INIPASTI.COM, SUDIANG – Umur boleh tua, tapi semangatnya tak kalah dengan Jemaah Calon Haji (JCH) yang masih terbilang muda. Pada usianya yang hampir 1 abad, Bunda Samsudin tampak masih kuat dan segar bugar. Kakek berusia 98 tahun ini bahkan tak perlu bantuan dari petugas haji Embarkasi Makassar.
Pada tas selempang pria kelahiran Gambaru, Halmahera Selatan ini tertulis ia lahir pada 12 Juli 1920. Namun, Bunda Samsudin tak merepotkan petugas haji untuk membawakan koper bawaannya. Ia menenteng dan mengangkat sendiri kopernya itu hingga naik ke bus.
Suami dari Majusiyah ini berbeda dengan JCH lansia pada umumnya. Bahkan JCH yang berumur setengah dari usianya sudah tampak menggunakan kursi roda, tapi ia mengaku masih kuat berlari hingga 100 meter.
“Saya kalau 100 meter masih kuat lari nak,” singkatnya kepada tim inipasti.com saat pelepasan JCH Kloter Kloter 9 Embarkasi Makassar di Asrama Haji Sudiang, Minggu, 22 Juli 2018.
Benar saja, selain bisa mengangkat barang-barangnya sendiri, pada tangan sang kakek tak ada gelang penanda bahwa ia mengidap suatu penyakit. Berbeda dengan JCH lain yang memakai gelang berwarna merah/orange yang menandakan bahwa JCH tersebut dalam kondisi resiko tinggi (risti).
“Tidak ada sakitnya itu, itu tidak dipakaikan gelang oleh dokter. Berarti dia sehat-sehat saja,” sela lelaki yang duduk di sampingnya.
Kakek 9 orang cucu ini pun mengatakan bahwa rahasia kesehatannya karena perilaku hidup sehat yang ia lakukan. Mulai dari tidak merokok, hingga makan makanan yang sehat serta ia panen sendiri.
“Saya itu tidak merokok. Saya tidak makan daging. Lauk saya ikan saja, itu pun ikan hasil pancingan sendiri. Makan sayur yang ditanam sendiri, seperti kangkung, nangka dan lain-lain,” urainya.
Ayah dua orang anak ini pun mengaku masih kuat dan semangat untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima ini. Walaupun ibadah haji merupakan ibadah yang paling menguras tenaga, ia tetap semangat untuk menggapai mimpinya yang sudah puluhan tahun.
Kisahnya bahkan tidak bermula dari situ, kakek yang merupakan seorang petani ini telah berjuang untuk menggapai mimpinya dengan menabung dari hasil bertani. Ia menyisihkan rezekinya dari hasil panen kelapa, cengkeh, dan pala di kebunnya untuk ditabung sebagai biaya ibadah haji yang kala itu sebesar Rp25 juta untuk pendaftaran.
Setelah terkumpul, tahun 2012 silam ia meneguhkan tekadnya mendaftar di Kementerian Agama Halmahera Selatan, Maluku Utara. “Waktu mendaftar, setor 25 juta 5 ratus ribu rupiah. Alhamdulillah itu hasil keringat sendiri dari hasil kebun,” ceritanya.
Bunda Samsudin kini telah berada di Madinah. Ia berangkat pada Senin 23 Juli 2018 pukul 00.57 dini hari. Ia tergabung dalam Kloter 9 Embarkasi Makassar. Harapannya seperti JCH lainnya, ingin mendapatkan predikat haji mabrur.
“Harapannya untuk anak-anak dan cucu-cucu saya semoga bisa juga berangkat. Dan semoga saya bisa mendapatkan haji mabrur,” tutupnya. (Sule)










