INIPASTI.COM, JAKARTA – Pengamat politik Rocky Gerung terkenal dengan istilah ‘dungu’. Kata tersebut sering kali diucapkan saat dirinya sedang berdebat. Bahkan tidak jarang filsuf asal Manado ini mengalamatkan kata ‘dungu’ tersebut untuk Presiden Joko Widodo.
Terbaru, saat Rocky Gerung berbicara dalam acara Kupas Tuntas yang membahas tema ‘Jangan Tinggalkan Papua’. “Na ini presiden dibrief oleh penasehat keamanan, tanpa basis antropologi. Itu dungunya,” jelasnya pada acara yang disiarkan 4 Oktober lalu.
Kritikan-kiritikan yang disampaikan dengan menggunakan istilah-istilah pedas itu pun dijelaskan oleh akademisi ini pada acara Q&A MetroTV. “Saya menyebut itu semua bukan sebagai evaluasi terhadap seseorang atau sejumlah orang, tapi saya menggambarkan faktanya saja, (bahwa) masih ada kedunguan,” jelasnya pada acara yang disiarkan 6 Oktober kemarin.
Dia juga menjelaskan alasannya dalam memilih kata dungu kepada lawan debatnya. “Kalau orang itu saya anggap memang tidak layak untuk mengerti suatu konsep, saya bantuin. Tapi kalau se-kualitas kalian, terutama Ruhut, yang seharusnya paham istilah-istilah dasar, itu tidak ngerti, apa yang saya mau bilang? Pintar? Tidak mungkin, setengah pintar, tidak mungkin, seperempat pintar? Tidak mungkin. Ya, Dungu,” tegasnya pada acara yang juga dihadiri Ruhut Sitompul dan beberapa panelis lainnya.
Secara tegas, Rocky mengungkapkan bahwa dia tidak pro Prabowo karena sama-sama oposisi. Namun dia mengatakan bahwa dirinya menjadi oposan karena motif kedunguan. “Prabowo beroposisi dengan motif kekuasaan. Saya beroposisi dengan motif kedunguan,” tegasnya.
Namun menurutnya, dia selalu menerangkan bahwa dirinya tidak pernah menyerang pribadi seseorang. Dia hanya mengkritik cara berpikir dan tindakan seorang wakil rakyat. “Setiap presiden bicara, ada ketidakruntutan logika. Saya tidak kritik orangnya, saya kritik nalarnya. Dari awal saya terangkan itu,” ungkapnya.
Rocky pun mengaku bahwa dirinya tidak pernah membenci Joko Widodo selaku pribadi. Karena menurutnya, membenci itu adalah urusan pribadi. Sedangkan yang dirinya kritik terhadap seorang Jokowi adalah kapasitasnya sebagai seorang presiden.
“Saya tidak pernah benci Jokowi, saya tidak punya urusan pribadi. Benci itu urusan pribadi. Orang yang membenci itu mentalnya rusak. Orang yang membenci saya juga mentalnya rusak. Karena politik itu argumentasi, bukan sentimen. Produce argumen, kendalikan sentimen. Itu rumus politik,” terangnya.
Kritik yang disampaikannya menurutnya tak lain karena adanya ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan. Sedangkan dia menganggap bahwa pujian tidak mesti disampaikan kepada hal yang sudah menjadi tugas pemerintah.
“Kalau pemerintah bikin kebijakan yang baik, saya tidak akan puji. Karena saya gaji dia untuk bikin yang baik. Begitu ada bau busuk, saya ketok kepalanya dengan satire (sindiran,red). Eh loe gue gaji, loe bikin kebijakan yang buruk. Masa’ kita kasih pujian pada hal yang memang tugas dia,” ujarnya.
Dalam penilaiannya, sopan santun itu hanya dalam hal tindakan, bukan terkait pikiran. Karena dia menganggap bahwa pikiran yang disopansantunkan dalam politik, adalah kemunafikan.
(Sule)










