Putus Asa karena Di-bully Tiap Hari, Ini yang Dilakukan oleh Ibunya

Quaden tengah berurai air mata saat divideokan sesaat setelah insiden pengolok-olokan baru-baru ini/foto. skynewsi

INIPASTI.COM – Seorang ibu meminta nasihat setelah memposting video putranya yang berusia sembilan tahun yang putus asa menceritakan kesedihannya karena “terus-menerus” diolok-olok (di-bully) karena tubuhnya kerdil atau katai.

Quaden Bayles (9), dari Queensland, Australia, sedang berurai banjir air mata di rekaman Facebook ketika ia berbicara tentang dirinya yang diolok-olok karena kecacatannya.

Inline Ad

“Saya ingin mati sekarang … berikan saya pisau, saya akan bunuh diri. Beri aku pisau sekarang supaya aku bisa menusuk jantungku. Lihat saja nanti…” katanya dalam cuplikan rekaman video dari dalam mobil ibunya.

Sesaat kemudian dia menambahkan: “Saya ingin seseorang membunuh saya … saya ingin mati.”

Ibu Quaden, Yarraka, yang memfilmkan video itu, mengatakan: “Inilah hasil olok-olokan mereka,” lalu menjelaskan bahwa dia harus “terus menerus mengawasinya karena dia selalu berusaha bunuh diri”.

“Jadi sekarang kita memiliki anak yang sangat ingin bunuh diri karena tidak tahan lagi dengan olok-olokan dan penindasan yang setiap hari dia hadapi di sekolah atau di depan umum.

“Bayangkan, setiap hari! Setiap hari dia diperlakukan seperti itu!”

Yarraka melanjutkan dengan mengatakan bahwa dia memulai syuting video pada hari Rabu (19/02/20) setelah menyaksikan sendiri sebuah insiden ketika dia mengambil Quaden dari sekolah.

Baca Juga:  Jiayou Wuhan Senandung Polisi Indonesia untuk Warga Wuhan

Dia berkata: “Kami  menjemputnya dan melihat seorang siswa menepuk kepalanya dan mengolok-olok tinggi badannya … Dia berlari ke mobil dengan histeris karena dia tidak ingin saya membuat keributan di sekolah.”

Melalui video yang dibuat dari mobilnya, dia menyampaikan bahwa dia merasa “gagal” menjadi orangtua akibat insiden harian berupa “olok-olok, ejekan terhadap dirinya” telah “menyakiti kami sebagai keluarga”.

“Saya sudah menelepon sekolah,” tambahnya. “Sudah beberapa kali. Namun, setiap kali ada saja anak baru yang katanya tidak menyadari kondisi Quaden.”

Quaden dilahirkan dengan achondroplasia dwarfism, suatu kondisi genetik yang memengaruhi pertumbuhan seseorang.

Bayles mengatakan dia ingin orang tua mendidik anak-anak mereka tentang efek pengolok-olokan dan meningkatkan kesadaran akan disabilitas.
Video tersebut telah ditonton lebih dari tujuh juta kali sejak disiarkan ke Facebook pada Rabu (19/02/20) sore.

Video itu juga telah dibagikan ratusan ribu kali dan menarik perhatian di seluruh dunia.
“Quaden, kamu ada di dalam hati kami, sekolah mungkin tidak memberimu tempat tetapi akan ada ruang untukmu di hati kami,” komentar seorang pengguna Facebook di video.

Baca Juga:  Picu Protes, 25.000 Jamaah Kumpul di Bangladesh Untuk Berdoa Atas Wabah Covid-19

Yang lain berkata: “Ini meremukkan hati saya. Saya sangat sedih orang kecil ini harus melalui ini … Anda adalah orang yang lebih baik daripada para pengganggu itu.”

Tim liga rugby pribumi All Stars juga memiliki pesan untuk Quaden, yang mereka poskan dalam video ke Facebook.

Mereka mengundangnya untuk memimpin mereka ke lapangan menjelang pertandingan pada hari Sabtu, mereka berkata: “Kami tahu kamu sedang mengalami masa sulit sekarang, tetapi di sini, kami mendukungmu.

“Pastikan saja kamu memikirkan hal yang benar karena kami ingin kamu ada di sana … itu akan lebih berarti bagi kami daripada kamu, sobat, pastikan kamu menjaga dirimu sendiri.”

Sementara itu, Ms Bayles merilis pernyataan melalui kelompok Dwarfisme Stand Tall 4 – di mana Quaden adalah anggota terkemuka – untuk mengatakan pesan dukungan telah “luar biasa”.

Dikatakan: “Keluarga Quaden Bayles pertama-tama ingin untuk berterima kasih kepada semua orang atas pertunjukan cinta dan dukungan yang luar biasa dari begitu banyak orang di seluruh dunia.

Baca Juga:  Bus Bintang Timur Kecelakaan di Burau, Lima Orang Meninggal Dunia

“Karena besarnya volume pesan, kami tidak dapat menanggapi semua orang saat ini karena kami perlu waktu untuk memproses sebagai sebuah keluarga dan ingin meminta media menghormati keinginan keluarga.” (T/Ar)

(news.sky.com)

Bottom ad

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.