INIPASTI.COM, MAKASSAR — Sulawesi Selatan merupakan satu dari tiga provinsi dengan populasi penyandang disabilitas tertinggi di Indonesia. Dengan jumlah populasi yang tinggi ini, di dalamnya juga mencakup disabilitas pada usia produktif. Yang mana disabilitas ini membutuhkan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki.
Tenoon sebagai usaha sosial (social enterprise) yang fokus pada pemberdayaan perempuan dan
penyandang disabilitas mencoba mewujudkan Makassar Ramah Disabilitas melalui Festival
Inklusif.
Adapun festival ini bertujuan untuk mempertemukan masyarakat umum dengan penyandang disabilitas agar dapat lebih memahami satu sama meluncurkanlain. Kegiatan ini akan menjadi
festival inklusif pertama yang diadakan di Makassar atau bahkan Indonesia Timur, dengan
harapan akan menjadi agenda tahunan ke depannya.
Oleh karena itu di tahun pertama ini diangkatlah tema “Makassar Untuk Semua”. Pratiwi Hamdhana AM, selaku Chairman Festival Inklusif 2019 sekaligus Founder and Managing Director Tenoon menguraikan bahwa Festival ini merupakan yang pertama diadakan di Makassar.
“Ini festival yang pertama bahkan di Indonesia Timur, dengan mengangkat tema inklusivitas untuk mengajak semua kalangan, disabilitas dan non-disabilitas agar saling mengenal,” ujarnya.
Pada penyelenggaraannya yang pertama ini, kami berharap dapat menjadi awal yang baik untuk
menyebarkan semangat inklusifitas ke masyarakat umum. Hal ini yang menjadi landasan tema
“Makassar untuk Semua” diangkat.”
Acara yang diadakan di BikinBikin Nipah Mall ini dihadiri sekitar 300 peserta (disabilitas dan non-disabilitas) serta 30
institusi, termasuk komunitas-komunitas yang peduli dengan isu inklusivitas. Festival Inklusif 2019 ini terdiri dari beberapa agenda di antaranya: Bincang Inspiratif Berbagi Cerita bersama disabilitas yang berdaya; kelas inklusif berupa Workshop Bahasa Isyarat, Kreasi
Perca Tenun, Kids Corner serta pemeriksaan gigi dan mulut untuk anak-anak; serta pameran
dan bazaar yang melibatkan beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB) dan komunitas-komunitas di
Makassar.
Acara ini terbuka untuk umum dan tidak dikenakan biaya untuk mengikutinya. Festival Inklusif ini juga menjadi wadah sosialisasi dan berkumpulnya penyandang disabilitas. Mereka diberikan akses untuk dapat berekspresi dan bertukar pikiran dengan rekan-rekannya.
Sehingga hal ini juga dapat meningkatkan kepercayaan diri dan optimis untuk pengembangan
diri dan mandiri secara financial.
“Dengan terselenggaranya Festival ini diharapkan teman-teman disabilitas tidak lagi merasa canggung dan malu untuk berbaur dengan yang lainnya demi inklusifitas di Indonesia,” tutup Pratiwi.










