INIPASTI.COM – Mereka ingin agar derap langkah dam sorak-sorai gemuruh lasykar dapat melemahkan semangat Juang panglima perang yang terkenal keberaniannya ke mana-mana itu, supaya dengan mudah menyerah tanpa syarat. Mereka mengerti jika perang urat-syaraf ini tak berhasil, pasti banyak di antara mereka yang menjadi korban, tamat riwayat hidupnya di ujung keris pusaka sang Datu. Ya, untuk menangkap atau membunuhnya, mereka harus menyediakan nyawa sebagai tebusannya. Jika tidak, jangan harap pula usaha akan berhasil.
Sesudah mendapat keterangan bahwa di sana keadaan tetap tenang, tak nampak kesibukan sedikit pun, seperti tak dihiraukan kedatangan mereka yang berbilang ribuan itu, ada yang merasa ciut perasaannya. Ada pula marahnya serentak mendidih karena merasa dipandang enteng, dipandang sebagai pasukan kanak-kanak yang tak perlu ditakuti.
Di antara mereka yang ciut hatinya. ada yang lemah sudah semangatnya untuk maju ke medan laga. Yang ciut nyalinya, yakin Datu Museng bukan sembarang musuh, tapi musuh perkasa tiada tandingan. Mereka yakin pula, Datu itu diam tak sembarang diam, tapi karena mereka lebih besar dan kuat dari mereka.
Ketika matahari mendekati garis tengah perjalanannya, serdadu dan tubarani kompeni membagi diri. Kemudian maju ke kampung Galesong di mana rumah Datu Museng terletak. Mereka lalu mengadakan pengepungan dari segenap penjuru, dan perlahan-lahan mendekati rumah itu.
Maipa Deapati yang sejak tadi mengintip keadaan sekitar rumah melalui celah jendela, menyampaikan pengepungan itu kepada Suaminya.
Datu Museng meraih isterinya yang bercerita sambil mendekat itu. Dipeluknya di atas haribaan. Dibelai-belai rambutnya yang panjang menghitam ikal dan menyebarkan harum semerbak. Diciumnya penuh mesra, kemudian berbisik.
“Adindaku,.., apalah kehendakmu sekarang. Katakanlah agar kanda bertarung tiada ragu, menyabung nyawa tiada bimbang. Waktu yang dinanti-nantikan telah tiba. Kanda sudah siap turun ke medan laga. Katakanlah segera apa kehendakmu, sayang!” Ditatapnya wajah isterinya dalam pangkuan sambil tangan masih tetap membelai-belai rambutnya, seakan tak akan pernah puas mengusapnya.
“Kanda junjunganku… Jangan ragu tentang ketulusan hati adinda. Aku rela pergi mendahului, merintis jalan membuka pintu tempat kita berdua di seberang. Di tempat kekal abadi, dimana tidak satu pun makhluk datang menggoda, mengiri bersakit-hati menyaksikan kebahagiaan kita. Kakanda, sudah terbayang kampung halaman, rumah indah tiada bertara. Surga firdausi janji nabi besar Muhammad Sallallahu Alaihissalam junjugan kita telah tercium keharumannya. Dinda tak ragu lagi menuju ke tempat yang sudah dijanjikan, di mana hidup akan tenang dan abadi !”
“Adinda sayang… Jika sudah kuat kukuh hati dan keyakinanmu, mari relakan dirimu mati. Karena dengan jalan itulah baru kita sampai ke seberang ke tempat alam abadi!”
Bersambung…










