Datu Museng dan Maipa Deapati (91)

COVER (By Hilman)

INIPASTI.COM – “Usaha satu-satunya ialah membela diri sambil menyerahkan nasib pada Ilahi Rabbi. Kita sudah dalam kurungan adinda. Mundur tak dapat, maju pun tak mungkin. Membela diri sampai maut menjelang, itulah jalan Yang harus kita tempuh. Balik kembali ke Sumbawa, jika kita mau memang bisa. Tapi itu berarti mencorengkan arang ke wajah kita sendiri. Nama kita akan ternoda sepanjang masa. Ayahanda Maggauka yang telah menumpukkan harapannya pada kita, Juga akan menanggung malu. Bukankah aku telah bersumpah di hadapan beliau yang disaksikan seluruh anggota adat bahwa akan tak akan pulang jika tugas tidak terlaksana dengan baik? Ya, malah aku telah bersumpah, akan berkubur di daratan Makassar jika maksud yang dikandung tak kesampaian. Sumpah adalah sumpah, tak boleh dilanggar atau dikhianati, adinda. Kukira adinda juga tak rela jika aku menjadi pengecut dan pengkhianat. Dunia ini hanya tempat parsinggahan sementara, tempat manusia diuji oleh Tuhan, apakah kita sanggup berbuat kebajikan atau hanya menumpuk dosa. Dan kita termasuk manusia biasa yang tidak akan kekal hidup di dunia ini. Hidup abadi di akhirat, di taman firdausi, sorga nilakandi bagi manusia yang sanggup berbuat kebajikan. Sedang bagi manusia yang berfoya-foya dan melupakan Tuhan, akan mendapat ganjaran maha dahsyat di kemudian hari. Kukira dinda mengerti apa yang kumaksudkan”.

Baca Juga:  Datu Museng dan Maipa Deapati (24)

“Ya, aku mengerti yang kanda maksudkan. Sungguh luas pandangan kanda. Aku bangga denganmu. Jika takdir Ilahi sudah akan berlaku, adinda tak akan menolak” kata Maipa sambil mengusap-usap dada suaminya.”

Inline Ad

DISERBU

Setiba suro Daeng Jarre di benteng den menyampaikan segala tutur Datu Museng dan putri Maipa Deapati kepada Tumalompua, tak terkira murkanya gubernur Belanda itu. Ia murka karena tak dituruti kehendaknya.

Ia juga merasa malu karena Datu Museng berani menentang perintahnya. Hatinya sangat sakit akibat diejek dengan kata-kata yang menusuk perasaan. Selama hidupnya, ia tak pernah mendapat perlakuan semacam itu. Baru kali ini ia ditantang terang-terangan oleh seorang pribumi yang secara kasar tak punya kekuatan apa-apa, kecuali rasa harga diri dan sifat kejantanan yang berlebihan.

Baca Juga:  Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 4 (2)

Ia mundar-mandir menggigit bibir, meremas-remas tangan menahan amarah dan rasa jengkel yang amat sangat. Keringat dingin membasahi tubuh-nya. Ia tak menyangka. gertaknya kena imbang. Dan terbayanglah pertumpahan darah di ruang matanya.

“Jurubahasa…! Jurubahasa…! teriaknya tanpa dapat lagi membendung rasa gelisah. Ia lalu duduk di kursi menunggu kedatangan bawahan kepercayaannya itu yang kemudian datang tergopoh-gopoh.

“Jurubahasa…, kini tiba waktunya kita bertindak!” kata Tumalompoa dengan mata yang berwarna merah.”

“Daeng Jarre gagal Iagi, tuan besar? tanya I Tuan Jurubahasa kecut. “Ya, gagal lagi. Datu Museng memang tarlalu keras kapala. Kita harus menghajar karbau liar itu supaya tahu diri. Suruh bersiap menyerang sahabat-sahabat kita Karaeng Galesong, Bolebolena Tallo, Pallakina Mallengkeri, Passikkina Parangtambung. I Bage Daeng Majjanji, Karaeng Lewa ri Popo. I Taga ri Mangindara, Karaeng Nyikko ri Kanaeng dan tubarani pilihan lainnya. Jangan lupa sampaikan salamku pada mereka. Katakan, Datu Museng yang hendak memberontak terhadap kedaulatan kita harus ditumpas secepat mungkin, jangan sampai dapat memberi angin bagi orang-orang Gowa !”

Baca Juga:  Datu Museng dan Maipa Deapati (52)

“Hamba akan laksanakan perintah tuanku!” sambut I Tuan Jurubahasa, lalu menundukkan kepala. Tak berani menentang tatapan mata Tumalompoa yang sedang menyorot tajam.

Bersambung…

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad