INIPASTI.COM, MAKASSAR – Sekiranya Abraham Lincoln berhenti setelah gagal pertama kali, maka dia tidak akan pernah menjadi Presiden Amerika terbaik yang pernah ada. Seandainya Thomas Alfa Edison berhenti di percobaan kedua, mungkin kita tidak akan pernah menikmati bola lampu. Andaikan Wright Brothers berhenti di percobaan ketiga mungkin kita tidak akan pernah menikmati Pesawat terbang. Demikian pula dengan sosok anak muda ini. Tidak lulus pada seleksi Akabri tahun 1985 ketika lulus dari SMA Negeri 1 Makasaar tidak membuat jiwa dan semangatnya pupus, karena orang yang kalah adalah orang yang tidak berhasil pada kesempatan pertama, kedua, dan ketiga kemudian memutuskan untuk berhenti. Demikian prinsip yang dianut oleh anak muda ini. Dia adalah Chaerul Amir.
Kampus dan Cita-Cita
Atas semangat juang yang tinggi, seorang Chaerul Amir akhirnya diterima di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin pada tahun 1985. Rupanya sosok yang bersahaja dan supel ini mempunyai jiwa yang humanis sehingga selalu memilih karir/ pendidikan yang berkaitan dengan pengabdian pada hukum.
Selepas dari Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, dia diterima di Kejaksaan Republik Indonesia pada tahun 1994. Disinilah dia mulai meniti karir mengabdikan hidupnya kepada penegakan hukum di Indonesia.
Riwayat Pekerjaan
Chaerul Amir lahir di Makassar pada tanggal 22 Desember 1965 sekarang memiliki seorang istri dan 2 orang anak. Lelaki yang bersahaja ini sangat menikmati pekerjaan yang digelutinya saat ini, sehingga membawanya ke jenjang karir yang cemerlang. Sebelum lulus pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) pada Agustus 2016, dia menjabat sebagai Kepala Biro Hukum dan Hubungan Luar Negeri pada Jaksa Agung Muda Bidang Pembinaan sejak Desember 2015. Sementara itu sampai pada Desember 2015 ia dipercayakan sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat. Semua amanah itu diterima dan dilaluinya dengan rasa syukur dan penuh tanggungjawab. Dia tidak bangga akan keberhasilan, pun tidak malu karena kegagalan, melainkan selalu bersyukurlah untuk keduanya.
Kemauannya kuat dengan semangat yang tidak mudah menyerah mengantarkan dia mengukir banyak prestasi membanggakan. Menjadi jaksa penerima Sidha Karya sebagai Asisten bidang Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) terbaik II Nasional pada tahun 2012. Dipercaya menangani kasus-kasus korupsi besar seperti kasus BLBI. Waktu menjadi Kajari Tanjung Selor, dia berhasil menangani kasus korupsi nomor tiga terbanyak di Kalimantan Timur. Dan ketika menjabat sebagai Aspidsus, dia berhasil membawa Kejati Sulsel peringkat kedua se-Indonesia dalam hal penanganan kasus korupsi.
Saat ini Chaerul Amir baru saja melepaskan Jabatan Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh dan selanjutnya diangkat dan dipercayakan sebagai Direktur Ekonomi dan Keuangan pada Jaksa Agung Muda Intelijen Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Kiranya cita-cita Chaerul kecil yang suka dengan jabatan yang mempunyai pangkat terus berlanjut dan tidak akan berhenti sampai di situ saja. Layar jabatan sudah dikembangkan, biduk tanggungjawab segera berlayar. Selanjutnya dia akan mewarnai penegakan hukum di Indonesia pada lembaga yang sangat agung. Suatu tanggungjawab yang tidak ringan.
Kekuatan Prinsip
Kualleangi tallanga na toalia
Demikian falsafah hidup masyarakat Bugis Makassar dalam menjalani kehidupannya sebagai makhluk sosial. Filosofi ini mengandung dua makna yang sangat tinggi yaitu pantang menyerah dan kerelaan berkorban. Selalu berusaha, berjuang, gigih, dan berani demi menggapai apa yang dicita-citakan meskipun harus memilih menyerahkan milik hidupnya yang paling berharga yaitu “nyawa”.
Selamat berjuang Pak Chaerul Amir dalam menapak karir-karir selanjutnya. If you really want to do something, you’ll find a way, If you don’t, you’ll find an excuse. (Jim Rohn).
Makassar, 14 Sept 2018
Muhammad Zaiyani










