Kini saya hanya makan satu kali sehari, biasanya kacang rebus atau pasta, yang saya makan di tengah malam. Saya tidak bisa tidur dalam keadaan kelaparan, jadi saya tunda makan hingga larut malam sehingga saya dapat memejamkan mata sesudahnya.
Sungguh aneh rasanya mendengar saran dari Rusia tentang “koridor kemanusiaan” untuk membantu warga sipil seperti kami keluar dari kepungan, karena lokasi yang bisa kami jadikan jalur keluar itu justru yang dibom habis-habisan oleh mereka.
Orang-orang mulai mengumpulkan ban dan membakarnya di atap-atap rumah dan di jalanan, untuk mencoba menciptakan cukup banyak asap untuk menghalangi pandangan jet-jet pembunuh. Anak-anak menjadikannya sebagai permainan, dan berlarian di jalan-jalan meminta lebih banyak lagi ban. Mereka bahagia bisa keluar rumah lagi setelah berhari-hari mengalami pengeboman sengit, ketika orang tua dan guru memerintahkan mereka bersembunyi di perlindungan bawah tanah.
Saya telah bagi-bagikan kotak-kotak bibit tanaman bersama teman saya, Samar, yang bekerja untuk lembaga bantuan Space of Hope. Seperti saya, perempuan itu pun meninggalkan putri-putrinya di Turki dan belum pernah bertemu dengan mereka selama berbulan-bulan, karena dia memilih kembali ke Aleppo. Semua orang mengenalnya, dan dia kenal semua orang, namun pengepungan ini sungguh berat bagi dia. Ketiadaan bahan bakar membuatnya tidak bisa lagi mengemudikan mobilnya, namun berbeda dengan kaum pria, dia tidak bisa mengemudikan sepeda motor.
Ketika kami kembali dari membagikan bibit, saya serahkan dua ban kepada anak-anak dengan gembira sebelum saya sadar bahwa ban itu sebenarnya saya beli untuk mobil saya dan saya telah membayar 300 dolar Amerika untuk kedua ban itu.
Selama seminggu penuh pertempuran untuk menembus pengepungan, orang tidak tidur dan jalanan selalu penuh orang pada malam hari, seperti pada malam hari raya Ied. Lalu, akhirnya, tiba saatnya ketika mereka menyatakan berhasil menembus kepungan. Saya pun sama leganya dengan lima tahun lalu ketika sipir penjara membuka pintu sel dan mengatakan: “Kamu bebas.”










