INIPASTI.COM, GAMBAR ikonis dari bocah Suriah yang duduk di kursi ambulans, dengan wajah berlumuran darah, telah membangkitkan rasa iba dunia internasional. Namun, tanya Lina Sergie Attar, bisakah foto itu sekarang diperlakukan lebih dari sekadar hashtag, atau momen yang secara latah disebarluaskan lewat media sosial, tetapi dijadikan gerakan untuk mengakhiri perang?
“Dia kelihatan seperti patung.” Itu adalah perkataan putri saya yang berumur 11 tahun ketika dia menyaksikan cuplikan video tentang Omran Daqneesh, bocah lima tahun, dengan tubuh berselimut debu dan wajah bersimbah darah segar, yang duduk di kursi ambulans yang berwarna oranye terang.
Dia duduk dalam keadaan membisu, sambil menatap ke depan dengan pandangan kosong.
Patung itu kemudian bergerak. Dia menyentuh jidatnya yang berdarah kemudian dengan bingung menatap tangannya yang bernoda darah.
Lalu, si kecil Omran melakukan apa yang sering disaksikan para orang tua dilakukan oleh anak-anak mereka. Setelah ragu-ragu sejenak, dia sapukan tangannya ke kursi. Namun, berbeda dengan anak-anak kita yang menyapukan kecap, es krim, atau cokelat ke kursi. Bukan darahnya.
Tradisi Tahunan
Sekali lagi, dunia dikejutkan oleh gambar seorang bocah Suriah.
Lokasi serangan udara pada wilayah yang dikuasai penentang pemerintah di distrik Qaterji, kota Aleppo, Suriah, tempat bocah lima tahun Omran Daqneesh diselamatkan dari reruntuhan bangunan (18/8/2016). Rusia menolak tudingan bahwa pesawat tempur mereka yang menjatuhkan bom ke kediaman Omran. (Foto: Reuters)
Seorang pria meratapi mayat anak kecil setelah serangan udara yang dikabarkan terjadi di wilayah yang dukuasai pasukan penentang pemerintah di distrik Saleheen, Aleppo pada 16 Juli 2016. Ratusan warga sipil, banyak di antaranya anak kecil, yang tewas di Aleppo beberapa minggu terakhir ini. (Foto: AFP)
Omran bersama keluarganya diselamatkan oleh Pertahanan Sipil Suriah (dikenal pula dengan nama pasukan Helm Putih) pascaserangan udara Rusia yang dikabarkan menghantam rumahnya di bagian timur kota Aleppo yang dikuasai pasukan penentang Presiden Assad, pada Rabu (17/82016).
Foto Omran telah menghiasi halaman depan semua koran utama dunia, didiskusikan dalam berita, dan disebarluaskan melalui media sosial.
Tampaknya, akhir musim panas telah menjadi tradisi tahunan bagi dunia untuk dihentakkan oleh tragedi Suriah melalui foto anak-anak yang menderita.
Tiga tahun lalu, dunia dikejutkan oleh foto anak-anak Suriah yang mati lemas karena serangan gas di wilayah Ghouta di luar kota Damaskus, setelah serangan senjata kimia menghantam lingkungan tempat tinggal mereka–yang secara luas dituding dilakukan oleh pasukan pemerintah–pada saat mereka tengah tidur di bunker perlindungan bawah tanah mereka.
Anak-anak itu terlihat seperti boneka porselen sempurna yang berjejer rapi, berbalut lilin, tanpa cacat cela.
Tahun lalu, giliran foto balita Suriah, Alan Kurdi yang ditemukan tertelungkup di pinggir pantai Turki dalam keadaan tidak benyawa, setelah dia bersama keluarganya berusaha mengungsi ke Yunanni sebagaimana jutaan pengungsi lainnya yang melarikan diri dari Suriah yang sedang dilanda perang.
Alan dan Galib, yang masing-masing berusia 3 dan 5 tahun, pada saat meninggal. Foto mayat Alan yang mengenakan T-shirt merah, celana pendek warna biru laut, dan sepatu kecil–yang merupakan kostum universal anak-anal–kemudian menjadi simbol penderitaan para pengungsi. (Foto: AP)
Omran adalah ikon Suriah untuk 2016.
Sayang sekali, setiap tahun foto-foto seperti itu hanya diikuti melalui jutaan tweet, like, dan share; foto-foto seperti itu menyulut kemarahan publik dan mengalirkan donasi kepada badan-badan bantuan; lalu, beberapa hari atau minggu kemudian, foto dan krisis itu pun seakan terlupakan.
