Semoga Menjadi Haji Mabrur

Muhammad Zaiyani

INIPASTI.COM – SETIAP orang yang pergi berhaji mencita-citakan haji yang mabrur. Hadits Nabi : “..dan haji mabrur itu tiada balasan bagi-nya melainkan Surga”. Namun sayangnya tidak semua orang meraih haji mabrur. Haji yang sah belum tentu mabrur (diterima oleh Allah Azza wa Jalla), sebaliknya haji mabrur sudah pasti sah karena telah dipenuhi semua syarat dan rukunnya.

Namun demikian karena ada sebahagian kecil jamaah yang mabrur, mungkin saja Allah Azza wa Jalla memberi karunia juga kepada yang lainnya, seperti dikatakan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali: “Yang hajinya mabrur sedikit, tapi mungkin Allah Azza wa Jalla memberikan karunia kepada jama`ah haji yang tidak baik dikarenakan jama’ah haji yang baik.”

Inline Ad

Mabrur (diterima oleh Allah) adalah hak prerogatif Allah. Yang dapat dilihat atau dirasakan adalah ciri-ciri nya saja. Mabrur bukan suatu proses yang instant, melainkan suatu proses yang panjang. Proses ini dimulai sebelum dan sesudah melaksanakan ibadah haji atau umrah. Haji yang mabrur bukanlah tujuan akhir melainkan awal dari suatu tanggungjawab yang lebih besar terhadap kehidupan beragama selanjutnya.

Baca Juga:  Pilkada, Belajar pada Tarian Elit Politik DKI

Delapan indikator haji mabrur yaitu : (1) ikhlas karena Allah Ta’ala tidak riya’; (2) biayanya dari rezeki yang halal. (3) menjauhi dosa, maksiat, dan bid’ah; (4) Dilakukan dengan tawadhu’; (5) Dilakukan dengan penuh pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar Allah); (6) Menjadi pribadi yang dermawan setelah pulang; (7) Menjadi pribadi yang berakhlak mulia dengan tutur kata yang santun; (8) Menjadi pribadi yang bergairah dalam ibadah dan semakin rajin berjama’ah ke masjid.

Baca juga: Sempurnakan Islam dengan Haji

Indikator tersebut berdasar pada : (1) “Allah Maha baik dan Ia tidak menerima kecuali yang baik…” HR. Muslim; (2) “..barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan…” QS al-Baqarah: 197; (3) Haji yang mabrur adalah “memberi makan orang yang kelaparan, dan tutur kata yang santun”. (HR. Ahmad dan Thabraniy) dan “Yang mengantarkan pelakunya kepada perubahan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya, terutama peningkatan ibadah (Imam Nawawi dalam kitabnya “al-Idhah fi Manasik al-hajj wal Umrah).

Baca Juga:  Lantik PPIH Embarkasi Makassar, Ini Pesan Menag RI

Mabrur adalah suatu proses transformasi atau hijrah untuk kembali ke titik nol melalui puncaknya ibadah haji yaitu wukuf. Wukuf di Arafah adalah perenungan atas diri atas apa yang telah dilakukan selama kita hidup serta merenungi kebesaran Allah. Wukuf di padang Arafah adalah gambaran padang mahsyar yang mengingatkan kita akan hari kebangkitan dimana kita akan mempertanggung-jawabkan sekecil apapun amal perbuatan yang telah dilakukan di dunia selama ini.

Wukuf telah selesai dan mabrur telah diraih. Kita berhijrah kembali ke titik nol laksana bayi yang baru lahir. Mari kita isi lembaran kertas kehidupan yang masih kosong ini dengan amalan yang di-ridha-i oleh Allah Azza wa Jalla ….Insya Allah.

Baca Juga:  Polisi Atur Jemaah Calon Haji dengan Sabar

والله أعلمُ بالـصـواب
Wallahu A’lam Bishawab

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.