Datu Museng dan Maipa Deapati (100)

COVER (By Hilman)
Top Ad

INIPASTI.COM – Joa yang mengawal pekarangan dan pintu rumah, mengadakan perlawanan Sengit. Tapi mereka yang cuma berbilang puluhan itu tak kuasa membendung serangan yang demikian banyaknya. Beberapa menit saja, joa yang setia itu telah tersapu bersih.

Ketika Datu Museng melihat musuh berdesak-desakan di anak tangga, ia menghunus keris pusaka Matatarampanna, lalu melompat ke depan. Gerakannya cepat bagai halilintar yang menyambar. Sekelebatan saja, ia telah berada di tengah-tengah musuh yang memadati anak tangga. Keris pusaka langsung ditusukkan bertubi-tubi ke dada lawan yang berdiri di depan dan kaki yang kuat perkasa diterjangkan sekuat tenaga ke ulu-hati musuh di kiri-kanan.

Inline Ad

Mayat-mayat segera berkaparan. Darah yang memancur menyirami tangga merah memuakkan perasaan. Banyak musuh mati diterjang, jatuh pingsan lupa diri karena tersepak. Tak terbilang yang mati tertusuk keris dari amukan dahsyat sang Datu nan sakti. Bagai menetak ranting, merambah semak-belukar layaknya prilaku Datu Museng.

Di depan rumah, di ujung anak tangga terbawah, berkaparan mayat bersusun tindih dari manusia berkulit putih dan coklat yang bercampur-baur.

Ada satu-satu di antara mereka yang masih menggelepar laksana ayam yang baru disembelih. Ada yang menangis mengerang memanggil ibu, menahan sakit perih luka parah.

Yang belum sempat menaiki tangga, buru-buru angkat kaki menyingkir dari serangan Datu Museng yang bagaikan topan itu. Mereka lari kucar-kacir ke arah kampung Maloku. Bunyi langkah mereka yang sebanyak itu bergemuruh laksana derap kawanan gajah yang lari ketakutan.

Debu mengepul ke angkasa bercampur baur dengan asap mesiu dari tembakan serdadu yang mencoba meletup-letupkan bedilnya ke belakang sambil lari. Di kampung Meloku, dimana pasukan induk berada, mereka segera bergabung dan bertahan.

Maka berhujananlah peluru bedil ke badan Datu Museng. Tapi, haram tak satu pun yang berhasil melukai kulitnya. Ia terus mengamuk laksana setan yang haus darah. Beberapa orang musuh yang lari ke timur diburunya dan ditikam habis. Begitu juga yang lari ke selatan, dikejar dan tidak diberi ampun.

Pendek kata, dimana ada musuh melintas dalam pandangan, pasti dihabisinya. Ia akan membunuh sebanyak-banyaknya hari ini, sebelum hidupnya akan berakhir pula. Ya, ia akan membalaskan dendam isterinya yang kini menantinya di tempat lain.

Pimpinan penyerangan kemudian mencari siasat. Dipaksanya Datu Museng menuju pantai Losari, dengan jalan mengumpankan beberapa serdadu yang kemudian dikejarnya ke arah pantai. Musuh lalu ramai-ramai mengepungnya. Karena agak lelah, Datu Museng berlindung pada sebuah perahu yang kebetulan ada di pinggir pantai. Di sana ia menembaki musuh yang coba mendekat.

Bersambung…

Bottom ad