INIPASTI.Com, MAKASSAR – Masyarakat Takalar sangat menghargai orang luar. Tidak membedakan orang luar dengan putra daerah yang menjadi pemimpin.
Dalam sejarah kepemimpinan bupati kepala daerah, Takalar ini sudah tiga kali bupatinya dipimpin oleh orang yang bukan putra daerah.
Ketiganya adalah Drs H Tadjuddin Nur, Drs H Syahrul Saharuddin dan Drs Andi Zainal Abidin. Ketiganya ini menjadi bupati di era tahun 90-an hingga 2000-an.
Menariknya ketiganya sangat berhasil memimpin Takalar. Dahulu pada masa Syahrul Saharuddin terkenal dengan konsep Mamminasata dan sekarang ini sudah terasa hasilnya. Dan pada masa Zainal Abidin yang fokus pada pengembangan rumput laut juga terasa hasilnya bagi masyarakat.
Pertanyaannya, bagaimana dengan putra daerah yang memimpin Takalar. Dari hasil pengamatan, memang ada kemajuan, tetapi tidak signifikan hasilnya dibandingkan yang dicapai dari ketiga pemimpin tersebut di atas.
Padahal masyarakat Takalar menaruh harapan yang cukup besar agar Takalar berubah, Takalar lebih maju jika dipimpin putra daerah.
Sekarang ini pemilihan bupati Takalar tinggal beberapa bulan ke depan. Isu putra daerah di era otonomi ini masih tetap dominan. Sampai saat ini, figur calon bupati Takalar yang akan bertarung tahun depan, belum terlihat ada orang dari luar Takalar.
Padahal menjadi bupati Takalar tidak semestinya putra daerah. Umumnya masyarakat Takalar tidak anti orang luar jadi pemimpin di Butta Panrannuangku. Asalkan mereka bisa membuat masyarakat Takalar sejahtera, aman dan tenteram.
Daeng Tiro salah seorang tokoh masyarakat di daerah ini, kepada inipasti.com, Jumat (2/9/2016), masyarakat Takalar ini dominan petani padi. Makanya calon bupati Takalar yang diharapkan ke depan, yang memperhatikan petani apakah dia petani padi, peternak, nelayan, dan lainnya.
Khusus untuk pertanian, bupati bisa memikirkan air yang bisa mengairi persawahan di kala musim kemarau. “Semestinya ini yang harus diperhatikan pemerintah saat ini maupun bupati Takalar yang akan datang,” harap Daeng Tiro.










