Inipasti.com. Makassar- Sekjen DPP Golkar mengeluarkan pernyataan yang ditujukan kepada elit-elit politik Sulsel, terutama elit-elit politik yang ingin maju pada perhelatan Pilgub 2018 yang akan datang. Menurut Idrus, calon pemimpin Sulsel jangan berniat untuk menguasai Sulsel, tapi harus membangun Sulsel. Harapannya ini, disampakan Idrus di Warkop Phoenam Boulevard Makassar, kamis 19 Januari 2017.
Jika dimaknai, pernyataan Idrus mengindikasikan bahwa aktor elit yang ingin “menguasai” Sulsel adalah sosok yang lebih dominan untuk menjadi penguasa ketimbang pemimpin. Gubernur yang bertujuan membangun itu yang disebut sebagai pemimpin.
Mengapa Idrus Marham menuding ada aktor tertentu yang hendak menguasai Sulsel melalui pemilihan Gubernur? Apakah ada indikasi seperti yang dinyatakan Idrus? Kalau ditelisik, mereka-mereka yang mempersiapkan diri untuk maju pada Pilgum 2018, adalah Agus Arifin Nu’mang, Ikhsan Yasin Limpo, dan Nurdin Abdullah. Apakah kepada mereka ini pernyataan itu ditujukan?
Pernyataan itu tidak jelas ditujukan kepada siapapun. Namun, ketiga nama itu pernah dan masih berkuasa. Agus adalah Wagub Sulsel dua periode, yang dikenal memiliki dedikasi, sederhana dan keharmonisan dalam memimpin Sulsel bersama SYL. Ikhsan adalah mantan Bupati Gowa dua periode, dan untuk periode ketiga digantikan oleh anak kandungnya. Ikhsan juga adalah saudara kandung SYL, Gubernur Sulsel dua periode. Sedang Nurdin Abdulah, adalah Bupati Bantaeng dua periode. Apakah kepada mereka bertiga ini pernyataan itu ditujukan, atau salah satu dari ketiganya? Apakah yang dimaksud Idrus “menguasai” diarahkan kepada mereka yang ingin memperluas kekuasaannya, dari bupati menjadi Gubernur, atau dari Wagub menjadi Gubernur? Atau aktor yang bersama kelompok dan keluarganya ingin menguasai domain publik? Apakah Nurdin Halid yang dicalonkan Partai Golkar bisa bebas dari tuduhan Idrus Marham? Nurdin Halid adalah aktor politik dan organisatoris yang memimpin sejumlah organisasi. Memiliki saudara dan anak-anak yang banyak, dan mengisi sejumlah parpol di Indonesia, berbisnis dan berorganisasi. Bedanya, saudara dan anak-anak Nurdin Halid ikut berpolitik, tapi belum beruntung karena belum mendapat kepercayaan dari masyarakat.
Pada pileg 2014 yang lalu, tidak ada satupun saudara dan anak-anak Nurdin Halid yang bisa lolos terpilih menjadi anggota DPRD dan DPR. Sangat berbeda dengan keluarga Ikhsan YL yang hampir semuanya mendapat dukungan masyarakat untuk mengisi panggung politik Sulsel dan Nasional.
Dalam kondisi seperti ini apakah Nurdin Halid bisa bebas dari konflik interest untuk memperluas kekuasaannya? Karena ia harus mengakomodasi kepentingan keluarganya, dapatkah pernyataan Idrus juga ditujukan untuk Nurdin Halid?










