“SAATNYA KITA HUNUS PEDANG” — Di Balik Rencana Serangan Iran ke Arab Saudi

Top Ad

Laporan Khusus Michael Georgy (Reuters 25 November 2019)

INIPASTI.COM, TEHERAN – Empat bulan sebelum serangkaian drone dan rudal melumpuhkan fasilitas pemrosesan minyak terbesar di dunia di Arab Saudi, para pejabat keamanan Iran berkumpul di sebuah kompleks yang dijaga ketat di Teheran.

Kelompok itu termasuk eselon puncak Korps Pengawal Revolusi Islam, pasukan elite militer Iran yang portofolionya mencakup pengembangan rudal dan operasi rahasia.

Topik utama hari di bulan Mei itu: Bagaimana menghukum Amerika Serikat karena menarik diri dari perjanjian nuklir penting dan memaksakan kembali sanksi ekonomi terhadap Iran, suatu langkah yang telah menghantam Republik Islam Iran dengan keras.

Di bawah pengawasan Mayor Jenderal Hossein Salami, Komandan Pasukan Pengawal Revolusi, seorang perwira senior menguraikan pandangan.

“Sudah waktunya untuk menghunus pedang kita dan memberi mereka pelajaran,” kata komandan itu, menurut empat orang yang mengetahui isi pertemuan itu.

Kelompok garis keras dalam pertemuan itu berbicara tentang menyerang target bernilai tinggi, termasuk pangkalan militer Amerika.

Namun, pendapat yang akhirnya disepakati adalah sebuah rencana yang menghindari konfrontasi langsung yang dapat memicu respons AS yang menghancurkan. Iran memilih untuk menargetkan instalasi minyak sekutu Amerika, Arab Saudi, sebuah proposal yang dibahas oleh para pejabat militer Iran dalam pertemuan Mei itu dan setidaknya empat yang mengikuti.

Pertemuan itu dijelaskan kepada Reuters oleh tiga pejabat yang mengetahui pertemuan tersebut, sedangkan narasumber keempat yang dekat dengan pengambilan keputusan Iran, adalah yang pertama kali menggambarkan peran para pemimpin Iran dalam merencanakan serangan 14 September terhadap Saudi Aramco, perusahaan minyak yang dikendalikan Arab Saudi.

Orang-orang ini mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyetujui operasi itu, tetapi dengan syarat yang ketat: Pasukan Iran harus menghindari korban warga sipil atau warga Amerika.

Reuters tidak dapat mengkonfirmasi pertemuan mereka dengan pemimpin teringgi Iran tersebut. Juru bicara Pasukan Pengawal Revolusi menolak berkomentar. Teheran dengan tegas membantah keterlibatan mereka.
Alireza Miryousefi, juru bicara Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, menolak versi peristiwa yang digambarkan empat orang itu kepada Reuters. Dia mengatakan Iran tidak berperan dalam serangan itu, bahwa tidak ada pertemuan pejabat keamanan senior terjadi untuk membahas operasi semacam itu, dan bahwa Khamenei tidak mengizinkan serangan apa pun.

“Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, dan tidak,” kata Miryousefi untuk pertanyaan rinci dari Reuters tentang dugaan pertemuan dan peran yang direstui Khamenei.

Kantor komunikasi pemerintah Saudi tidak menanggapi permintaan komentar.

Badan Intelijen Pusat AS dan Pentagon menolak berkomentar. Seorang pejabat senior pemerintahn Trump tidak secara langsung mengomentari temuan Reuters tetapi mengatakan “perilaku dan sejarah serangan-serangan destruktif dan dukungan Teheran terhadap terorisme selama puluhan tahun adalah alasan mengapa ekonomi Iran berantakan.”

Pemberontak Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran, di pusat perang saudara melawan pasukan Yaman yang didukung Saudi, mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas minyak Saudi. Deklarasi itu ditolak oleh para pejabat AS dan Saudi, yang mengatakan kecanggihan serangan itu menunjuk ke Iran.

