INIPASTI.COM, MAKASSAR – Beberapa hari terakhir ini, sedang rame diperbincangkan tentang tindakan sekelompok pelajar, atau mahasiwa yang melakukan tindakan disebut Bullying atau penindasan terhadap teman atau orang disekitarnya.
Untuk itu, UNICEF bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Sulsel, dan Yayasan Indonesia Mengabdi (YIM) dari Universitas Negeri Makassar (UNM), sedang mengembangkan program riset-aksi terkait pencegahan kekerasan antar teman sebaya yang mengadaptasi program bernama Roots.
Kepala Dinas PPPA, Andi Murlina menyebutkan Roots merupakan program global pencegahan kekerasan di kalangan teman sebaya, di mana fokusnya pada upaya membangun iklim yang aman di sekolah. Program ini dijalankan dengan mengaktivasi peran siswa sebagai Agen Berpengaruh atau Agen Perubahan.
Ia menyebutkan, ada empat sekolah yang dilibatkan dalam pengembangan Roots, “Sekolah yang dilibatkan untuk uji coba serta penelitian aksi pertama kali adalah SMPN 37 Makassar dan SMPN 5 Pallangga untuk semester pertama, serta SMPN 10 Makassar dan SMPN 3 Sungguminasa untuk semester kedua,” kata Murlina, Rabu kemarin.
Menurutnya, secara teknis Roots difasilitasi oleh oleh Pengurus Forum Anak, yang merupakan hasil binaan DPPPA sebagai fasilitator program di sekolah model.
Mereka adalah Muh. Auzan Haq dari Forum Anak Makassar untuk roots di SMPN 37 Makassar dan SMPN 10 Makassar, dan Firda Amalia H dari Forum Anak Kabupaten Gowa untuk roots di SMPN 5 Palangga dan SMPN 3 Sungguminasa.
“Apa itu Roots?, bagaimana Roots bisa mengurangi bullying di sekolah?. Inilah menjadi tujuan utama dari program intervensi ini ialah meningkatkan hubungan antar sebaya dan mengurangi bullying serta kekerasan di antara siswa SMP,” ujarnya.
Ia menyebutkan, untuk pelaksanaannya dengan memilih beberapa anak yang memiliki pengaruh kuat di kalangan siswa sebagai agen perubahan. Nantinya, anak-anak di sekolah di setiap angkatan,diminta untuk menominasikan 10 siswa di angkatan mereka yang menghabiskan waktu paling sering dengan mereka, baik di dalam maupun di luar sekolah, secara tatap muka maupun online.
“Nantinya, para fasilitator kemudian memetakan jaringan sosial pada masing-masing sekolah. Sebanyak 22-30 siswa di setiap satu sekolah intervensi akan dipilih untuk berpartisipasi dalam program Roots,mereka yang terpilih bisa jadi siswa yang sering terlibat konflik, tidak harus anak-anak yang baik dan berprestasi,” sambungnya
Murlina menambahkan, siswa yang dipilih nantinya adalah mereka akan diajal menghadiri sesi bersama fasilitator Roots, yang diselenggarakan pada jam sekolah atau saat jam ekstra kurikuler. Di sana akan ada panduan untuk menyusun materi kampanye, baik print maupun online, yang dapat digunakan oleh siswa sebagai bentuk prakarya. (Iin Nurfahraeni)










