INIPASTI.COM, WAJO – Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan, Soni Sumarsoni menerima gelar adat dari Petta Enneng’E dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wajo dengan Gelar La Paturusi Daeng Manrapi.
Pemberian gelar adat ini atas dedikasi serta pengabdian sebagai Penjabat Gubernur Sulsel, yang diharapkan dapat mewarisi sifat dan kebijakan yang dimiliki La Paturusi Daeng Manrapi yang merupakan sosok yang cerdas, berani ikhlas dan bertanggungjawab.
Gelar ini diberikan di Rumah Adat Attakae, mengenakan baju jas tutup berwarna coklat emas lengkap dengan songkok recca dengan pinggiran emas. Ia didampingi dengan Pj Ketua TP PKK Tri Rahayu
“Mengenakan baju ini, saya merasa seperti bangsawan,” ujar Soni.
Ia berterima kasih atas pemberian gelar adat ini, menurutnya sebagai salah satu bentuk pelestarian budaya dan menjaga nilai-nilai leluhur bangsa yang pernah menjadi besar di Wajo, serta mengingat kepada generasi muda bahwa melestarikan budaya dan sekaligus melaksanakan ajaran agama bukan dua hal yang bertentangan. Hablu minannas, hablu minallah.
“Budayanya adalah sipakatau, sipakalebbi dan, sipakainga, sipatokkong. Jadi, hari ini sebenarnya lebih pada konteks pelestarian budaya dan sekaligus memberikan semangat kepada generasi berikutnya atau generasi yang masih hidup untuk senantiasa menjaga warisan leluhur berupa nilai2 yang sangat bagus,” kata Soni
Ia pun mengaku senang, melihat sebuah kota itu berkembang kemajuannya diikuti dengan perkembangan budaya. Kota yang budayanya berkembang, betapapun situasi politiknya biasanya lebih dingin. “Sebuah kota yang budayanya tidak berkembang hanya mengandalkan pengendali situasi politik, biasanya agak panas,” paparnya
Soni mencontohkan,seperti di Bali mana pernah ada rusuh, itu karena budayanya berkembang. Jogja, wajo juga. Jadi sulit di Wajo akan terjadi benturan. Karena semua akan dinetralisir oleh nilai budaya.
“saya termasuk orang yang berpikir membangun harus memperhatikan nilai budaya. Dan tetap bisa mengedepankan namanya budaya karena pertahanan terakhir sebuah bangsa adalah budaya. Karena budaya Mencakup pengertian cara berpikir, cara merasa, cara bertindak. Itu pengertiannya sehingga kalau budayanya bagus, daya pikirnya berorientasi pada yang benar, baik daya karsanya. Orang bertindak harus sama dengan yang dia pikirkan. Daya pikirnya harus diperkuat di karsa,” terang Soni
Lebih jauh, Soni menjelaskan,bayangkan kalau budayanya rusak, maka cara berpikir rusak, cara merasakan rusak, cara bertindak rusak. Namanya adalah sebuah bangsa yang tidak berdaya. Warga yang tidak berbudaya. Keberagaman agama dan budaya adalah dua hal sebenarnya nilainya itu bisa disinergikan.
(Iin Nurfahraeni)