Arab Saudi adalah target strategis.
Kerajaan itu adalah saingan regional utama Iran dan raksasa minyak bumi yang produksinya sangat penting bagi ekonomi dunia. Ini adalah mitra keamanan penting AS. Namun agresi militer Arab Saudi terhadap Yaman, yang telah menewaskan ribuan warga sipil, dan pembunuhan brutal terhadap jurnalis yang berbasis di Washington Jamal Khashoggi oleh agen-agen Saudi tahun lalu, telah merenggangkan hubungan Arab Saudi dengan Kongres AS. Tidak ada gelombang dukungan di Kongres untuk memberi bantuan militer kepada Saudi setelah serangan itu.

Baca Juga:  OPINI: Penistaan Agama Menggurita, Negara Acuh Tak Berdaya

Serangan yang berlangsung selama 17 menit pada dua instalasi Aramco oleh 18 drone dan tiga rudal yang terbang rendah mengungkapkan kerentanan perusahaan minyak Saudi, meskipun Arab Saudi telah menghabiskan miliaran dolar untuk memastikan keamanan instalasi minyak mereka. Kebakaran meletus di instalasi minyak Aramco di Khurais dan di fasilitas pemrosesan minyak Abqaiq, yang terbesar di dunia.

Serangan sementara mengurangi separuh produksi minyak Arab Saudi dan memangkas 5% dari pasokan minyak dunia. Harga minyak mentah global pun melonjak.

Serangan itu mendorong Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeountuk menuduh Iran telah melakukan “tindakan perang.” Setelah itu, Teheran dijatuhi sanksi tambahan oleh AS. Amerika Serikat juga melancarkan serangan dunia maya terhadap Iran, kata para pejabat AS kepada Reuters.

Republik Islam menuding “pengacau” yang terkait dengan Amerika Serikat dan musuh regional lainnya mengatur demonstrasi jalanan yang telah mengguncang Iran sejak pertengahan November, ketika pemerintah menaikkan harga bahan bakar.

Berbicara di sebuah unjuk rasa pro-pemerintah yang disiarkan televisi di Teheran pada hari Senin, Salami, Komandan Pasukan Pengawal Revolusi, memperingatkan Washington terhadap peningkatan ketegangan lebih lanjut: “Kami telah menunjukkan kesabaran terhadap langkah-langkah bermusuhan Amerika, rezim Zionis (Israel) dan Arab Saudi melawan Iran … tapi kami akan menghancurkan mereka jika mereka bertindak melampaui batas.”

SASARAN PENCUCIAN
Rencana oleh para pemimpin militer Iran untuk menyerang instalasi minyak Saudi direncanakan selama beberapa bulan, kata pejabat dekat yang dengan pengambilan keputusan Iran.

“Rinciannya dibahas secara menyeluruh dalam setidaknya lima pertemuan dan langkah terakhir diberikan pada awal September,” kata pejabat itu.

Semua pertemuan itu dilakukan di lokasi yang aman di sebuah kompleks di Teheran selatan, kata tiga pejabat kepada Reuters. Mereka mengatakan Khamenei, pemimpin tertinggi, menghadiri salah satu pertemuan di kediamannya, yang juga di dalam kompleks itu.

Para peserta lain di beberapa pertemuan itu termasuk penasihat militer utama Khamenei, Yahya Rahim-Safavi, dan seorang wakil Qasem Soleimani, yang mengepalai operasi militer asing dan operasi rahasia Pasukan Pengawal Revolusi, kata tiga pejabat itu. Rahim-Safavi tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar.

Di antara target yang mungkin awalnya dibahas adalah pelabuhan di Arab Saudi, bandara dan pangkalan militer AS, pejabat yang dekat dengan pengambilan keputusan Iran mengatakan. Orang itu menolak untuk memberikan detail tambahan.

