Singgung Ahok, Anies Baswedan: Lebih baik dikira bermasalah, ternyata tidak. Daripada …..

Prinsip Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (Foto: Sule/inipasti)
Top Ad

INIPASTI.COM, JAKARTA – Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Anies Baswedan menerima banyak tudingan dari berbagai pihak. Dari kasus Pameran Buku Frankfurt, Balap Mobil Formula 1, hingga yang paling mencuat akhir-akhir ini adalah kasus Lem Aibon.

Menanggapi tudingan-tudingan itu, Anies Baswedan mengaku rileks dan tidak ambil pusing. Menurutnya, apa yang dia kerjakan adalah hal yang benar.

“Kita sih rileks. Kenapa rileks? Tidak ada hal salah yang saya kerjakan, dalam urusan ini yah. Insya Allah, kita kerjakan yang benar. Begitu ada masalah dibereskan,” tegasnya pada channel YouTube Deddy Corbuzier yang diposting pada 13 November lalu.

Baginya, dia tidak takut dianggap oleh sebagian orang itu salah. Yang terpenting bagi Anies adalah apa yang dikerjakannya sesuai dengan fakta dan aturan yang ada.

Baca Juga:  Sekjen Kemenag Tekankan Ini kepada Kakanwil Kemenag se-Indonesia

“Lebih baik dikira bermasalah, ternyata tidak. Daripada dianggap tidak bermasalah, ternyata bermasalah. Siapapun yang melihat persoalan ini, pasti akan mengatakan, ‘ah, ternyata memang ada problem’,” ujarnya.

Ketika Deddy Corbuzier mengatakan bahwa image kasus Lem Aibon ini menggelikan. Namun Anies langsung menimpali dengan menyinggung penganggaran tentang penghapus papan tulis pada masa kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Masalah dirinya yang dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dia menyerahkan penanganannya kepada pihak KPK. Sebab dia menilai bahwa KPK memiliki prosedur tersendiri dalam menanggapi laporan-laporan yang masuk.

Dia menegaskan bahwa “biarlah waktu yang menjawab”. Bagi dia, sesuatu yang ditulis di sosial media, bukanlah hal yang perlu dicemaskan. Anies lebih mementingkan pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT sebagai Sang Penguasa Hari Pembalasan.

Baca Juga:  Pelebaran Jalan Tanpa Ganti Rugi, Said Didu Pulang Kampung Dampingi Rakyat Menuntut

“I am not worried about what is written in the social media. I am more concerned about what the historian will be writing in the future,” tukasnya.

“Saya tidak khawatir atas apa yang ditulis sosial media hari ini. Tapi saya lebih khawatir atas apa yang ditulis para sejarawan di masa depan. Dan pertanggungjawaban saya di hadapan Allah. Tentu saja, itu yang harus saya pikirkan,” tambahnya mengartikan.

Olehnya, dia kembali menegaskan motto hidupnya, “dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang”. Karena dia menilai pujian dan cacian itu akan silih berganti datang kepada siapapun, termasuk kepada dirinya.

(Sule)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.