Dunia terus berputar. Serangan udara dari pasukan pemerintah Suriah dan para sekutunya terus berlanjut. Segala jenis bom yang menyasar warga sipil terus berjatuhan; Islamic States terus meneror warga Suriah yang hidup di wilayah yang mereka kuasai; jumlah korban tewas semakin meningkat dan krisis pengungsi kian memburuk.
Komunitas internasional dan PBB bekerja dengan susah payah. Lalu, setahun kemudian foto lain kembali menyebar luas. Lagi dan lagi.
Kebisuan yang Memekakkan Telinga
Serangan senjata kimia, pengungsian besar-besaran, bom curah, serangan udara, kelaparan, penyiksaan: semua sisi buruk yang ada dalam peperangan secara langsung telah dialami oleh anak-anak Suriah sejak 2011.
Kaum pria menggendong dan membawa anak-anak yang terluka pascaserangan udara yang dikabarkan menghantam distrik Mashhad di bagian utara kota Aleppo, Suriah, yang dikuasai pasukan penentang pemerintahan Assad, pada 25 Juli 2016. PBB mengatakan, anak-anak dan keluarga mereka di Aleppo menghadapi malapetaka (Foto: AFP)
Bagi anak-anak seperti Omran, satu-satunya hal yang mereka ketahui sepanjang hidup hanyalah perang.
Bagi jutaan anak kecil Suriah yang tumbuh dalam konflik yang melelahkan ini, kenyataan hidup yang sedang mereka hadapi sungguh suram sedangkan masa depan mereka jauh lebih suram lagi.
Jika mereka tetap tinggal di rumah, mereka akan menjadi sasaran empuk bom dan peluru kendali. Mereka mungkin akan menderita kelaparan dan penyakit apabila mereka tinggal di wilayah yang terkepung. Mereka tidak memiliki akses ke sekolah atau bahkan jalanan yang aman untuk dilalui dengan selamat sampai ke sekolah.
Jika mereka bersama keluarga menyeberangi perbatasan menuju negara tetangga, mereka mungkin terpaksa akan menjadi pekerja untuk membantu mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan keluarga.
Jika mereka pergi jauh melewati negara tetangga, hal itu akan membawa risiko lebih besar lagi: tenggelam dalam perjalanan ke Eropa; terperangkap di kamp pengungsian; dan akhirnya, kalaupun akhirnya berhasil menemukan negara yang mau menerima, mereka akan menjadi sasaran diskriminasi dan kebencian.
Dengan demikian, anak-anak Suriah tidak diterima ke manapun mereka pergi.
Aleppo di kaki langit (3 Juli 2016). Sebagian besar wilayah kota Aleppo telah hancur sejak perang saudara mencapai kota itu pada 2012. (Foto: Getty Images)
Minggu ini, satu foto, satu bocah, satu momen, telah diangkat ke permukaan melampaui berpuluh-puluh kejadian yang telah berlalu setiap hari di Suriah selama lima setengah tahun terakhir.
Setiap hari ada begitu banyak Omran yang fotonya tidak ada yang pernah lihat, yang namanya tidak ada yang pernah tahu.
Dan, berbeda dengan Omran, anak-anak itu semuanya tidak ada yang selamat.
Sekarang bukan saatnya untuk hashtag. Sekarang bukan waktunya latah menyebarluaskan sesuatu lewat media sosial. Sekarang adalah waktunya untuk mengakhiri perang.
Dia tampak seperti patung. Dia menatap ke arah kamera, ke arah kita semua, dalam kebisuan. Secarah harfiah, dia benar-benar dalam keadaan shock. Seolah-olah dia sudah tahu bahwa kebisuan adalah cara yang paling cocok untuk merespons peristiwa yang baru saja dialaminya.
Kebisuan yang menyayat hati dari seorang anak untuk mengimbangi kebisuan yang memekakkan telinga dari dunia–suatu hal yang sudah begitu biasa bagi orang-orang Suriah.
Lina Sergie Attar adalah penulis dan arsitek Amerika Serikat keturunan Suriah. Perempuan itu turut mendirikan dan menjadi CEO Karam Foundation, lembaga yang menyediakan bantuan kemanusiaan bagi warga Suriah.










