Dalam rentang masa kepemimpinan Rektor UMI, Prof Dr Hj Masrurah Mochtar MA, yang sudah memasuki tahun kedua untuk periode keduanya (2014 – 2018), UMI telah mengalami kemajuan yang cukup pesat. Bahkan UMI menjadi perguruan tinggi swasta lingkup Kopertis Wilayah IX Sulawesi yang pertama terakreditas institusi B dari BAN-PT.
Di samping itu, Masrurah juga berhasil mengantar UMI masuk urutan 34 perguruan tinggi terbaik se-Indonesia, dari 4000-an perguruan tinggi yang di Indonesia. Sementara untuk tingkat PTS, UMI berada di urutan ke-9 terbaik di Indonesia.
Selama masa kepemimpinannya, UMI mengalami perkembangan yang sangat pesat. Termasuk di antaranya adalah, UMI mendapatkan skim penelitian yang cukup besar seperti Penelitian Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), Penelitian Tim Pascasarjana (PPS), Penelitian Strategis Nasional (Stranas), Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT), Penelitian Disertasi Doktor (PDD), Penelitian Hibah Bersaing (PHB), dan Penelitian Fundamental (PF), dan UMI perguruan tinggi swasta pertama lingkup Kopertis IX yang mendapatkan izin penyelenggaraan pendidikan Kedokteran.
Untuk mempertahankan supaya UMI tetap menjadi lembaga pendidikan tinggi yang terkemuka di Kawasan Timur, strategi yang dilakukan oleh Prof Masrurah adalah mengembangkan tiga pilar UMI, yaitu pendidikan, dakwah dan kesehatan. Hal itu sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dilaksanakan secara optimal.
“Melaksanakan proses pembelajaran sesuai standar mutu yang ditentukan, melaksanakan kegiatan penelitian bagi dosen maupun mahasiswa secara maksimal, serta melakukan pengabdian kepada masyarakat. Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, masing-masing strukturnya dibangun khusus. Sehingga dalam melakukan evaluasi mudah mengetahui aspek mana yang perlu diperbaiki,” ujar Masrurah Mochtar.
Selain keunggulan yang dimiliki di atas, Masrurah tetap mengakui kalau UMI saat ini masih memiliki kekurangan, terutama dari sisi publikasi jurnal. Untuk publikasi jurnal setiap prodi diberi kepercayaan untuk mengelola jurnal masing-masing. “Ini jauh lebih efektif ketimbang jurnal itu dikelola oleh institusi,” tandas Ketua Umum BKS PTIS.
Dalam hal pembinaan kemahasiswaan, UMI menawarkan 2 -5 calon mahasiswa penghapal Alquran kepada 35 desa mitra binaan UMI yang tersebar di seluruh Indonesia, untuk disekolahkan secara gratis, mulai dari pembayaraan SPP, akomodasi, konsumsi dan penginapannya ditanggung semua oleh UMI selama dalam pembinaan dan ini sudah berlangsung puluhan tahun. Diharapkan setelah menjadi desa binaan akan dilepas menjadi desa mandiri.
Untuk memajukan kualitas UMI, Prof Masrurah tidak hanya sekadar menuntut kinerja para dosen dan staf pegawai UMI, tetapi diimbangi degan penghargaan yang dinilai kinerjanya bagus, berupa umrah. Sekarang ini sudah ada seratusan dosen maupun karyawan yang sudah diberangkatkan ke tanah suci untuk melaksanakan umrah. Baru-baru ini sebanyak 40 orang dosen dan karyawan UMI yang baru pula dari tanah suci melaksanakan ibadah Umrah.
Masrurah memang punya obsesi besar selama masa periodenya menjadi rektor, yaitu minimal 75 persen dosen UMI sudah harus bergelar doktor (S3), serta seluruh dosen dan karyawan diberangkatkan ke tanah suci untuk melaksanakan umrah. “Ini dilakukan sebagai bentuk pemberian penghargaan kepada karyawan dan dosen,” ujarnya.
Sebagai orang nomor satu di UMI, Prof Masrurah tentu saja harus pandai-pandai mengatur waktu antara tugas dan kewajiban di kantor dan di rumah.
Hari libur dimanfaatkan untuk berkumpul bersama suami dan anak cucu untuk makan bersama. Sebagai istri, Masrurah selalu menyediakan waktu untuk suami tercinta, Prof Dr Mochtar Nurjaya. Meskipun pasangan suami istri ini juga berkolaborasi dalam urusan pekerjaan, di mana Prof Masrurah adalah Rektor UMI, sementara sang suami Prof Mochtar Nurjaya adalah Ketua Yayasan Wakaf UMI.
Hal ini tentu saja menguntungkan keduanya, karena pada akhirnya mereka dapat saling memahami tugas dan kewajiban masing-masing di luar rumah.
Memahami kesibukan istrinya yang memimpin sebuah perguruan tinggi swasta terbesar di Sulsel, Prof Mochtar pun tak segan-segan turun tangan menangani urusan rumah tangga. Misalnya, ikut membantu urusan menyeterika pakaian.
Kerjasama yang baik bagi pasangan akademik yang sama-sama professor ini pada akhirnya memberikan keselarasan dalam rumah tangga dengan nilai yang sungguh tinggi, bukan hanya bagi lingkungan akademik UMI, namun juga menjadi contoh sebuah keluarga yang patut menjadi teladan.










