Datu Museng dan Maipa Deapati (92)

COVER (By Hilman)

INIPASTI.COM – “Daeng Jarre gagal Iagi, tuan besar? tanya I Tuan Jurubahasa kecut. “Ya, gagal lagi. Datu Museng memang tarlalu keras kepala. Kita harus menghajar karbau liar itu supaya tahu diri. Suruh bersiap menyerang sahabat-sahabat kita Karaeng Galesong, Bolebolena Tallo, Pallakina Mallengkeri, Passikkina Parangtambung. I Bage Daeng Majjanji, Karaeng Lewa ri Popo. I Taga ri Mangindara, Karaeng Nyikko ri Kanaeng dan tubarani pilihan lainnya. Jangan lupa sampaikan salamku pada mereka. Katakan, Datu Museng yang hendak memberontak terhadap kedaulatan kita harus ditumpas secepat mungkin, jangan sampai dapat memberi angin bagi orang-orang Gowa !”

“Hamba akan laksanakan perintah tuanku!” sambut I Tuan Jurubahasa, lalu menundukkan kepala. Tak berani menentang tatapan mata Tumalompoa yang sedang menyorot tajam.

Inline Ad

“Kali ini kau harus ikut sababat-sahabat kita menyerang Datu Museng, supaya dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri, kepalanya diceraikan dari tubuhnya. Aku tak mau mendengar berita orang lain yang kau sampaikan padaku. Ya, aku ingin kau menyaksikan sendiri peristiwa bersejarah itu. Kalau perlu kau harus turun tangan membantu sahabat-sa habat kita. Dan kau pulalah yang harus membawa kemari Maipa Deapati. Ingat, tidak boleh orang lain. Inilah perintahku, berangkatlah sekarang juga. Atur segala persiapan penyerangan sebaik mungkin, jangan sampai gagal. Aku tak mau mendengar penyerangan terhadap Datu Museng yang hanya dikawal beberapa orang joa itu gagal!” kata Tumalompoa sambil melontar pandang ke tempat lain.

Baca Juga:  Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 7 (5)

“Baik tuanku, aku berangkat sekarang”. Jurubahasa minta diri, lalu melangkah meninggalkan kamar Gubernur Belanda itu.

Kini tinggal yang dipertuan di Makassar di kamarnya. Ia tetap duduk di kursi memandang lurus ke depan di jendela, di mana alam luas nampak terbentang di langit yang sedang cerah bening. Sesekali awan tipis yang berarak memaksa pendangannya membuntuti awan yang semakin menjauh. Tanpa sadar khayalnya ikut menerawang, mengelana ke masa depan yang akan dihadapinya. Terbayang kebahagiaan hidup sebagai orang yang berkuasa, kenikmatan sorga yang diperolehnya di samping Maipa Deapati yang telah menggetarkan segala tali biola hayatnya sejak lama.

Baca Juga:  Datu Museng dan Maipa Deapati (43)

Ingatannya melayang terus, sebentar ke alam tanah tumpah darahnya negeri Belanda. Kemudian kembali lagi ke Makassar, tempat ia berkuasa sekarang. Perjuangan suka duka menegakkan tanah-tanah jajahan dan mengibarkan panji-panji negerinya di mana-mana.

Kini ia akan meletupkan lagi perang. Perang kepada Datu Museng, panglima perang sakti dari Sumbawa. Demi nafsu binatangnya dan demi kesentosaan tanah airnya, tak terpikir lagi bahwa tindakan-tindakannya itu tidak benar. Ia malah berpikir tindakan-tindakan yang akan dilakukannya nanti benar adanya, dan namanya akan semakin harum juga di tanah leluhurnya.

Baca Juga:  Datu Museng dan Maipa Deapati (37)

Bersambung…

Baca juga: Datu Museng dan Maipa Deapati (91)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad