Datu Museng dan Maipa Deapati (104)

COVER (By Hilman)
Top Ad

INIPASTI.COM – Datu Maseng heran mendengar ia dituduh sebagai perusuh dan pemberontak. Rupanya karaeng Galesong tidak mengerti duduk soal yang sebenarnya. Tapi baiklah, ia akan menerima kenyataan ini sebagaimana adanya, Ia tidak punya kesempatan lagi untuk menerangkannya. Bahkan ia merasa tak ada gunanya hal itu diterangkan, ia tokh tak butuh belas kasihan. Bukankah ia harus menyusul isterinya nanti seperti yang telah dijanjikannya?

Dengan menarik nafas panjang, Datu Museng manerjang yang disambut dengan tikaman keris dan tombak oleh kawanan tubarani. Keris pusaka Mata-tarampanna kembali menyambar ke kiri dan kanan. Sepak-terjang kedua kekuatan yang berlawanan ini menggemuruh membuat ruangan tengah berderak-derak laksana akan rubuh rumah dibuatnya.

Inline Ad

Akhirnya Karaeng Nyikko ri Kanaeng tertikam lambungnya dan jatuh berdebam menetang maut. Kemudian menyusul jatuh tersungkur Karaeng Mangemba ri Dengga, menggelapar maregang jiwa.

Melihat amukan Datu Museng itu, I Bage Daeng Majjanji melarikan diri. Disusul Karaeng Lewa ri Popo dan I Taga ri Mangindara. Mereka meninggalkan tempat pertarungan dan cepat-cepat menuruni tangga. Entah karena takut, atau bermaksud mencari bantuan.

Kini Datu Museng dan Karaeng Galesong berhadap-hadapan. Kedua orang sakti itu saling mengincar. Laksana dua ekor ayam jantan yang intip mengintip, mencari kelemahan lawan.

Tiba-tiba Karaeng Galesong menyerang dengan keris terhunus dan kedua orang perkasa itu terlibat dalam pertarungan seru. Tikam menikam dan hempas menghempas, laksana kerbau yang berlaga mati-matian mamperebutkan betina.

Menghadapi serangan bernafsu Karaeng Galesong, Datu Museng hampir lupa bahwa ia berkelahi dengan tubarani kompeni yang satu ini sekedar untuk melemahkannya saja, tidak untuk dibunuh. Untungnya ia cepat sadar, lawan ini tak boleh dianggapnya sebagai musuh yang sebenarnya.

Dengan lebih banyak menggunakan jotosan daripada tikaman. Datu Museng memperhebat serangannya, membuat Karaeng Galesogg larat mundur ke pelataran rumah. Serangan Datu Museng yang semakin gencar, memaksa tubarani utama kompeni itu tak mampu bertahan secara sempurna. Ia terus mundur dan turun tangga sambil bertahan sekuat tenaga. Ketika sampai di tanah, ia melarikan diri ke sebelah timur, dikejar Datu Museng setengah hati. Karena agak lelah, panglima perang Sumbawa itu menghentikan pengejarannya, dan mundur sambil mengatur nafasnya lagi.

Ketika melihat pengejarnya berhenti, Karaeng Galesong segera memerintahkan lasykar pimpinannya yang ikut lari, agar kembali melakukan serangan. Mereka dibantu serdadu kompeni yang berdatangan dari segenap penjuru.

Bersambung…

Baca Juga: Datu Museng dan Maipa Deapati (103)

Bottom ad