INIPASTI.COM, MAKASSAR – Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo menegaskan pemerintah provinsi, Sulsel tidak pernah menolak pengungsi dari negara konflik untuk transit atau singgah sementara, sebelum akhirnya mendapatkan suaka dari negara tujuan mereka.
Ini diungkapkan, Syahrul usai beredarnya video rekaman Gubernur Sulawesi Selatan, yang menolak keberadaan pengungsi Rohingya di Sulawesi Selatan beredar dan viral di sejumlah media sosial. Bahkan sebagai umat beragama dan sesama muslim, justru ia sangat prihatin dengan kejadian yang menimpa masyarakat Rohingya.
“Kami tidak pernah menolak pengungsi, sampai detik ini. Walaupun status pengungsi yang ada hanya menjadikan sebagai negara transit. Bukan negara tujuan,”kata Syahrul, Minggu (3/9/2017) di Warkop Legacy.
Ia mengakui, jika Sulsel merupakan salah satu daerah tujuan dan dihujani dengan pengungsi, di sini paling banyak menampung. Dan bukan hanya dari Rohingya, tapi juga dari Pakistan, Iran dan Irak, serta negara lainnya yang sedang bersoal.
Bahkan, Ia menegaskan, Pemprov tidak menolak pengungsi termasuk rohingya. Yang ditolak, jika mereka bikin kekacauan, perbuatan anarkisnya.
“Sebagai kepala daerah saya ingin mengatakan, kamu sudah dibantu setengah mati, semua fasilitas terbaik, makanya daerah ini dipilih. Tentunya harus juga ikut dengan cara-cara dan aturan yang berlaku di sini,”ungkap Syahrul.
Ia menjelaskan, ketika permasalahan ini muncul saat dirinya diminta penjelasan mengenai aksi unjuk rasa yang dilakukan pengungsi di Menara Bosowa terhadap UNHCR yang berujung pada anarkis.
Syahrul, menyatakan dari awal pihaknya menerima informasi tidak diperbolehkan meninggalkan Sulsel, karena mengaku ditahan imigrasi. Bahkan mempertanyakan imigrasi mana yang menahan mereka.
“Saya minta ini jangan diperluas lagi, karena pekerjaan pemerintah. Namun kalau sudah diurus baik-baik, harusnya tunduk dalam aturan kita di sini. Kalau ada keluhan, suarati saya sebagai gubernur, penanggung jawab wilayah,” terangnya.
Sementara itu, berdasarkan data UNHCR di Makassar ada sebanyak 220 pengungsi Rohingya, dan 50 orang diantaranya merupakan anak-anak. Yang ditampung disejumlah titik penampungan milik (Iin Nurfahraeni).