Gagasan-gagasan itu pada akhirnya ditolak karena kekhawatiran tentang korban massal yang dapat memicu pembalasan besar-besaran oleh Amerika Serikat dan memberi alasan bagi Israel untuk bertindak, yang berpotensi mendorong kawasan itu menjadi kancah perang, kata keempat orang itu.
Pejabat yang dekat dengan pengambil keputusan Iran mengatakan kelompok itu sepakat pada rencana untuk menyerang instalasi minyak Arab Saudi karena hal itu bisa menjadi berita besar, menimbulkan kerugian besar terhadap perekonomian musuh dan pada saat yang sama juga mengirimkan pesan keras ke Washington.

Baca Juga:  OPINI: Refleksi Penanaman Modal Asing di Indonesia

“Kesepakatan tentang Aramco hampir tercapai dengan suara bulat,” kata pejabat itu. “Idenya adalah untuk menampilkan akses mendalam Iran dan kemampuan militernya.”
Serangan itu adalah yang terburuk di fasilitas minyak Timur Tengah sejak Saddam Hussein membakar ladang minyak Kuwait selama krisis Teluk 1991.

Senator AS Martha McSally, seorang veteran perang Angkatan Udara dan anggota parlemen Republik yang diberi pengarahan oleh pejabat AS dan Saudi, dan yang mengunjungi fasilitas Abqaiq Aramco beberapa hari setelah serangan itu, mengatakan para pelaku tahu persis di mana harus menyerang untuk menciptakan kerusakan sebanyak mungkin.

“Itu menunjukkan seseorang yang memiliki pemahaman yang canggih tentang operasi fasilitas seperti milik mereka, alih-alih hanya memukul foto satelit,” katanya kepada Reuters. Drone dan rudal itu, tambahnya, “berasal dari tanah Iran, dari pangkalan Iran.”

Sumber Timur Tengah, yang mendapat pengarahan dari sebuah negara yang menyelidiki serangan itu, mengatakan tempat peluncuran itu adalah pangkalan udara Ahvaz di Iran barat daya. Pernyataan itu cocok dengan tiga pejabat AS dan dua orang lainnya yang berbicara kepada Reuters: seorang pejabat intelijen Barat dan sumber Barat yang bermarkas di Timur Tengah.
Daripada terbang langsung dari Iran ke Arab Saudi di atas Teluk, rudal dan drone mengambil jalur yang berbeda dan berputar-putar ke instalasi minyak, bagian dari upaya Iran untuk menutupi keterlibatannya, kata berbagai sumber tersebut.

Beberapa pesawat itu terbang di atas Irak dan Kuwait sebelum mendarat di Arab Saudi, menurut sumber intelijen Barat, yang mengatakan bahwa lintasan memberikan Iran penyangkalan yang masuk akal.

“Itu tidak akan menjadi masalah jika rudal dan drone terlihat atau terdengar terbang ke Arab Saudi melalui Teluk dari jalur penerbangan selatan” dari Iran, kata orang itu.

Komandan Pasukan Pengawal Revolusi memberi tahu pemimpin tertinggi tentang keberhasilan operasi beberapa jam setelah serangan, menurut pejabat yang dekat dengan pengambilan keputusan negara itu.

Gambar kebakaran berkobar di fasilitas Saudi disiarkan di seluruh dunia. Pasar saham negara itu lumpuh. Harga minyak global pada awalnya melonjak 20%. Para pejabat Aramco di Saudi berkumpul di tempat yang disebut secara internal sebagai “ruang manajemen darurat” di kantor pusat perusahaan.

Salah satu pejabat yang berbicara dengan Reuters mengatakan Teheran senang dengan hasil operasi: Iran telah mendaratkan pukulan menyakitkan di Arab Saudi dan mengacungkan kepalan tangan kepada Amerika Serikat.

MENGUKUR KEKUATAN TRUMP
PASUKAN Pengawal Revolusi dan cabang-cabang lain dari militer Iran semuanya akhirnya melapor ke Khamenei. Pemimpin tertinggi Iran menanggapi dengan marah penarikan diri Trump tahun lalu dari Rencana Aksi Gabungan Bersama, yang biasa disebut kesepakatan nuklir Iran.

