INIPASTI.COM, MAKASSAR-Produksi kopi di Sulsel, baik itu arabika maupun robusta berpotensi mencapai 1 ton/ha. Kopi robusta saat ini baru mencapai 569 kg/ha sementara kopi arabika baru mencapai 673 kg/ha.
Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Sulsel, Ir Muhammad Arsyad, mengatakan, masih rendahnya produksi kopi yang dicapai, karena beberapa faktor, diantaranya petani kita belum menggunakan bahan tanaman yang unggul sesuai dengan agro eekosistem Sulsel dimana tempat tumbuhnya kopi.
Selain itu, karena rendahnya penerapan teknologi budidaya kopi belum memenuhi standar sehingga untuk kegiatan TA 2017/2018 akan melakukan kegiatan pemilihan varietas unggul yan cocok untuk ekosistem .
Di Sulsel kata Muhammad Arsyad, produksi kopi terbesar di Enrekang dan Tanatoraja. Juga didaerah lainnya, adalah Bantaeng, Pinrang dan Bulukumba. Ada satu jenis kopi khas Pinrang adalah kopi Basseang. Kopi ini nantinya akan dipajang diacara pameran yang akan dilaksanakan beberapa waktu kedepan.
Kemudian yang akan dilakukan adalah intensifikasi (pemupukan berimbang), serta melakukan peremajaan dan rehabilitasi pada tanaman kopi yang sudah berumur tua.
Arsyad menambahkan setiap daerah cita rasa kopinya agak berbeda. Seperti kopi arabika memiliki cita rasa yang paling disukai oleh mancanegara, sehingga permintaan kopi arabika di luar negeri semakin tinggi.
Kopi dari Sulsel ini memiliki cita rasa dan aroma yang khas. Oleh karena itu permintaan kopi di beberapa negara sangat tinggi, seperti Amerika, Brasil, Vietnan, Belgia, dan Jepang.
Sekadar diketahui luas areal kopi robusta mencapai 22.945 ha, sedangkan kopi arabika mencapai 47.615 ha.(nasrullah).










