INIPASTI.COM, MAKASSAR – Proyek Kereta Api Trans Sulawesi, tahap pertama Makassar-Parepare mendapat respon yang cukup bagus dari para investor, bahkan Kementerian Perhubungan mencatat setidaknya ada sekitar 16 investor baik dari luar negeri dan dalam negeri tertarik ikut membiayainya
Seperti diketahui, Kereta Api Trans Sulawesi merupakan salah satu proyek yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), di mana tahun ini ditargetkan rampung jalur Barru-Palanro 44 Km.
Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulsel, Jufri Rahman mengakui banyak pihak swasta yang tertarik untuk melanjutkan proyek ini, ada dari Jepang, Cina, Korea Selatan, termasuk juga dalam negeri. Namun, ia mengaku bahwa investor yang akan terlibat tentu telah melalui proses lelang dari Kementerian.
“Pemerintah mengandeng pihak ketiga, dalam hal ini investor karena keterbatasan anggaran, mereka menggunakan sistem Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU),” kata Jufri Senin (23/4/2018)
Menurutnya, dengan mengandeng investor tentu keuntungannya, proyek ini dapat cepat rampung dan termanfaatkan. Terkait investor yang paling berpeluang melanjutkan proyek ini, ia pun enggan menyebutkannya.
“Saya tidak ingin berandai-andai, jangan sampai saya bilang investor dalam negeri, ternyata yang memenuhi syarat termasuk anggaran lebih banyak dari luar. Biarkan semua berproses, karena yang pemenang tender yang akan mengerjakannya,” ujarnya
Sebelumnya Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebutkan sampai saat ini ada 16 perusahaan yang tertarik mengerjakan proyek rel kereta api Trans Sulawesi rute Makassar-Parepare. Rute itu membentang 144 kilometer dengan nilai investasi Rp1,3 triliun.
Menurutnya, saat ini Kementerian Perhubungan masih membuka lelang Kerja Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) untuk proyek tersebut. Investor yang tertarik, disebut berasal dari dalam maupun luar negeri.
“Lelang KPBU memungkinkan investor bukan dari dalam negeri saja. Saya sarankan kerja sama dengan investor, agar kita bisa lebih mendapatkan manfaat,” kata Menteri Budi usai berbicara pada kuliah umum di Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (19/4/2018)
(Iin Nurfahraeni)










