INIPASTI.COM – Gelarang kemudian angkat bicara pula. “Ya, hamba rasa Belanda-lah yang menjadi dalang utama pengkhianatan Datu Jarewe itu. Oleh sebab itu kita harus bertindak tegas dan cepat. Kita harus segera mengirim utusan ke Makassar untuk menyelidiki, kemudian menyelesaikan peristiwa yang sangat mengancam kedaulatan dan ketenteraman negeri kita”.
Maggauka kemudian bertanya kepada anggota-anggota adat lainnya, yang dijawab bahwa mereka semua menyetujui pendapat ketua adat mereka.
“Kalau begitu”, kata Maggauka, “aku pun menyetujui pendapat itu. Tetapi siapakah yang akan ke Sana? Kalau dapat sebaiknya kerapatan ini pun memilih dan menetapkan orang yang akan diberi tugas berat ini. Bukankah kita harus cepat mengatasi keadaan yang berbahaya itu? Aku pun berpikir, jika dibiarkan berlarut-larut, akhirnya kita tak dapat mengendalikannya lagi, dan si penghianat Datu Jarewe akan barpesta-pora di atas tahta rampasannya. Tetapkanlah sekarang juga!”
Mendengar itu kerapatan diam lagi, tapi sejenak kemudian Deanga Pongringali angkat bicara.
“Tuanku Maggauka yang mulia, hamba kira, tiada lain yang layak dan pantas menjadi utusan ke Makassar selain anak kita karaeng Datu Museng I Baso Mallarangang. Karena dia adalah kepala dari segala tubarani, pahlawan panglima-perang harapan kita yang tak kenal mundur setapak pun dan haram menghitung bilangan musuh. Dia adalah kepala dari setiap lelaki di Sumbawa ini, cukup ilmu, kuat rohani dan jasmani, tiada cacat dan tiada celanya. Padanya genap apa yang dicari, cukup tiada kekurangan. Malah lebihnya saja yang dapat dihitung. Dia adalah lelaki tiada tandingan, jarang samanya. Boleh dilihat tak dapat diturut, bertindak selalu tegas dan bijaksana. Bicaranya tak banyak, sepatah kata saja, cukup jadi pegangan. Hamba rasa tak ada jeleknya jika kita menggantungkan harapan padanya. Tuanku, itulah ucapan hamba, kata hati ulasan jantung dari sanubari putih-bersih”.
“Terima kasih atas anjuran saudara. Mari kita pertimbangkan bersama usul ini, supaya bulat kata sepakat dan bulat pula kita bersatu-padu. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Ke gunung sama mendaki, ke lurah sama menurun. Bersatu adalah adat, bercerai adalah khianat.
Cerita Bersambung…
Baca juga: Datu Museng dan Maipa Deapati (54)










