Sudah lima tahun sekarang, tapi rasanya masih baru beberapa hari lalu. Di sisi lain kota Aleppo, dari mana saya sebenarnya berasal, pasukan keamanan menangkap saya, memukuli saya habis-habisan dan menembak kedua kaki saya berkali-kali.
Saya terbaring tak berdaya di atas tanah ketika seorang perwira bernama Alaa menginjakkan sepatu bootnya ke kepala saya dan menggilaskan kepala saya ke dalam tanah, sambil mengutuk semua anggota keluarga saya, menuduh saya pemberontak karena ikut serta dalam demonstrasi damai melawan rezim pemerintah.
Lalu saya dengar seseorang berkata: “Alaa, jangan bunuh dia. Kami sedang bersenang-senang menyiksanya.” Pria itu telah menyelamatkan jiwa saya.
Sekarang saatnya melakukan pemeriksaan harian terhadap teman-teman saya. Saya kirim pesan singkat ke grup kami: “Siapa yang masih ikut dalam kompetisi bertahan hidup? Siapa yang masih mengalahkan kematian hari ini?”
Begitu saya tahu kami tidak kehilangan seorangpun dalam serangan pagi, saya keluar rumah dengan sepeda motor. Saya membelinya setelah pengepungan dimulai karena saya tidak sanggup mengisi bahan bakar mobil saya. Kadang saya berperan sebagai taksi gratis bagi mereka yang telantar di jalanan, karena kelangkaan bahan bakar membuat banyak layanan transportasi umum gulung tikar.
Akhir-akhir ini saya mengerjakan proyek untuk membantu warga sipil bertahan hidup lebih lama, khususnya melalui perkebunan kecil-kecilan skala rumah tangga. Kami berkonsultasi dengan teman-teman yang telah menjadi semacam “ahli bertahan hidup dalam pengepungan” setelah bertahun-tahun diputus pasokannya di Daraya dan Ghouta Timur. Nasihat mereka adalah menanam bahan makanan. Oleh karena itu, kami beli banyak wadah dan menanam tomat, terong dan labu Yang bibitnya kami peroleh dari dewan setempat. Kami telah berbagi pengalaman dengan lingkungan lain dan kini mendorong organisasi bantuan untuk melakukan hal yang sama.
Meski pengepungan baru berlangsung sehingga, pasar-pasar telah kehabisan persediaan bahan bakar dan bahan makanan pokok, dan kalaupun dapat menemukan pasokan, harganya sangat mahal. Satu kilo kentang naik empat kali lipat, dari 125 dinar menjadi 600 dinar. —>bersambung 4/4










