INIPASTI.COM, JAKARTA – Rioriobon Carnival kembali memperlihatkan kemampuannya dalam ajang Puteri Indonesia, kali ini mengusung tema The Queen of Kalong from South Sulawesi hasil kolaborasi desainer asal Luwu, Ario Burnama dan Al Dursan. Kostum Tradisional ini akan dikenakan oleh Puteri Indonesia perwakilan Sulawesi Selatan 1, Nanda Aprianty Arief, pada malam Preliminary Show dalam sesi Traditional Costueme Show yang digelar di Balroom Kuningan City, Selasa (21/4) sore.
Ario Burnama menjelaskan, kostum ini hadir dari Sang Ratu Kalong, sosok legendaris yang dipercaya mendiami jantung Kota Soppeng. Karya ini mengisahkan kembali histori sakral tentang perjanjian masa lampau antara Sang Ratu Kalong dan Raja Soppeng. Dalam perjanjian itu, koloni kalong bersumpah senantiasa menjaga kedamaian kota serta tidak merusak hasil bumi, sebagai balasan atas ruang hidup abadi yang diberikan di pepohonan asam pusat kota.
Meski hanya digarap dalam waktu 2 minggu, detail pada The Queen of Kalong terasa megah dan kompleks. Siluet sayap, sulaman emas, hingga mahkota yang menyerupai koloni kalong di malam hari berhasil memadukan unsur mistis dengan kebanggaan budaya lokal.
Ario Burnama menyebut karya ini sebagai bentuk penghormatan pada cerita rakyat Soppeng. “Kami ingin orang tidak hanya melihat kelelawar sebagai hewan malam, tapi sebagai penjaga yang punya ikatan sosial dan spiritual dengan masyarakat,” ujar Ario yang juga seorang guru seni budaya di SMAN 12 Luwu ini.
Nanda Aprianty Arief akan membawa The Queen of Kalong sebagai kostum nasional Sulsel di ajang Puteri Indonesia 2026. Kehadirannya di malam Preliminary 21 April 2026 di Jakarta diharapkan mampu memperkenalkan kekayaan mitos dan identitas budaya Soppeng ke panggung nasional, sekaligus menunjukkan bahwa cerita lokal bisa menjadi simbol kebanggaan daerah di mata Indonesia.
Adapun makna warna pada kostum yang dipilih yakni, Ungu menyimbolkan kearifan, kedalaman spiritual, serta kebangsawanan yang diwariskan, hitam merepresentasikan ketangguhan, soliditas sosial, dan perlindungan magis yang menyelimuti kota di bawah naungan malam, emas: menegaskan makna kesejahteraan, kejayaan ekonomi, serta harapan masyarakat Soppeng.(In)










