Ungkap Filosofi Kopi di HSN, Kakanwil: Selain Ngaji, Santri juga harus bisa Ngopi

Top Ad

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Tausiyah Kebangsaan yang merupakan salah satu Rangkaian Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2019 yang digelar oleh Kanwil Kemenag Provinsi Sulsel khususnya oleh Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren berlangsung pada Sabtu, 19 Oktober 2019 kemarin. Gelaran tersebut dihadiri oleh Hampir seribuan santri dan para undangan.

Acara yang digelar di halaman upacara indoor Kanwil Kemenag Provinsi Sulsel sambil duduk lesehan dihadiri pula Kakanwil Kemenag Sulsel, para pejabat dan karyawan lingkup Kanwil dan Kemenag Kota Makassar, sejumlah pimpinan, pembina dan perwakilan santri dari pondok pesantren dari Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Takalar dan Maros dan Pengurus DWP Kemenag Sulsel.

Lagu Indonesia Raya dan Mars Yaalal Wathan menggema saat acara mulai dilangsungkan, dan diiringi oleh Group Marawis Santri dari Ponpes KH Ahmad Bone Kabupaten Maros, menambah semangat dan semarak acara yang dimulai ba’da shalat Dhuhur itu.

“Seorang santri selain harus bisa ngaji dan taat kepada Kiyainya, saya tambahkan juga bahwa santri juga harus bisa NGOPI. NGOPI di sini bisa bermakna Minum Kopi yang sesungguhnya atau bisa juga berarti Ngobrol Pendidikan Islam,” jelas Kakanwil Kemenag Provinsi Sulsel Anwar Abubakar.

Baca Juga:  Mubes V Fokus Islam, Danny Ingin Anak Jadi Perhatian Utama

“Kenapa Ngopi karena Kopi atau ngopi menjadi simbol kebersamaan, simbol kesetaraan, simbol persatuan, simbol persaudaraan simbol kemanusiaan, dan simbol perjuangan serta kerja keras yang intinya agar santri bisa berkualitas bagi nusa bangsa dan agama,” tambahnya.

Dia juga menegaskan bahwa santri harus seperti kopi yang dibutuhkan dan dinikmati semua kalangan. Untuk menjadi santri yang berkualitas juga, lanjutnya, santri harus melalui proses seperti kopi. Yaitu, harus ditanam, dipetik, digiling, disangrai, ditumbuk halus, lalu dihidangkan sehingga bisa enak dinikmati.

Kakanwil Termuda di Indonesia ini bahkan mengklasifikasi santri menurut filosofi kopi. Sedikitnya ada 5 kategori santri yang dia sebutkan berdasarkan filosofi kopi.

“Santri yang malas dan tidak produktif, biasanya kurang ngopi. Santri yang suka emosional dan marah-marah itu artinya kopinya kurang pahit. Santri kurang gaul dan update, berarti dia jarang ngopi ke tempat yang lain. Santri yang suka menyalahkan orang lain berarti santri yang tidak pernah kopi sama sekali. Sedangkan Santri yang suka mementingkan dirinya sendiri, berarti mungkin santri ini senang ngopi tapi yang gratisan,” ujarnya disambut tawa dan tepuk tangan dari seluruh hadirin.

Baca Juga:  Jadi Kakanwil Kemenag Definitif, Ini Rencana Awal Anwar Abubakar

Setelah melemparkan guyonan yang penuh makna, Anwar Abubakar juga menyampaikan hal yang sedikit serius. Menurutnya, santri memiliki andil besar dalam cita-cita perdamaian dunia.

“Umat Islam Indonesia adalah populasi muslim terbesar di dunia yang salah satunya direpresentasikan oleh kaum santri. Entitas ini memiliki andil besar dan terus berperan aktif dalam menyokong cita-cita perdamaian global yang tidak menghendaki adanya diskriminasi, ketidakadilan, terorisme, invasi, kolonialisme, dan lain-lain,” tambahnya.

Di akhir sambutannya, dia juga mendoakan secara khusus bagi para pimpinan, pembina dan para guru yang telah ikhlas membina, mendidik dan mengajarkan kesederhanaan, kebersamaan, dan keseimbangan dunia akhirat kepada generasi masa depan bangsa ini. (rls)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.