Datu Museng dan Maipa Deapati (108)

COVER (By Hilman)
Top Ad

INIPASTI.COM – Setelah putus kata hatinya, ia berdiri perlahan-lahan mendekati sang puteri. Dengan mengerahkan segala kekuatannya diangkatnya tubuh Maipa Deapati di atas kedua lengannya yang kokoh untuk dibawa ke usungan yang sudah tersedia di bawah rumah dekat tangga.

Tetapi sebagai manusia biasa, ia tak tahan pula untuk melihat leher jenjang Maipa yang dikabarkan sangat indah itu. Maka selagi tubuh sang puteri di dalam bopongannya, salah satu tangannya secara usil membuka setangan merah yang melilit tebal di leher itu.

Inline Ad

Ketika kain terlepas, menyemburlah darah kental menerpa wajah I Tuan Jurubahasa. Wakil Tumalompoa ini amat terkejut laksana disambar petir. Wajahnya pucat-pasi dan seperti ada sesuatu yang memukul jantungnya keras sekali. Tulang-tulangnya laksana seperti lepas dari persendian, badannya lemas tak kuat menahan rasa ngeri dan takut yang muncul mendadak, dan iapun jatuh berdebam ke lantai.

Ia jatuh bukan karena pingsan tak sadarkan diri, tetapi jatuh untuk dijembah maut. Jantungnya ternyata tak berdenyut lagi. Darahnya yang tadi bergejolak penuh gairah, kini berhenti beredar. Dan tubuhnya yang menjadi mayat itu, tiarap di atas permadani, dihimpit tubuh Maipa Deapati.

***

Karena lama menunggu, para pengiring mulai kesal di anak tangga. Dan setelah yang dipertuan mereka tak muncul-muncul juga, mereka mulai curiga. Jangan-jangan I Tuan Jurubahasa mendapat kesulitan. Siapa tau di atas rumah masih ada Joa yang mengawal puteri Maipa Deapati, dan….

Ah, kepala pengawal tak tahan menerka-nerka lebih lama. Bersama lima orang prajurit, ia bergegas naik kerumah dan langsung ke ruang tengah. Alangkah terkejutnya mereka, ketika menyaksikan tuannya tiarap di atas Permadani, dihimpit tubuh sang puteri.

Buru-buru diperiksanya dua orang yang tergeletak di lantai itu. Ternyata dua-duanya sudah meninggal. Tanpa sadar, kepala pengawal berteriak minta tolong, dan seluruh pengawal dan pemikul usungan menghambur ke atas rumah dengan keris terhunus. Pikir mereka, tentu musuh telah mencelakai yang dipertuan dan pengawal yang naik belakangan.

Mereka berdesak-desakan hendak dahulu-mendahului. Ketika tiba di ruang tengah, mereka menyaksikan pemandangan yang mengerikan dan tak masuk akal. Segenap ruangan segera digeledah, tapi tak seorangpun musuh yang mereka jumpai.

Mereka kemudian kembali kepada kedua mayat itu dan sama mematung memikirkan kejadian yang jauh dari sangka dan kira-kiranya. Tak seorangpun dari mereka yang mengerti apa yang sesungguhnya terjadi.

Akhirnya, salah seorang dari mereka akhirnya memberi perintah supaya mayat I Tuan Jurubahasa diangkat ke bawah, dinaikkan keusungan dan diantar kembali menghadap I Tuan Tumalompoa.

Demikianlah itu terjadi, usungan yang sedianya membawa Puteri Maipa Deapati, kini dibawa kembali dengan mengangkut mayat Jurubahasa di atas usungan indah-permai itu?

Matanya membelalak, mulutnya menganga. Ia sangat heran, tapi tak kuasa mengeluarkan sepatah kata pun. Hatinya hancur total, semangatnya terpukul hebat. Tak disangkanya korban yang demikian banyak jatuh, hanya berakhir sia-sia dan demikian menyedihkan.

Sejak saat itu, Tumalompoa terus diamuk gundah-gulana, hatinya risau berkepanjangan dan selalu murung termenung. Ia rasanya bias rela mengerti tentang malapetaka itu. Mengapa kekuasaannya yang demikian besar dan selama ini mencapai tujuannya, kini menderita kegagalan secara amat hina.

Dan ketika berhari-hari, bahkan berminggu-minggu ia terus didera masygul dan rasa bersalah itu, ia akhirnya tiba pada satu kesimpulan. Datu Museng dan Maipa Deapati, adalah dua anak manusia yang amat istimewa, tak ada taranya di seantero jagat. Mereka telah dirajut oleh paduan jiwa yang satu dan hakiki yang tak mungkin dipisah.

Dan kisah cinta-kasih yang suci dan agung ini telah dilukis sejarah……

TAMMAT

Baca juga: Datu Museng dan Maipa Deapati (107)

Bottom ad