Datu Museng dan Maipa Deapati (97)

COVER (By Hilman)
Top Ad

INIPASTI.COM – “Kanda junjunganku… Jangan ragu tentang ketulusan hati adinda. Aku rela pergi mendahului, merintis jalan membuka pintu tempat kita berdua di seberang. Di tempat kekal abadi, dimana tidak satu pun makhluk datang menggoda, mengiri bersakit-hati menyaksikan kebahagiaan kita. Kakanda, sudah terbayang kampung halaman. rumah indah tiada bertara. Surga firdausi janji nabi besar Muhammad Sallallahu Alaihissalam junjungan kita telah ter-cium keharumannya. Dinda tak ragu lagi menuju ke tempat yang sudah di janjikan, di mana hidup akan tenang dan abadi !”

“Adinda sayang… Jika sudah kuat kukuh hati dan keyakinanmu, mari relakan dirimu mati. Karena dengan jalan itulah baru kita sampai ke seberang ke tempat alam abadi!”

Inline Ad

“Mati? Oh, Datuku, dinda tak akan bimbang pada mati, tak akan ragu pada maut. Sebab hidup di dunia memang singkat tak abadi. Apalagi jika cuma hidup jadi tertawaan dan ejekan sepanjang masa. Datu, tak rela kulitku ini disentuh orang lain, apalagi orang yang berkulit putih berbelang mata, berkopiah lebar dan beralas kaki kulit kerbau. Lebih baik kulitku ini hancur, tubuh terbujur dihimpit tanah dimakan cacing. Biar mereka yang gila memeluk tubuh merangkul mayat yang tak berarti apa-apa lagi. Agar mereka mengerti bahwa kekuasaan duniawi yang tidak abadi itu tak akan dapat menaklukkan keengganan seseorang yang kuat iman di dada. Datu suamiku sayang… Laksana secepat kilat kehendak adinda, karena rinduku pada Bahtera (Tuhan) tak terkira lagi !”

“Kalau sudah demikian teguh maksud di hati, marilah adinda sayang” kata Datu Museng sambil merebahkan kepala isterinya ke pangkuannya, dan berbisik lagi.

“Ah, intanku, buah hati sayang. Inilah jalan satu-satunya untuk menyeberang ke tempat abadi…”

Tapi sebelum keris pusaka tercabut dari sarungnya, Maipa Deapati berkata: “Kanda, izinkan adinda mengambil air sembahyang…!” Ia lalu bangun dan menuju ruang belakang mengambil air sembahyang. Setelah salesai, ia kembali tidur di pangkuan suaminya.

“Datu, pejamkan matamu… Jangan tatap wajah adinda yang tiada kekal, tiada abadi ini. Nanti kakanda tertipu dengan wajah yang akan hancur dimakan zaman. Inilah tanda kasih dan cintaku padamu. Jangan gagal…!”

Hati Datu Museng serasa hancur berkeping-keping ketika mendengar kata-kata isterinya. Namun ia sadar, tak ada jalan lain. Dicabutnya keris pusaka Matatarampanna, kemudian berkata pilu:

Adindaku sayang
Jangan gentar menentang maut
Ragu bimbang pada mati
Nanti sesal hidup di akhirat
Dunia tertawa kian menjadi

Dengan tersenyum Maipa menyambut, katanya:
Kanda buah hati sayang
Tidak kugentar jiwa melayang
Ragu bimbang pada mati
Sebab perahu sudah kunaiki
Sudah berputar kemudi di tangan
Kuingin segera mengambil haluan
Menuju maksud tempat tujuan

Bersambung…

Bottom ad