INIPASTI.COM – Tulisan ini telah dimuat pertama kali di Harian Fajar (18/01/2018), sebuah testimoni dari SYL yang sangat penting untuk kita simak, tentang film Silariang: Cinta yang (Tak) Direstui (CYTD).
—
Silariang CYTD: Menonton Inovasi yang Mengoyak Hati
Oleh Syahrul Yasin Limpo
Pada Minggu 14 Januari 2018, saya diundang menonton Film SILARIANG: Cinta yang (tak) Direstui (CYTD), di XXI Mall Panakukang, Makassar. Film yang menceritakan tradisi Bugis Makassar tentang perkawinan yang tidak direstui lantaran berbeda status social. Silariang CYTD yang saya nonton itu mengisahkan pertemuan dua anak remaja yang saling mencintai. Lelaki yang bernama Jusuf adalah anak muda dari kalangan strata biasa, namun keluarganya memiliki kekayaan yang luar biasa. Sedangkan teman wanitanya bernama Zulaikha adalah keturunan bangsawan Bugis. Dua sejoli yang terlanjur jatuh cinta ini nekat mengabaikan “larangan” keluarganya masing-masing. Bahkan Jusuf dengan jelas menyebut “perlawanan” mereka adalah perlawanan atas kebekuan budaya yang dinilainya tidak manusiawi. Semula saya menduga, Film ini akan menyajikan kembali tradisi “berdarah” bagi orang Bugis-Makassar yang berani memilih jalan Silariang. Ternyata dugaan saya keliru, semakin kebelakang, film Silariang CYTD semakin sulit untuk ditebak kearah mana ekor cerita akan dibawa.
Wisnu (sutrada) berhasil memainkan ritme Film Silariang CYTD dengan apik. Ia berhasil mengaduk-aduk perasaan penonton, jebakan-jebakannya berhasil membuat penonton sedih dan membuncahkan rasa iba, tapi dalam detik dan menit berikutnya, penonton terbahak-bahak lantaran lakon yang dimainkan Akbar dan Bidan Dira. Lalu ada kekesalan penonton yang ditujukan kepada Jusuf yang mengajak istrinya (Julaikha) untuk mengakhiri hubungannya (cerai). Berkelindanlah airmata, tawa ceria dan marah, yang dibungkus dalam sebuah alur cerita yang berkesinambungan.
Menurut saya, Silariang CYTD datang dengan pesan yang kuat, meliputi: harga diri, cinta, dan kemanusiaan. Pesannya ada yang hendak di perkokoh, ada yang mau dibongkar, dan ada yang ditawarkan untuk didiskusikan sebagai sebuah alternative. Dengan pesan itu, Film ini mampu menunjukkan karakter asli orang Bugis Makassar, yang ditafsirkan sesuai dengan zamannya. Ketika Puang Rabiah (Dewi Irawan) tidak bergeming atas prinsipnya, terlihat sekali kekokohan karakternya sebagai orang Bugis Makassar, bahkan dengan prinsip yang dimilikinya ia menggusur tumpukan cintanya kepada Zulaikha yang sudah membatu puluhan tahun, dan diganti dengan simbolisasi kematian melalui upacara Mabaratta. Sebagai bangsawan, Puang Rabiah mampu memperlihatkan ketegaran saat ia mengucapkan Mabaratta, meskipun terbaca ada kepedihan yang menyayat hatinya. Pertarungan antara harga diri, cinta dan kemanusiaan sedang berpacu disini. Sayangnya, Silariang tidak secara jelas berpihak pada salah satunya.
Saya penikmat seni, penikmat film, dan bukan kritikus film, itu sebabnya saya hanya mampu menemukan sesuatu yang memberi saya kesenangan saat menonton Silariang CYTD. Bagian-bagian yang dianggap “kurang pas” dalam film ini silakan ditemukan oleh kritikus film. Dengan posisi sebagai penikmat film, saya berani memberi angka di atas 7 ( dari 1-10) untuk Silariang CYTD. Angka ini mengajak pecinta film untuk membuktikannya agar anda tidak kehilangan momentum untuk menikmatinya.
Bagi saya, menonton Film Silariang CYTD bukan sekedar menyaksikan acting, menikmati dialog-dialog satire yang cukup bernas, dan membaca script dari satu scene ke scene lain. Tapi Silariang CYTD telah memperlihatkan kreativitas dan inovasi yang tinggi, yang datang dari sumberdaya local daerah Sulsel. Secara pribadi saya bangga karena, tidak akan pernah ada inovasi dan kreativitas yang optimal kalau tidak ada kondisi social lingkungan yang terjaga dengan baik. Biasanya, masyarakat yang demokratis cenderung akan menganak-pinakkan individu yang kreatif dan inovatif. Inovasi akan menyebar kemana-mana, bisa melahirkan kreativitas ekonomi, yang dikenal dengan ekonomi kreatif. Film adalah satu tonggak tumbuh kembangnya ekonomi kretif. Dengan kreatifitasnya, film ini juga berhasil dengan baik mengeksplorasi keindahan Ramang-Ramang dan Kota Makassar. Saya yakin orang menonton Silariang CYTD akan takjub menyaksikan keindahan Ramang-Ramang.
Akhirnya, mari menonton Film Silariang CYTD yang akan diputar mulai 18 Januari 2018 di Bioskop Seluruh Indonesia, film ini akan mengoyak-ngoyak setiap hati yang beku karena keangkuhan, dan menyadarkan betapa pentingnya sebuah prinsip dan harga diri. Dan, mengikuti ajakan Film Silariang CYTD menjadi orang baik. Seperti yang tertuang dalam dialog antara Puang Ridwan dan Puang Rabiah: “Orang baik adalah orang yang berani menemukan keburukan untuk diperbaiki. Kalau ada yang patah, orang yang baik akan menyambungnya.”










