Oleh: M. Chairul Arifin (Burnabakti Kementerian Pertanian RI)
Siapa yang tak kenal rawon?. Kuliner Jawa Timuran ini sudah menjadi bagian santapan kita sehari hari. Saya pun yang perantau Jawa, Timur tidak pernah melewatkan waktu untuk menyantapnya. Pernah kami pserombongan dari Jakarta yang tiba di Surabaya jam 6 sore, makan rawon setan yang terkenal di Jl Embong Malang depan hotel JW Marriot untuk tahu kayak apa rasa, rawon itu, apalagi namanya, Rawon Setan
*Rawon Setan*
Ternyata disebut rawon setan itu karena dulunya, warung itu digemari oleh para, hostess yang makan malam sesudah mereka bertugas menemani laki laki hidung belang sekitar jam tiga dan empat dini hari. Mereka bertugas sampai menjelang pagi. Makanya, sampai sekarang warung itu berjuluk Warung Setan. Tentu saja diikuti oleh para hostess yang sudah menghilang yang diperkirakan sudah terjadi sejak tahun awal 1980 an mengikuti perkembangan metropolitan Surabaya.
Ditengah padatnya lalulintas Embong Malang, keberadaan warung rawon setan itu nyempil begitu saja. Tetapi bagi kalangan menengah kebawah adanya warung rawon setan ini cukup berarti sebagai pengganjal perut yang lagi keroncongan dan harganya tidak menguras dompet, rasanya enak menggoyang lidah.. Apalagi kaum perantauan macam saya ini
Rawon sop sapi hitam karena bumbu kluak itu memang khas. Dicampur dengan tauge ukuran kecil mentah yang ditabur disekitar rawon yang kaya bumbu ditambah sambel terasi, krupuk udang, ayam suwir, irisan tempe goreng dan telor asin merupakan pelengkap menambah sedapnya nasi rawon yang merupakan beef black soup dari Jawa Timur. Daging sapi yang dicampur berwarna hitam legam, ikut menjadi sedapnya, rawon. Situs kuliner tasteatlas.com menyebutkan bahwa rating 4,7. Rawon dipilih oleh 88 persen, yang cuek 8 persen dan yang membencinya, 4 persen.
Kuliner ini merupakan kuliner tradisionsl khas budaya arekan. Budaya yang dihuni oleh masyarakat yang dilintasi sungai Berantas di sekitar Suroboyo, Sidoharjo, Gresik, Mojokerto, Jombang dan Malang. Rawon pun termasuk dalam 10.803 masakan tradisional. Terdapat 23.457 restoran yang menyajikan sebagai menu andalannya. Oleh karenanya tasteatlas.com telah menobatkan rawon sebagai sup atau makanan berkuah yang paling yahud de Asia pada tahun yang lalu
Perkembangsn selanjutnya rawon mengalami inovasi atau kebaruan. Sebagian masyarakat malah menyukai kuahnya, dicampur dengan nasi pecel atau sebagai campuran dari rujak. Di Banyuwangi dan Surabaya mudah ditemui kedua jenis makanan yang berfusi ini.
*Rawon Nguling*
Jauh sebelum rawon setan, terdapat restoran rawon Nguling yang terletak di Jl Tambakberas Tongas di perbatasan Probolinggo dan Pasuruan jalur Pantura. Rumah Makan ini berdiri sejak tahun 1942 didirikan oleh Mbah Karyodiredjo dan Mbah Marni yang terus dilanjutkan oleh anak cucunya sampai generasi ke generasi. Rawon Nguling menjadi tempat stop over bagi banyak orang yang melalui jalur pantura untuk makan termasuk saya kalau kebetulan pulang ke Bondowoso arah Besuki lewat Arak arak. Sungguh saya menikmatinya
*Asal usul*
Rawon sejatinya, asal kata “rawa” yang diasosikan dengan kegelapan, hitam legam. Sup daging sapi dengan bumbu kluak dan aneka bumbu lainnya sudah dikenal sejak jaman Majapahit dulu sebagai santapan istimewa kerajaan. . Pada mulanya dipakai daging kerbau. Didaerah Ponorogo di jaman Majapahit dulu dipakai sebagai persembahan untuk yang hadir pada upacara penghormatan terhadap Sang Hyang Vatu Sima dengan suguhan antara lain Rawon. Seiring dengan penurunan populasi kerbau, dagingnya digantikan oleh daging sapi
Kini rawon tidak saja menjadi milik budaya arekan, tetapi juga sudah meluas lintas suku dan budaya di Indonesia, bahkan dikenal luas diseantero dunia yang menyajikan makanan khas Indonesia sehingga budaya kuliner rawon dapat dijadikan sebagai alat diplomasi kuliner Rawon oh Rawon yang ngangeni.










