INIPASTI.COM – Kuatkanlah hatimu, teguhkan iman menghadapi cobaan ini. Agar kuat dan teguh pula hati dan iman anak kita menjalankan tugas menantang musuh sekuat apa pun. Sekalah airmata adinda dan ajaklah Maipa Deapati bergegas, segera bersedia-sedia untuk berangkat. Persiapan sudah mustaid, bahtera kenaikan telah lama mengambang terapung. Rakyat sudah berjejal di pantai menanti ingin mengucap kata selamat-jalan. Waktu yang baik sudah hampir tiba, saat matahari raja alam muncul di tubir langit ufuk timur. Saat itulah ketika yang baik untuk berangkat menjajal tujuan.”
Ketika Maggauka mengakhiri nasehatnya, Datu Museng muncul di ambang pintu istana. Maggauka kemudian berkata lagi: “Nah, Datu Museng sudah datang menjemput Maipa”.
Datu Museng melangkah masuk ruangan dengan takzim ke dekat kaki Maggauka den duduk bersila sambil berucap:
“Kini kami akan berangkat, tuanku. Kami akan berangkat membawa nama tuanku, nama negara dan, rakyat yang kita cintai. Restu tuanku dan ratu juga yang kami harapkan. Mudah-mudahan kami selamat pulang kembali ke tanah air”.
Ia lalu berpaling kepada Maipa Deapati yang masih berlutut di kaki ibunda Permaisuri.
“Dinda Maipa, marilah minta izin pada Maggauka. Sang Matahari sudah hampir muncul. Jangan sampai kita didahului menjelajah tanah menjamah air. Pesan kakek jangan dilupakan, petuah Maggauka dipegang teguh. Bergegaslah sedikit, agar kita berangkat sekarang juga”.
Mendengar kata suami junjungannya, Maipa Deapati melepaskan tangan dari lutut ibundanya. Dengan menghapus air mata ia pergi mendapatkan ayahandanya, berlutut memegang kakinya.
“Ayahanda, izinkan nanda berangkat meninggalkan Ayahanda dan ibunda yang kami cinta dan sayangi”.
“Baiklah anakku, berangkatlah kalian berdua dengan nama Tuhan, dan kembalilah dengan selamat sejahtera tak kurang suatu apa”.
Perlahan-lahan Maggauka membimbing tangan anaknya dan mengajak berdiri. Permaisuri yang kini sudah berada dekat suaminya, kemudian berkata; “Semoga Tuhan menjelmakan maksud kita bersama dan kalian kembali dengan selamat di daratan Sumbawa”, Permaisuri berhenti bertutur, Seakan kehilangan kata-kata yang akan diucapkan.
Bersambung…
Baca juga: Datu Museng dan Maipa Deapati (61)