Kesepakatan 2015 dengan lima anggota tetap Dewan Keamanan AS – Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Cina dan Inggris – serta Jerman, menghapuskan sanksi bernilai miliaran dolar terhadap Iran dengan imbalan Teheran mengekang program nuklirnya.

Tuntutan Trump untuk kesepakatan yang lebih baik telah membuat Iran meluncurkan strategi bercabang dua untuk membebaskan diri dari sanksi yang diberlakukan kembali oleh Amerika Serikat, hukuman yang telah melumpuhkan ekspor minyaknya dan semua transaksi ekonomi lainnya kecuali menutupnya dari sistem perbankan internasional.

Presiden Iran Hassan Rouhani telah mengisyaratkan kesediaan untuk bertemu dengan para pejabat Amerika dengan syarat bahwa semua sanksi dicabut. Secara bersamaan, Iran memamerkan kecakapan militer dan teknisnya.

Baca Juga:  Menguak “Dosa-dosa” Perencana Kota

Dalam beberapa bulan terakhir, Iran telah menembak jatuh pesawat pengintai AS dan menyita sebuah kapal tanker minyak Inggris di Selat Hormuz, saluran sempit yang dilalui sekitar seperlima dari pergerakan minyak dunia. Dan telah mengumumkan keberhasilan mengumpulkan stok uranium yang diperkaya yang melanggar perjanjian PBB, bagian dari sumpahnya untuk memulai kembali program nuklirnya.

Serangan Aramco adalah eskalasi yang terjadi karena Trump telah mengejar tujuannya yang telah lama dinyatakan untuk melepaskan pasukan Amerika dari Timur Tengah. Hanya beberapa hari setelah mengumumkan penarikan tiba-tiba pasukan AS di Suriah utara, pemerintahan Trump pada 11 Oktober mengatakan akan mengirim jet tempur, persenjataan pertahanan rudal, dan 2.800 tentara lagi ke Arab Saudi untuk meningkatkan pertahanan kerajaan tersebut.
“Jangan coba-coba menyerang negara berdaulat lain, jangan mengancam kepentingan Amerika, pasukan Amerika, atau kami akan merespons,” Menteri Pertahanan AS Mark Esper memperingatkan Teheran dalam konferensi pers.

Namun, Iran tampaknya telah menghitung bahwa pemerintahan Trump tidak akan mengambil risiko serangan habis-habisan yang dapat membuat kestabilan kawasan dalam pelayanan melindungi minyak Saudi, kata Ali Vaez, direktur Proyek Iran di International Crisis Group, sebuah organisasi nirlaba yang bekerja untuk mengakhiri konflik global.

Di Iran, “garis keras berkeyakinan bahwa Trump tak lebih dari macan Twitter saja,” kata Vaez. “Karena itu mereka beranggapan bahwa hanya sedikit biaya diplomatik atau militer yang akan diterima akibat melakukan serangan itu.”

Pejabat senior pemerintahan Trump membantah anggapan bahwa operasi Iran telah memperkuat posisi tawar menawar mereka dalam penyusunan kesepakatan untuk sanksi dari Amerika Serikat.

“Iran tahu persis apa yang harus dilakukan untuk melihat sanksi dicabut,” kata pejabat itu.

Pemerintah AS mengatakan Iran harus mengakhiri dukungan untuk kelompok-kelompok teroris di Timur Tengah dan tunduk pada persyaratan yang lebih keras yang akan secara permanen mengaburkan ambisi nuklirnya. Iran mengatakan tidak memiliki hubungan dengan kelompok teroris.

Apakah Teheran menyetujui tuntutan AS masih harus dilihat.

Dalam salah satu pertemuan terakhir yang diadakan menjelang serangan ke instalasi minyak Saudi, komandan Pasusak Pengawal Revolusi lain sudah melihat ke depan, menurut pejabat dekat dengan pengambilan keputusan Iran yang diberi pengarahan tentang pertemuan itu.

“Yakinlah bahwa Allah SWT akan bersama kita,” kata komandan itu kepada para pejabat keamanan senior. “Mulai perencanaan untuk tahap selanjutnya.”

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.