Bahas Etika Komunikasi, FDK UIN Alauddin Hadirkan Profesor dari Malaysia

Prof Normah dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Haidir Fitrah Siagian, Sekjur Ilmu Komunikasi FDK UIN Alauddin, dan Drs Syamsuddin dari Unhas (kiri ke kanan) pada seminar internasional tentang Etika Komunikasi yang digelar oleh FDK UIN Alauddin Makassar, Rabu, (4/7/2018).
Top Ad

INIPASTI.COM, GOWA – Komunikasi Zaman Now atau Era Digital sangat berbeda dengan komunikasi tradisional, sehingga etika dalam berkomunikasi juga harus menyesuaikan. Untuk itu, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar menggelar 1st Biemnial International Seminar on Communication (ISC) 2018, Rabu, 4 Juli 2018 kemarin.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Rektorat lantai 4 ini bertajuk The behaviour and etchics of communication in the millennial era (Etika dan Perilaku Komunikasi di Era Millenial). Panitia menghadirkan Prof Madya Dr Normah Mustaffa dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Drs Syamsuddin Aziz M Phil PhD dari Universitas Hasanuddin sebagai pembicara. Kegiatan tersebut dimoderatori oleh Sekretaris Jurusan Ilmu Komunikasi FDK UINAM, Haidir Fitra Siagian.

Inline Ad

Di hadapan ratusan mahasiswa beserta dosen dan staf FDK UINAM, Prof Normah menjelaskan hasil penelitiannya bersama beberapa ahli komunikasi di Malaysia, terkait tema yang menjadi poin pembahasan dalam seminar Internasional tersebut.

Dia meneliti tentang melihat bagaimana media sosial dari prespektif revolusi, tidak melihat impact-nya secara khusus, tapi melihat bagaimana media sosial sebagai media baru itu dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari seseorang.

“Ada dua persoalan yang kami teliti, pertama peranan media sosial itu sendiri sebagai tumpuan untuk mengekspresikan pendapat, dan apakah terdapat teori Spiral of silence dalam era teknologi sekarang di dunia media sosial?,” ungkapnya.

Dia menjawab hasil penelitiannya, bahwa ternyata teori Spiral of silence yang dicetuskan Elizabeth Noelle-Neumann itu tidak berlaku di zaman kini. Prof Normah mengatakan, teori ini tak lagi relevan dengan media baru. Alasannya, karena dengan adanya media sosial, orang-orang dengan bebas bisa mengekspresikan pendapatnya.

Dia bahkan mengemukakan teori model baru, yakni The twin helic opinion (TWHO), yakni model baru yang mereka hasilkan untuk menyangkal atau menolak teori Spiral of Silence. “Khalayak itu bebas mengeluarkan pendapat, dalam konteks media sosial itu semua sama, tidak ada yang dibeda-bedakan, siapa saja bisa mengeluarkan pendapatnya,” terang Prof Normah.

Sementara itu, Drs Syamsuddin menjelaskan mengenai perkembangan big data dalam dunia jurnalistik di era digital. Katanya, perkembangan big data itu juga berpengaruh dengan varian baru jurnalistik yang bertumpu pada data. Data ini digunakan untuk melaporkan peristiwa di masyarakat yang disajikan dalam basis grafis.

“Penggunaan big data itu selaras dengan perubahan membaca generasi saat ini. Seperti generasi Y, Z dan yang akan datang generasi A (alpha), yang lebih menyukai hal-hal yang disajikan dengan kemampuan multimedia, seperti infografis, videografis, yang sifatnya sederhana,” tuturnya.

Syamsuddin menambahkan, secara konseptual, generasi ini bukan lagi pembaca non-aktif, otak mereka terlatih memainkan games, sehingga efeknya generasi baru itu menginginkan penyajian data dalam bentuk aplikasi. “Mereka ingin mendapatkan semua dalam satu aplikasi, yang sederhana tapi disajikan dalam satu platform, kompleks, karena mereka lebih mengerti ketimbang diberikan teks panjang,” jelasnya.

Dengan demikian, praktik jurnalistik data itu membutuhkan tiga hal, pertama dibutuhkan penyajian jurnalistik dengan menggunakan kemampuan algoritma infografik, videografik, bahkan aplikasi program interface. Kedua kemampuan mengolah dan menganalisis data yang diadobsi dan dikembangkan melalui ilmu sosial, dan terakhir kemampuan jurnalis yang pernah ada dan kemudian diperbaharui dengan visual naratif digital. (*)

Bottom ad

Leave a Reply