarkan dan dapat menerobos alam pikiran massa. Meskipun memiliki target dan tujuan yang sama, konsep hegemoni berbeda dengan tindakan manipulatif atau indoktrinasi. Konsep hegemoni nampak berlangsung secara alamiah, terlihat wajar. Karena itu,wacana sebagai alat hegemonisasi dapat diterima sebagai kewajaran dan sukarela.
Kekuatan utama konsep hegemoni terletak pada bagaimana kemampuannya mendesain dan merumuskan cara berpikir atau wacana tertentu yang diarahkan untuk mendominasi, menjadi satu-satunya yang dianggap benar, sementara wacana lain dianggap salah. Untuk melancarkan operasinya, konsep hegemoni menjadikan media massa sebagai panggung publik yang secara tidak sengaja dijadikan sebagai alat bagi nilai-nilai atau wacana yang dipandang dominan itu disebarkan, agar meresap dalam benak khalayak sehingga seakan-akan menjadi konsesus bersama. Sementara nilai atau wacana lain dipandang sebagai menyimpang dan melanggar nilai-nilai sosial. Dalam melakukan gerakan hegemonisasinya, wacana dioprasikan melalui suatu proses atau cara kerja yang tampak wajar. Dalam produksi berita, proses itu terjadi melalui cara yang halus, sehingga apa yang terjadi dan diberitakan oleh media tampak sebagai suatu kebenaran, logis dan bernalar (common sense) dan semua orang menganggap itu sebagai suatu yang tidak perlu dipertanyakan.
Teori hegemoni Gramsci menekankan bahwa dalam lapangan sosial ada pertarungan untuk memperebutkan penerimaan publik. Karena pengalaman sosial kelompok subordinat (apakah oleh kelas, gender, ras, umur, dan sebagainya) berbeda dengan ideologi kelompok dominan untuk menyebarkan ideologi dan kebenarannya tersebut agar diterima, tanpa perlawanan. Salah satu kunci strategi kunci dalam hegemoni adalah nalar awam. Dalam pandangan hegemoni Gramsci,, kelompok kelas dominan dan anggotanya menjalankan kekuasaan terhadap kelas-kelas di bawahnya dengan dua cara, yaitu kekerasan dan persuasi. (Simon, 2004:9) Cara kekerasan (represif/ dominasi) yang dilakukan kelas atas terhadap kelas bawah disebut dengan tindakan dominasi, sedangkan cara persuasinya dilaksanakan dengan cara-cara halus, dengan maksud untuk menguasai guna melanggengkan dominasi. Perantara tindak dominasi ini dilakukan oleh para aparatur negara seperti polisi, tentara, dan hakim. Menurut Gramsci, faktor terpenting sebagai pendorong terjadinya hegemoni adalah faktor ideologi dan politik yang diciptakan penguasa dalam mempengaruhi, mengarahkan, dan membentuk pola pikir masyarakat. Sangat jelas bahwa, hegemoni dipergunakan untuk menunjukkan adanya kelas dominan yang mengarahkan “tidak hanya mengatur” masyarakat melalui pemaksaan kepemimpinan moral dan intelektual, (Storey, 2003:172), yang oleh Gramsci disebut “intelektual organic”. Mereka adalah tokoh moral dan intelektual yang secara dominan menentukan arah konflik, politik, dan wacana yang berkembang di masyarakat. Mereka bekerja untuk melanggengkan kekuasaan atas kelompok yang lemah. Dominasi “intelektual organic” diwujudkan melalui rekayasa bahasa sebagai sebuah kekuasaan.
Melalui berbagai media bahasa ditunjukkan hadirnya kekuasaan dan pengaturan hegemoni tersebut. Berbagai kebijakan negara, misalnya, disampaikan dalam bahasa “untuk kepentingan bangsa di masa mendatang” atau “demi kemandirian bangsa” telah menghegemoni masyarakat untuk senantiasa menerima berbagai keputusan negara, yang merugikan sekalipun. Misalnya, hegemoni bahasa politik digunakan oleh para politisi untuk membantu bagaimana bahasa digunakan dalam persoalan-persoalan (1) siapa yang ingin berkuasa, (2) siapa yang ingin menjalankan kekuasaan, dan (3) siapa yang ingin memelihara kekuasaan (Beard, 2000:2).
Bahasa menjadi sarana penting untuk melayani fungsi hegemonik tertentu. Dalam konteks ini, bahasa dijadikan sebagai alat untuk menutup peluang dan ruang publik bagi agen masyarakat yang mencoba untuk berbuat lain di luar kerangka ideologi kelompok hegemonik.Bahasa dapat dipinjam untuk kepentingan hegemonik dalam berbagai cara, antara lain dengan stilisasi, skaz, parodi, dan polemik terselubung. Bahasa yang diwacanakan menurut Althusser, adalah ideologi dalam praktik. Tak ada ideologi tanpa wacana, dan tak ada wacana tanpa ideologi. Ideologi yang tidak mewujud secara material, akan kehilangan fungsinya. Lebih jauh lagi, sesuai teori Marxis, wacana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari formasi sosial yang ada, formasi sosial yang terbangun dari dua atau lebih kelas sosial yang saling bertentangan, terlibat dalam pertentangan dan pertarungan kelas dengan ideologinya masing-masing.
Dengan demikian, tindakan hegemonitatif adalah kapasistas menggunakan bahasa untuk mewacanakan kepentingan hegemonik di atas panggung media massa. Dengan memahami formulasi ini, maka counter hegemonik dapat dilakukan dengan mewaspadai wacana yang menggunakan bahasa terselubung dengan tidak berpijak kevaliditasan data. Akhirnya, media yang independen adalah media yang mewacanakan sesuatu dengan bahasa yang terang benderang berdasarkan data yang valid dan benar, ini yang disebut sebagai journalisme berbasis data.
* Imam Mujahidin Fahmid
Lecturer at University of Hasanuddin
Jln. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Makassar, South Sulawesi, Indonesia










