INIPASTI.COM, GOWA – Siapa yang tidak mengenal sosok Karaeng Pattingalloan, yang terkenal denga Ketersohoran keilmuannya membuat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulsel bersama tim dari Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta membuat film dokumenter drama.
Salah satu tokoh yang menjadi sumber atau yang diwawancarai adalah Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo (SYL). Tim film
dokumenter ini melakukan pengambilan gambar di rumah kayu atau balla kayua di Jalan Tumanurung No. 02, Pandang-pandang, Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Minggu (4/2/2018)
Di rumah yang didirikan oleh Orang Nomor Satu di Sulsel ini, Ia menceritakan terkait kebesaran dan pendangannya terhadap negarawan yang tersohor karena rasa ketertarikan yang tinggi pada ilmu pengetahuan dari Barat pada abad ke-17.
“Karaeng Pattingaloang adalah sosok yang jarang, karena memiliki kesempurnaan hidup. Selain sebagai negarawan karena seorang mangkubumi, memiliki kekuasaan tetapi juga memiliki visi kedepan, ia juga seoarang sufi, semua mengaguminya,” kata Syahrul saat pengambilan gambar.
Keterlibatan Syahrul, menurut
Syaifuddin Bahrun selaku pendamping sutradara mengatakan, SYL dilibatkan dalam kapasitasnya sebagai tokoh Gowa.
“Kapasitas beliau, sebagai gubernur dan tokoh Gowa,” kata Syaifuddin.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Dr Pudentia MPSS, yang juga turut hadir dan terlibat, menyebutkan, sosok Panttingaloang layak untuk dikenal publik lebih baik.
“Sosok yang menarik, kami mengatakan tokoh yang luar biasa, menguasai lebih dari lima bahasa dan bahasa daerah juga. Ia sangat multi-kultural, pergi haji tetapi berteman juga dengan pastur dan pendeta. Selain itu menguasai astronomi, bayangkan itu di abad ke 17, ini tokoh yang harus ditampilkan,” ujar Pudentia yang juga merupakan Dosen UI Fakultas Ilmu Budaya.
Rencananya, pengambilan gambar akan berlangsung selama 10 hari dengan mengambil lokasi di Kabupaten Gowa, Kota Makassar dan daerah Kecamatan Tallo di Kota Makassar. Di objek seperti Benteng Somba Opu, Makam Sultan Hasanuddin dan Perpustakaan Wilayah Sulsel.
Sebelum syuting tim melakukan penelitian, survei lokasi dan perizinan yang diperlukan.
“Semua itu kita siapkan, ada 12 orang dalam tim kami, empat orang dari Yogyakarta, tiga dari Jakarta dan lima orang dari Makassar,” sebut Anna Asriani sebagai pendamping.
(Iin Nurfahraeni)










