INIPASTI.COM, JENEWA- Wabah virus corona yang melanda sejumlah negara, termasuk juga Indonesia tak boleh dianggap remeh. Pasalnya, virus ini juga bisa menginfeksi seseorang tanpa menunjukkan gejala apapun. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memeringatkan untuk tidak terlalu berharap dan memprediksi kapan virus corona akan berakhir. Hal itu dinyatakan langsung oleh direktur kedaruratan WHO, Dr. Mike Ryan pada Rabu (13/5/2020).
Dilansir dari BBC, ia juga menambahkan meskipun vaksin ditemukan, pengendalian virus masih membutuhkan upaya besar.
“Penting untuk memeringatkan ini, virus ini (corona) dapat menjadi virus endemik lain di masyarkat dan virus ini mungkin tidak akan pernah hilang,” kata Dr. Ryan pada konferensi pers virtual dari Jenewa.
“HIV belum hilang, tetapi kita telah yakin dengan virus ini,” tambahnya.
Sebelumnya, marak dibicarakan asal muasal covid-19 ini berasal. Pandemi covid-19 menjadi momok serius bagi tim medis dan pemerintah. Pola penyebaran virus corona begitu cepat di beberapa negara. Awalnya virus ini berasal dari Wuhan China. Namun Peneliti Cambridge University membantah dengan hasil riset yang dilakukan beberapa bulan terakhir.
Cambridge University menerbitkan sebuah jurnal, Senin (6/4/2020). Jurnal itu mengatakan bahwa coronavirus tipe A adalah akar penyebab wabah tipe virus lain. Tipe A muncul di Amerika Serikat dan Australia. Virus yang muncul di Wuhan termasuk tipe B, yang berasal dari mutasi tipe A.
Lebih lanjut, Dr. Ryan kemudian mengatakan, bahwa dia tidak percaya siapapun yang meyatakan dapat memprediksi kapan penyakit ini akan hilang.
Suda ada 100 vaksin potensial sedang dalam pengembangan. Tetapi Dr. Ryan mencatat ada penyakit lain seperti campak, tetap masih belum dihilangkan walaupun ada vaksin untuk.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menekankan masih mungkin untuk mengendalikan virus dengan banyak upaya.
“Semua ada di tangan kita, itu (virus corona) menjadi masalah semua orang dan kita semua harus berkontribusi untuk menghentikan pandemi ini,” kata Tedros.
Ahli epidemiologi WHO, Maria van Kerkhove juga mengatakan bahwa masih perlu waktu untuk benar-benar keluar dari pandemi.
“Kita perlu masuk ke dalam pola pikir bahwa perlu waktu untuk keluar dari pandemi ini,” kata van Kerkhove.
Pernyataan tegas dari pihak WHO datang ketika beberapa negara mulai secara bertahap meringankan tindakan pembatasan wilayah dan para pemimpin mempertimbangkan untuk membuka kembali ekonomi mereka.
Tedros memperingatkan bahwa tidak ada cara yang pasti untuk mengurangi pembatasan tanpa memicu gelombang infeksi kedua.
“Banyak negara ingin keluar dari langkah-langkah yang berbeda,” kata Tedros.
“Tapi rekomendasi kami tetap waspada di negara manapun harus pada tingkat setinggi mungkin,” tambahnya.
Per Rabu (13/5/2020), hampir 300.000 orang di seluruh dunia dilaporkan meninggal karena virus corona dari lebih 4,3 juta kasus terkonfirmasi.










