INIPASTI.COM, MAKASSAR – Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Sulawesi Selatan Tautoto Tana Ranggina menjadi mentor pada peserta seminar Rancangan Proyek Perubahan (RPP) Diklat PIM III Angkatan CXLIX (149) Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sulawesi Selatan, Rabu (23/5/2018)
Tautoto yang juga merupakan Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulsel mementoring langsung enam orang peserta yang berasal dari lingkup Bapenda.
Seminar yang dilaksanakan di Kantor BPSDM Sulsel diikuti oleh 40 peserta dari Pejabat eselon tiga. Pesertanya, merupakan Kepala Bidang dan Kepala UPT lingkup Sulsel.
Seminar ini dikemas dalam bentuk pameran, merupakan bagian dari kegiatan Diklat PIM. Peserta diharapkan mendapatkan banyak masukan, selain dari para penguji juga dari audiens yang datang untuk memberikan masukan.
Ia menilai bahwa pameran ini, proyek yang ditampilkan oleh para peserta bagus untuk diimplementasikan. “Pameran proyek rancangan perubahan ini bagus, umumnya menampilkan hal-hal menarik yang memang dibutuhkan oleh masyarakat dan unit kerja,” kata Tautoto.
Namun, yang harus dipikirkan kedepan, bagaimana implementasinya dan bagaimana tahapannya harus dikawal, baik jangka pendek maupun jangka menengah dari implementasi yang ada. Bahkan bisa dimasukkan dalam anggaran perubahan.
“Jangka pendek satu dua bulan ini dia harus ikuti, dan kalau ada jangka menengah ada dukungan dana, dia bisa usulkan dalam perubahan anggaran,” sebutnya.
Kepala BPSDM Provinsi Sulawesi Selatan, Imran Jausi, menyebutkan, seminar ini adalah bagian dari proses pembelajaran pada diklat PIM tingkat tiga. Pada tahapan ini peserta harus mempersiapkan, menyajikan proyek perubahan yang mereka kerjakan selama dua bulan pada tahap implementasi di lapangan nantinya.
Yang terlibat dalam proses pembuatan PP selama diklat yaitu, reformer sendiri, mentor yang merupakan atasan langsung guna mereview langsung dan tahu betul pekerjaan bawahannya yang merupakan peserta diklat, coach (widyaiswara diklat) dan terakhir penguji.
Dari masukan Pj Sekda Sulsel, diharapkan peserta (reformer) memiliki sebuah masukan bermanfaat. Ada empat kriteria proyek yang baik.
Indikator pertama adalah kemanfaatannya, semakin tinggi kemanfaatannya semakin banyak yang pihak yang mendapatkan manfaatnya, terutama masyarakat. Kedua adalah nilai kebaruan atau inovasinya, proyek itu adalah sebuah hal yang baru.
“Ketiga adalah nilai kepemimpinan, dimana dinilai adalah dari reformer, keterlibatan pihak internal dan eksternal dalam mendukung proyek tersebut,” jelasnya.
Dan terakhir, adalah keberlanjutannya. Menurutnya, sebaik apapun proyek perubahan tersebut tanpa ada keberlanjutan, tidak terlalu memiliki arti.
Empat kriteria tersebut yang menjadi indikator berhasilnya sebuah proyek perubahan yang ada. Di akhir diklat ini akan diumumkan peserta terbaik. “Akan ada peserta terbaik, dari akumulasi lima tahap,” ujarnya.
(Iin Nurfahraeni)










