INIPASTI.COM – “Adindaku sayang…. tenanglah menunggu saat-saat yang bersejarah itu. Mereka tidak akan tiba kemari jika belum waktunya. Kita pun tak dapat bertindak apa-apa jika belum sampai waktunya. Sabarlah adinda, nasib tetap tak akan barubah. Takdir kita yang telah diberikan Tuhan sejak lahir, tak mungkin ditolak, tak dapat disanggah. Tenanglah seperti biasa. Berbuatlah seakan-akan tak ada apa-apa yang akan terjadi. Biarkan mereka ribut bersorak, riang-gembira laksana anjing yang sedang menghadapi paha ayam. Ya, biarkanlah. Itu adalah hak mereka. Jangan hiraukan juga, karena itulah watak serdadu sewaan, tubarani-tubarani yang hidup di ujung telunjuk, yang keberaniannya karena terdorong upah dan sanjungan. Mereka bergerak bukan kehendak hati, bukan imbauan kesucian batin. Mereka cuma boneka permainan, dipermainkan oleh tangan-tangan najis dari manusia-manusia terkutuk. Adinda, biarlah mereka Kemari. Karena memang hajat dan tujuannya demikian. Tak dapat ditolak, tak mungkin dilarang. Kendati kita bergegas bercepat-cepat, tak ada juga gunanya. Karena mereka datang pada waktunya, tiba pada saat nyawa kita akan terbang ke alam nirwana. Apabila saat itu tiba, maka tak ada yang dapat menangguhkannya sesaat pun. Yang perlu kita ingat hanyalah kebesaran Ilahi dan menyerahkan padaNya, karena di tangan Tuhan kita berada”.
Mendengar kata suaminya itu, Maipa Deapati diam termenung, tafakur di pangkuan suami kesayangan. Sepintas lalu memang hatinya jadi cemas menghadapi bahaya yang telah datang menyongsong. Tapi jika dipikir-pikir apa kata suaminya, tabahnya datang menumpuk ke hati. Imannya semakin tebal dalam dada. Kini ia rela berkorban bersama suami Junjungannya untuk terbang ke alam nila kandi dan hidup kekal abadi berdua di sana. Tiada yang mengusik, tiada yang mengganggu.
Dalam pada itu serdadu kompeni dan para tubarani sahabat Tumalompoa mulai hergerak lagi menuju kampung Maloku, Tiba di sana, mereka berhenti lagi menunggu berita dari pengintai bagaimana gerak-gerik Datu Museng setelah mendengar kedatangan mereka yang sebanyak itu.
Mereka ingin agar derap langkah dan sorak-sorai gemuruh lasykar dapat melemahkan semangat Juang panglima perang yang terkenal keberaniannya kemana-mana itu, supaya dengan mudah menyerah tanpa syarat. Mereka mengerti jika perang urat-syaraf ini tak berhasil, pasti banyak di antara mereka yang menjadi korban, tamat riwayat hidupnya di ujung keris pusaka sang Datu. Ya, untuk menangkap atau membunuhnya, mereka harus menyediakan nyawa sebagai tebusannya. Jika tidak, jangan harap pula usaha akan berhasil.
Sesudah mendapat keterangan bahwa di sana keadaan tetap tenang, tak nampak kesibukan sedikit pun, seperti tak dihiraukan kedatangan mereka yang berbilang ribuan itu, ada yang merasa ciut perasaannya. Ada pula marahnya serentak mendidih karena merasa dipandang enteng, dipandang sebagai pasukan kanak-kanak yang tak perlu ditakuti.
Bersambung…










